Alapakguru

Kenali Gaya Belajar Anakmu!

Ala Pak Guru | 8/09/2020 06:36:00 am | Be the first to comment!
Gaya belajar sepertinya bukan hal yang baru bagi insan pendidikan. Namun masih relevan untuk kita ulas kembali. Apalagi dalam situasi belajar dari rumah (BDR). Terlebih bagi para orang tua yang mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan para guru juga perlu mengingat kembali pentingnya mengetahui gaya belajar peserta didik. 
Pandemi covid-19 ini sepertinya membuka mata banyak pihak. Para orang tua yang sebelumnya "mungkin jarang" menemani anak-anaknya belajar di rumah karena sibuk bekerja. Saat ini menjadi kewajiban orang tua meluangkan waktu mendampingi anak-anaknya belajar. Begitu juga dengan para guru yang kurang memanfaatkan teknologi informasi. Saat ini juga para guru harus terbiasa dengan komputer jinjing dan gawai setiap hari untuk menyiapkan pembelajaran dan media yang akan digunakan. 

Saat ini, hal yang harus kita sadari bersama adalah proses belajar tidak boleh berhenti. Anak-anak tetap belajar meskipun dalam situasi dan kondisi darurat seperti saat ini. Para guru wajib mengupayakan pembelajaran tetap berlangsung dengan baik. Para orang tua juga hendaknya semakin peduli dengan anak-anaknya. 

Faktanya keluhan demi keluhan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya belajar di rumah bermunculan di media sosial. Ada juga tanggapan sumbing Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait banyaknya tugas-tugas yang diberikan guru kepada peserta didiknya. Hal ini, menunjukkan adanya permasalahan dalam proses pembelajaran selama ini. 

Para guru tidak boleh membiarkan permasalahan-permasalahan pembelajaran berlarut lagi. Permasalahan tersebut dapat disebabkan ketidaktepatan para guru dalam mengelola gaya belajar peserta didik. Juga, ketidakmengertian para orang tua terhadap gaya belajar anak-anaknya. 

Kita sudah mafhum, anak-anak sebagai peserta didik memiliki keunikan tersendiri. Mereka berbeda dengan orang dewasa. Antaranak pun berbeda satu dengan lainnya, termasuk gaya belajarnya. 

Setiap anak memiliki gaya belajar beragam. Ada anak yang memiliki satu gaya belajar yang menonjol. Ada juga anak yang memiliki dua gaya belajar yang menonjol. Bahkan ada yang memiliki tiga gaya belajar yang sama-sama dominan. 

Terkadang sebagian dari guru masih kesulitan mengetahui gaya belajar peserta didik. Sehingga belum memanfaatkannya untuk menyusun persiapan pembelajaran dan membuat media pembelajaran yang sesuai. Padahal, jika para guru memanfaatkan dengan baik dapat membantu efetivitas pembelajaran. 

Demikian juga para orang tua yang "marah-marah" pada saat mendampingi anak-anaknya belajar. Kemungkinan mereka memaksakan anak-anaknya "paham" lebih cepat pada materi pelajaran. Padalah cara yang disampaikan tidak sesuai dengan gaya belajar anak-anaknya. 

Ada beberapa cara untuk mengetahui gaya belajar peserta didik atau anak-anak. Salah satunya dengan mengamatinya saat belajar baik di kelas maupun di rumah. Kemudian gunakan pernyataan-pernyataan berikut ini dengan menjawab Ya jika sesuai dan Tidak jika tidak tampak. 


Gaya Belajar Visual
  1. Selalu duduk tegak dan melihat lurus ke depan atau matanya memandang ke atas  saat menerima informasi  (Ya/Tidak)
  2. Jika berbicara terkadang cepat  (Ya/Tidak)
  3. Tidak terganggu oleh suara yang ribut saat belajar  (Ya/Tidak)
  4. Lebih suka mendemonstrasikan daripada menjelaskan  (Ya/Tidak)
  5. Tertarik seni, seperti lukis, pahat, gambar daripada seni musik  (Ya/Tidak)
  6. Lebih mudah ingat dengan melihat  (Ya/Tidak)
  7. Lebih suka membaca  (Ya/Tidak)
  8. Tahu apa yang harus dikatakan tapi tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata  (Ya/Tidak)
  9. Sering lupa jika harus menyampaikan pesan secara verbal  (Ya/Tidak)

Gaya Belajar Auditory
  1. Mudah ingat dari apa yang didengar dan didiskusikan (Ya/Tidak)
  2. Senang dibacakan atau mendengarkan (Ya/Tidak)
  3. Senang membaca dengan suara keras (Ya/Tidak)
  4. Lebih suka humor lisan dibanding baca buku (Ya/Tidak)
  5. Menyenangi seni musik (Ya/Tidak)
  6. Tak bisa belajar dalam suasana berisik atau ribut (Ya/Tidak)
  7. Lebih suka menulis kembali sesuatu (Ya/Tidak)
  8. Pandai bercerita (Ya/Tidak)
  9. Senang diskusi dan bicara panjang lebar (Ya/Tidak)

