Alapakguru

Perlu Kita (Guru) Tahu?

Ala Pak Guru | 9/16/2019 09:27:00 pm |
Ilustrasi Alapakguru
Sudah puluhan tahun menjadi guru, ya? Berarti sudah banyak pengalamannya dong. Boleh juga dibagi-bagi pengalamnnya supaya kita juga dapat ilmunya. Makin banyak dibagi tentu makin banyak yang dapat manfaatnya. 

Alapakguru boleh juga berbagi kan? Kadangkala ketika sudah di depan kelas suka lupa apa yang perlu dilakukan dan tidak perlu dilakukan. Apalagi terlanjur asyik menjelaskan. Perasaan jadi paling pintar di kelas. Kalau sudah seperti ini, peserta didik cukup mendengarkan saja. Sayangnya, tiap akhir pembelajaran, peserta didik yang benar-benar menguasai penjelasan tadi hanya itu-itu saja alias dapat dihitung dengan jari. 

Usut punya usut ternyata penyebabnya keasyikan menjelaskan. Percaya diri tinggi karena merasa paling pintar. Namun hasilnya kurang memuaskan. 

Sebenarnya apa saja yang perlu dilakukan dan tidak perlu dilakukan oleh guru. Menurut Yoki Ariyana (2019) ada hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak perlu dilakukan guru antara lain: 
Perlu dilakukan Guru
  1. Memberikan penjelasan singkat
  2. Membiasakan memberikan jawaban atas pertanyaan peserta didik dengan pertanyaan yang mendorong peserta didik untuk berpikir
  3. Setiap satuan pembelajaran diawali dengan masalah diakhiri dengan rumusan pemecahan masalah
  4. Membawa para peserta didik pada realitas yang ada dimasyarakat
  5. Mendorong para peserta didik untuk mengungkap pengetahuan yang telah dikuasai yang penting untuk memecahkan masalah yang dihadapi saat ini
  6. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan permasalahan secara mandiri
  7. Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk merumuskan permasalahan
  8. Mendorong para peserta didik untuk melihat permasalahan dari berbagai aspek
  9. Memberikan kesempatan para peserta didik untuk menganalisis informasi dan data yang telah dimiliki
  10. Mendorong para peserta didik untuk mencari informasi dan data yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi
  11. Mendorong para peserta didik mengembangkan berbagai alternatif solusi dari permasalahan yang dihadapi
  12. Mendorong para peserta didik untuk mengevaluasi berbagai alternatif yang terbaik
  13. Mendorong peserta didik merumuskan solusi
  14. Mendorong peserta didik untuk menyusun mind mapping dari apa yang baru saja dipelajari
Tidak Perlu Dilakukan Guru
  1. Banyak menerangkan dengan panjang lebar
  2. Memberikan langsung masalah kepada peserta didik
  3. Banyak memberikan jawaban langsung pada apa yang ditanyakan
  4. Mengkritik apa yang peserta didik sampaikan, apakah jawaban atau pernyataan
  5. Memotong pembicaraan peserta didik
  6. Mengucapkan perkataan yang memiliki makna merendahkan, melecehkan, atau menghina peserta didik
  7. Menyimpulkan pendapat peserta didik

Nah, lho! Berarti yang telah alapakguru lakukan selama ini ada yang kurang pas. Kalau begitu, janji deh. Siap memperhatikan dengan selalu memperbaiki diri.

Daftar Pustaka
Ariyana, Yoki, Ari Pudjiastuti, Reisky Bestary, Zamroni. (2019). Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Anak Kecanduan Gawai (HP) Apalah Obatnya?

Ala Pak Guru | 9/11/2019 07:19:00 pm |
Ilustrasi alapakguru

Sahabat alapakguru  di mana pun berada, bagaimana kabarnya? Selalu semangat dalam mengemban tugas mulia, menjaga dan mendidik putra-putrinya dengan penuh kebaikan. Meski berbagai tantangan selalu datang tanpa diduga sebelumnya, tetaplah semangat penuh asah, asih, dan asuh.

Saat ini sepertinya aneh jika anak-anak tidak mengenal gawai atau lebih dikenal smart phone. Orang tua banyak yang memberikan hadiah ulang tahun atau perayaan lainnya dengan gawai kepada anak-anaknya. Selain ingin mengenalkan teknologi, orang tua tak ingin anak-anaknya tertinggal dengan anak seusia lainnya yang lebih dulu kenal gawai.

