Alapakguru: Di atas Awan Cumullus Bersama GA 311

Di atas Awan Cumullus Bersama GA 311

Ala Pak Guru | 3/04/2018 11:17:00 am |

Tuhan tak mengada-ada ketika menggerakkan kaki makhluk-Nya melangkah. Apa yang dilakukan makhluk-Nya telah menjadi perencaanan yang matang. Semua rahasia itu telah dituliskan di buku diri setiap penciptaan-Nya.

“Pak berangkat jam berapa?” Tanyaku pada Pak Suparman, salah satu guru SD yang tinggal di kota soto Lamongan.
“Aku ikut saja, Pak. Bagaimana baiknya saja.” Jawab Pak Suparman dengan nada pasrah.
“Baik, Pak. Kalau begitu aku lihat-lihat jadwal penerbangan dulu,” sembari menelusuri informasi di dunia maya. Aku juga minta bantuan saudaraku yang tinggal di Sidoarjo untuk membelikan tiket pesawat yang pas dengan jadwalku. Aku harus memperhitungkan lamanya perjalananku ke Juanda dan Soekarno-Hata ke Days Hotel and Suite.
***
Hari Selasa 27 Februari 2018 pukul 10.05 burung besi Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA311 telah siap mengantarkanku bersama Pak Suparman ke Jakarta. Kami berdua duduk di seat samping jendela bersebelahan di kabin kelas ekonomi. Wajah sumringah tak henti-hentinya terpancar dari muka kami. Mesin garuda yang sejak tadi telah menderu-deru menandakan pesawat akan segera lepas landas. Tak berapa lama papan monitor di depanku tertulis sedang ada pengumuman. Headset yang terpasang di kedua telingaku terdengar suara yang sangat ramah sedang menginformasikan kepada semua penumpang agar mematuhi aturan keselamatan.
“Tuhan, aku bersyukur dengan semua ini. Tak pernah terbersit meski sedikit saja dapat naik burung besi yang menjadi kebanggaan negaraku ini,” gumamku dalam hati. Meski ini bukan kali pertama tetap saja aku merasakan istimewa.
Sabuk pengaman telah melingkar di pinggangku, headset telah menempel di kedua telingaku, Pesawat GA 311 Air Bus ini telah membawaku mengangkasa menerobos awan putih. Semua tampak jelas dengan kondisi cuaca yang cerah ini. Kini aku mulai berada di atas ketinggian Kota Surabaya. Perlahan pemandangan Kota Surabaya mulai menjauh dari pandanganku berganti dengan hamparan cumulus seperti sulaman permadani putih. Cirrocumulus dan altocumulus tak kalah mengagumkan. Di balik jendela ini aku tak henti-henti memandanginya sembari mengulang kata subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallahu Allahu akbar.
“Ingin bersujud di bawah sana. Tuhan, begitu besar keagungan-Mu dengan menciptakan hal sedemikian indah dengan kuasamu,” pikirku pun mengangkasa bersamaan menikmati keindahan aneka rupa awan-awan yang tak pernah ada habisnya. Sesekali burung besi ini merendah, tampak bengawan solo meliuk-liuk dengan warna kecokelatan menandakan tengah menunjukkan kegusarannya.
“Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada anak-anak yang tengah merajut mimpi-mimpinya di sekolah-sekolah pinggiran bengawan,” harapku dengan cemas. Maklum saja beberapa hari yang lalu temanku baru saja menerima surat tugas menjadi Kepala Sekolah di tempatkan di sekolah pinggiran Bengawan Solo yang menjadi langganan banjir saat debit air bengawan meningkat dengan cepat. Ia bercerita melalui gawai kalau sekolahnya kebanjiran setinggi dada orang dewasa. Aku hanya bisa menghiburnya dengan mengharap agar tetap bersabar dan memberi semangat dalam mengantarkan anak didiknya meraih masa depan.
Pak Suparman sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan, ia bercerita baru saja di daerah Lamongan ada seorang anak sekolah yang tenggelam terbawa arus Bengawan Solo. Ya Allah, hatiku hanyut dalam kesedihan. “Berikan tempat di surga-Mu dan sabarkan hati keluarganya,” doaku dalam diam.
Aku jadi teringat, Kang Yoto pernah menyampaikan pesan pentingnya anak-anak yang berada di pinggiran Bengawan Solo diajari cara berenang yang baik. Ada dua alasan pentingnya anak-anak di pinggiran Bengawan Solo dapat berenang. Pertama sebagai alasan fungsional, jika anak-anak dapat berenang dengan baik tentu dapat mengurangi bahaya terhanyut jika terjadi banjir. Kedua alasan kontekstual, tidak dapat dipungkiri takdir anak-anak di Bojonegoro yang berada di daerah pinggiran Bengawan Solo harus bisa mengeksplorasi keterampilan berenangnya agar kelak lahir anak-anak berprestasi di bidang renang. Sudah diakui Kang Yoto sangat pandai memberikan motivasi. Di dalam segala keadaan kita harus harmoni dengan kondisi alam yang merupakan takdir Tuhan. Banjir tentunya bukan hal tidak bisa dihindari, tapi begitulah faktanya. Bojonegoro merupakan daerah langganan banjir.    
***
Kini aku berada di atas laut jawa, tampak hijau kebiru-biruan. Tuhanku maha kaya, ada trilyunan ikan di bawah sana. Semua tersebar luas di laut jawa. Semua bebas mengambilnya kapan saja asal raganya masih kuat mencari dan menemukannya. Tugas kita menjaga dan merawat agar kelak anak-anak cucu kita juga dapat menikmati berkah alam ini.
Satu jam sudah perjalananku mengangkasa di dalam kabin GA 311. Kini tampak pemandangan gedung-gedung menjulang tinggi seperti tengah menyambut kedatanganku. Suara merdu dari awak pesawat menyampaikan kepada penumpang bahwa beberapa menit lagi pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hata. Aku cepat-cepat mengabadikan pemandangan indah ini dengan kamera gawaiku.
“Jakarta…Jakarta…Jakarta…aku telah datang,” pekikku dalam hati. Tuhanlah yang melangkahkan kaki hingga tiba di kota ini. Aku hanyalah pelaku dari cerita yang digariskan-Nya. “Ayo Pak Parman kita duduk dulu di loby sebentar!” ajakku dengan pelan. Pak Parman menyambut dengan senyuman sembari bergegas menuju tempat duduk di loby Bandara Soekarno-Hata.      
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...