Gaya Belajar Kinestetik
  1. Lebih banyak menggunakan bahasa tubuh (Ya/Tidak)
  2. Ketika membaca menunjuk kata-kata dengan jari tangan (Ya/Tidak)
  3. Belajar melalui praktik langsung atau dengan manipulasi (trik peraga) (Ya/Tidak)
  4. Menanggapi perhatian fisik (Ya/Tidak)
  5. Lebih menyukai kegiatan permainan yang menyibukkan fisik (Ya/Tidak)
  6. Kalau menghafal sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung (Ya/Tidak)
  7. Banyak gerak fisik dan punya perkembangan otot yang baik (Ya/Tidak)
  8. Lebih sulit duduk diam dan menatap saat proses mengajar (Ya/Tidak)

Setelah memperoleh hasil pengamatan dan jawaban pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan gaya belajar setiap peserta didik atau anak-anak. Nah, tentu berbeda bukan? Jika ya, maka para guru dan orang tua harus menyesuaikan proses dan media pembelajaran yang akan digunakan.

Semakin sesuai proses dan media pembelajaran yang digunakan maka semakin efektif ketercapaian hasil belajar peserta didik atau anak-anak. Para guru tidak lagi tertunduk lesu karena hasil belajar peserta didiknya rendah. Demikian halnya para orang tua, tidak lagi marah-marah karena anaknya lambat memahami pelajaran. 

Mulailah kenali gaya belajar peserta didikmu dan atau anak-anakmu!

(Azam)

Peluangmu (Guru), Jangan Kau Abaikan!

Ala Pak Guru | 7/22/2020 04:20:00 pm | Be the first to comment!
Semalam dapat pesan masuk yang membuat saya domblong. Isinya permohonan solusi, trik, strategi melaksanakan pembelajaran dari rumah. 

Domblong dalam bahasa Jawa itu memandang terheran-heran dengan mulut terbuka. Saya pikir, si Pengirim pesan hilang akal. Sehingga dengan terpaksa menanyakan kepada saya. 

Antara si Penanya dan saya sebenarnya sebelas dua belas. Orang yang bertanya mengira saya "orang pintar". Sehingga apa pun ditanyakan kepada saya.  

Padalah, di Jawa orang pintar itu sudah mencapai tingkatan tertentu. Biasanya sudah pernah puasa mutih. Makannya hanya nasi dengan garam. Seperti cerita orang-orang yang kenal dengan bapak saya. Dulu, katanya bapak sering puasa mutih. Lho, berarti ada benarnya juga. Haaa.

Mungkin juga, si penanya percaya, saya punya solusi. Sekurang-kurangnya punya teman cerita yang dapat mengurangi beban pikirannya. Asalkan bertanya bukan untuk penggugur dosa semata. 

Pagebluk coronavirus disease 19 memang menjadi hambatan sekaligus tantangan para guru. Hampir semuanya gugup. Sebagian mengalami masalah yang hampir sama, bingung dengan trik, strategi, model belajar yang digunakan. Sementara yang lain merasa tertantang dan berinovasi  dalam pembelajaran.  

Sebenarnya, pemerintah telah memberikan petunjuk. Berdasarkan buku panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi coronavirus disease 19, sekolah yang berada di zona merah itu melaksanakan pembelajaran dari rumah (BDR). BDR bisa dengan sistem dalam jaringan (daring), luar jaringan (luring), atau kombinasi daring dan luring. 

Beberapa media pembelajaran daring yang dapat dimanfaatkan oleh para guru, siswa, dan orang tua, antara lain

Selain yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat juga sumber dan media pembelajaran yang dikelola oleh mitra penyedia teknologi pembelajaran yang dapat dilihat daftarnya pada laman: https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/

Ketika penanya membaca tulisan ini mungkin berpikir, "Brow, masalahnya bukan itu? Media dan sumber belajar sudah tersebar. Sebenarnya peserta didik saya itu sebagian tidak punya gawai. Sinyalnya kurang bagus. Kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan."

Sebenarnya si Penanya sudah punya modal. Modal awal mengajar itu profil peserta didik. Profil peserta didik dapat dijadikan acuan menentukan strategi, model, dan media pembelajaran yang akan digunakan.

"Lho, kok tahu kondisi ekonomi keluarga?" 

"Ya, tahu lah, brow. Kan, si Penanya sudah mengumpulkan data dengan berkomunikasi dengan orang tua."

"Itu, juga bagus." Komunikasi awal itu wajib hukumnya. Mau daring, mau luring, harus sama-sama tahu dan sepakat. 

Misalnya orang tua peserta didik sudah sepakat daring dan luring. Mulailah mengatur perencanaan meskipun terlambat sedikit. 

"Brow, sebenarnya masalahnya bingung mengatur waktunya?"

Itu, penanya sudah mengerti solusinya. Kan, si Penanya tahu masalahnya ada pada waktu. Biasanya satu pembelajaran pukul 07.00 s.d. 12.10 selama tatap muka. Sekarang bagaimana?

Waktu ya diatur tho!

Dalam kondisi serba baru seperti ini selain banyak tantangan juga peluang. Peluang bagi guru inovatif. Guru yang selalu mencari tahu setiap ada masalah pembelajaran. Guru yang mencoba cara baru dengan pengetahuan baru. Bukan begitu? 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...