Beberapa kejadian, orang tua memberikan gawai kepada anak-anak agar diam, tidak menangis, dan tidak bermain ke sana ke mari. Video dan aneka permainan menjadi pilihan yang mengasyikkan bagi anak-anak. Aneka permainan memberikan tantangan yang tiada habisnya. Hingga menjadi candu bagi mereka.

Ketika telah asyik pada gawai, anak-anak seperti lupa dunianya yang penuh keceriaan, lari-lari, berteman, bermain dengan anak-anak seusianya. Anak-anak berubah menjadi pemurung jika tidak ada waktu bermain gawai. Agresif dengan teman dan orang tua. Lupa tanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah.

Sahabat alapakguru, tetaplah tenang bersikap dan bertindaklah dengan cermat. Lakukanlah langkah berikut dengan kepala dingin. 

Pertama, berikanlah pengertian bahaya menggunakan gawai secara terus menerus. Misalnya dapat merusak mata, wajah menjadi kusut, kurang istirahat, dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain karena kurang gerak.

Kedua, berikan contoh video anak yang kecanduan gawai, mintalah anak memberikan penilaian.

Ketiga, berikan vidio pembanding anak-anak yang menggunakan gawai seperlunya saja. Mintalah anak menilai kedua video tersebut.

Keempat, ajaklah anak berdiskusi kegiatan-kegiatan positif yang dapat dilakukan pada waktu senggang.

Kelima, ajaklah anak membuat kesepakatan bersama mengatur waktu bermain dan memanfaatkan waktu senggang dengan positif. 

Gawai tetap dapat digunakan selagi bijaksana dengan mengontrol waktu yang tepat, bermain, belajar, dan bersosialisasi. Sehingga anak-anak kelak tumbuh menjadi generasi Z yang bertanggung jawab dan cerdas.

Ikhtiar Menjadikan Semua Sekolah Favorit?

Ala Pak Guru | 6/17/2019 08:39:00 pm |
Mas, aku lagi down. Anakku sudah tidak masuk list sekolah favorit. Aku harus bagaimana? Begitu kira-kira isi pesan WA yang aku terima. Adakah kebaikan dari kebijakan zonasi selain membuat masyarakat "pusing?" 



Faktanya memang demikian pelik. Banyak orang tua dan anak yang merasakan down dengan adanya zonasi. Terutama yang sudah lama berancang-ancang menentukan sekolah tujuan jauh hari bahkan tahunan. 

Hal demikian juga berlaku bagi sekolah-sekolah yang sudah bertahun-tahun menjadi favorit masyarakat. Jika biasanya dapat menentukan input yang sesuai grade tertentu. Kini tidak bisa dan mengikuti ketentuan zonasi yang dapat dipastikan inputnya akan beragam. 

Sementara itu, bagi sekolah-sekolah pinggiran tidak menimbulkan dampak "negatif" sedikitpun. Justru dengan adanya zonasi menjadikan keuntungan bagi sekolah-sekolah pinggiran yang sangat memiliki peluang mendapatkan input siswa dengan grade tinggi. 

Jika demikian, sekolah favorit dan pinggiran agregatnya fifti fifti. Sama-sama mendapatkan input yang beragam. Dari berbagai tingkatan grade akan ada di semua sekolah. 

Kebijakan zonasi seakan-akan menjadi bola liar untuk menjadikan sekolah favorit baru. Siapa yang mampu menangkap bola liar ini, akan menjadi sekolah rujukan bagi masyarakat nanti. 

Ada banyak faktor yang menjadikan sekolah favorit. Selain memenuhi 8 standar nasional pendidikan. Di sekolah favorit selalu ada guru dan tenaga pendidik inovatif, hasil belajar siswa (spiritual, sosial, kognitif, dan psikomotor) tinggi, dan peran aktif orang tua. 

Jika zonasi sebagai ikhtiar pemangku kebijakan memberikan pelayanan pendidikan yang adil, merata, dan mempercepat capaian standar nasional pendidikan. Maka, saatnya sekolah-sekolah menerima tantangan ini dengan penuh semangat. Karena, semangat sekolah akan memberikan efek keyakinan masyarakat pada sekolah-sekolah di dalam zonasi.

Selain itu, untuk menjadikan semua sekolah favorit dalam satu kabupaten/kota ada baiknya untuk nama-nama sekolah diurutkan dalam satu kabupaten/kota sesuai tahun berdirinya. 

Tabik
Bojonegoro, 17 Juni 2019
Akang Azam
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...