Alapakguru

Uni di Lembah Sunyi

Ala Pak Guru | 3/05/2020 04:21:00 pm | Be the first to comment!
Ilustrasi Azam
Pagi-pagi dapat pesan singkat dari teman lama. Mengabarkan pengabdiannya sebagai penjaga masa depan anak-anak.

"Bagaimana kabarnya, pak?"

Maklum saja, Uni adalah teman seangkatan waktu menempuh studi diploma di Kota Malang. Jarang ketemu muka. Paling sesekali kalau nasib mujur dipertemukan pada saat pelatihan.

Baru-baru ini, Uni mendapatkan tugas sebagai Kepala Sekolah. Meski Uni masih sangat muda, Ia sudah menampuk tugas dan tanggung jawab mulia ini.

Uni memang luar biasa. Sejak menempuh studi diploma, Ia termasuk mahasiswa yang punya prestasi menonjol. Bahkan setelah menjadi guru pun Uni berprestasi.

Kali ini, Uni melanjutkan dengan keluh kesahnya sebagai Kepala Sekolah.

"Ternyata menjadi Kepala Sekolah banyak tantangannya."

"Enak menjadi guru, punya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran lengkap, mengajar dengan rajin sudah beres."

Sebagai sahabat, kabar hangat pun aku balas dengan mengabarkan kebaikan. Meski begitu rasa peduliku mengusik rasa ingin tahu. Siapa tahu dengan jawaban Uni, aku dapat memberikan sedikit motivasi.

"Alhamdulillah sehat, bu."

"Bagaimana tantangannya, bu?"

Uni melanjutkan pengalaman pertamanya menjadi Kepala Sekolah.

"Aku ditempatkan di Sekolah Dasar paling jelek, tepatnya di bawah gunung. Apalagi dengan karakter guru yang bermacam-macam. Rasanya aku ingin menangis, meski dalam diam."

Kali ini, giliranku memberi sedikit pencerahan. Meski aku tahu, Uni tentu sudah sangat paham itu.

"Oh, begitu. Uni, kamu ingat Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Pramodya Ananta Toer, meski dibuang, diasingkan, di penjara menghasilkan karya."

"Jalani dengan senang saja, bu."

"Jangan menangis!"

"Aku tak mampu  menenangkanmu."

Wajah Uni pun berseri-seri laksana matahari menyinari embun di pucuk dedaunan.

Akang Azam
Bojonegoro dalam Kamisan

Sahabat Lama itu Mbok Sri

Ala Pak Guru | 1/12/2020 10:11:00 am | Be the first to comment!

Biasanya kalau pagi hari tidak repot, kusempatkan menyapu di depan rumah. Selain enak dilihat juga menyehatkan. Kebiasaan ini memang sudah telanjur dari kecil, kalau sibuk jadinya tak dapat menyapu sendiri. Untung depan rumah tetap bersih disapu saudaraku.

Pasaran legi di kampungku selalu memberi nuansa berbeda. Ramai pengunjung dan pedagang sampai meluber ke jalan-jalan. Sayang ramainya pasar tumpah ini tak seramai masa kecilku. Dulu pedagang sampai di dekat telon yang sekarang jadi terminal. Pedagangnya dari mana-mana. Pembelinya dari kampung-kampung sebelah.

Kali ini ingatanku kembali ke masa kecil ketika Mbok Sri dari kejauhan tampak berhenti berkali-kali. Jalannya terhuyung-huyung tak tegak lagi. Selain faktor usia tentu beban yang digendong dan dijinjing terlalu berat untuk perempuan seusianya. Di gendongan Mbok Sri penuh dengan lontong sedangkan dijinjingannya sayur dan lauk yang hendak dijual.

Sambil menyelesaikan menyapu jalan depan rumah, aku menanti kedatangannya. Namun, rasa penasaran dan sabarku menghentikan untuk menyapu. Aku segera melangkah mendekati Mbok Sri.

"Mboook." Sapaku dengan tersenyum.

"Le, ki omahem tho?" Mbok Sri balik tanya.

"Wes suwe ra ketemu?" Mbok Sri menambahi tanya.

"Nggih." Aku pun balas dengan senyum.

"Ngeneki lho nek ra nduwe bocah." Mbok Sri mulai mengeluhkan beban yang harus dikerjakan sendirian.

"Le, gawanku ki sabrangno!" Mbok Sri memintaku mengantarkan sayur dan lauknya ke pasar.

"Panggene sebelah pundi?" Tanyaku pada Mbok Sri.

"Sebelahe bakul plembungan." Jelas Mbok Sri padaku.

"Nggih Mbok." Jawabku.

Bagiku lontong buatan Mbok Sri istimewa. Dulu waktu kangen lontong buatan ibu. Aku sampai mendatangi rumah Mbok Sri untuk merasakan masakan ibu. Beda memang tapi ada rasa yang sama.

Mbok Sri adalah sahabat ibu. Setidaknya profesinya sama. Penjual lontong di pasar kampung. Tugasnya mengobati rasa lapar dan rindu.

Ibuku selalu memberi rindu, Tuhan meminjamkan permintaan Mbok Sri mengantar sayur. Persis kebiasaanku dulu pada ibu. ♡♡♡♡
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...