Alapakguru

Kecil-Kecil Besar Manfaatnya

Ala Pak Guru | 7/12/2020 11:34:00 pm | Be the first to comment!
Tanggal 13 Juli besok mengawali tahun ajaran baru 2020/2021. Tentu  sudah banyak persiapan yang akan diberikan pada peserta didiknya. Terlebih pada hari pertama masuk sekolah. Kata-kata motivasi yang mengubah dunia. Permainan-permainan seru yang pasti menyenangkan peserta didik. Kesepakatan-kesepakatan yang luar biasa untuk pembelajaran sudah barang tentu dipersiapkan.

Meski belum dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka langsung. Bukan berarti membuyarkan segala persiapan bapak/ibu yang sudah tertata. Bapak/ibu dapat memberikan informasi, petunjuk, arahan, atau bahkan MPLS secara daring. 

Ada banyak hal yang dapat dilakukan pada hari pertama masuk sekolah. Namun kadang hal sederhana dilupakan. Padalah hal yang sederhana memiliki nilai yang tak kalah penting dan besar manfaatnya. 

Sapaan
Cobalah dengan memberikan sapaan yang mengesankan. Bisa dengan kata-kata motivasi. Panggilan yang membuat peserta didik bangga. Gambar atau karakter tokoh idola. Terlebih dilengkapi dengan emoji. Apalagi diberi kartu ucapan oke banget.

Sebagian orang mungkin menganggap sapaan itu tidak penting. Namun, sapaan bagi peserta didik itu memilik arti dan makna tersendiri. Peserta didik yang disapa bapak/ibu guru merasa dihargai, disanjung. Manfaat yang utama dapat memotivasi peserta didik. 

Profil Peserta Didik
Bapak/ibu hal yang penting sebelum memberikan materi pelajaran adalah mengetahui profil peserta didik. Misalnya identitas, tanggal lahir, jenis kelamin, hobi, cita-cita, berat badan, tinggi badan, pelajaran yang disukai, pelajaran yang kurang disukai, kebiasaan belajar yang mudah diterima, memiliki HP sendiri atau belum, identitas orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan orang tua, serta alamat. 
 
Manfaat mengetahui profil peserta didik adalah dapat digunakan untuk menentukan model, strategi, media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru dapat mengelompokkan siswa dengan memperhatikan profil siswa. Guru juga dapat menyusun produk pembelajaran atau proyek yang akan dilakukan dengan memperhatikan profil peserta didik. 

Menyusun Jadwal Harian 
Diakui atau pun tidak "Belajar Dari Rumah" untuk semester lalu menjadi catatan yang banyak kekurangannya. Bapak/ibu guru dapat mengevaluasi dan mengambil pelajaran dari yang sudah terjadi. Kemudian dijadikan bahan perbaikan pada semester ini. 

Kebiasan yang kentara adalah berkurangnya atau hilangnya karakter disiplin dan tanggung jawab peserta didik.  Jadwal yang longgar, kesibukan orang tua, ditambah minimnya interaksi secara langsung dengan bapak/ibu guru menjadi penyebabnya. 

Oleh karena itu, dengan adanya BDR pada semester ini maka mulailah dengan mengajak menyusun jadwal harian peserta didik. Jadwal harian bisa dimulai sejak bangun tidur, beribadah, kegiatan belajar, olahraga, bermain, dan kegiatan lain yang menunjang, hingga peserta didik tidur. 

Manfaat dari kegiatan terjadwal tentu membiasakan peserta didik untuk disiplin dan bertanggung jawab. Jika hal ini menjadi kebiasaan tentu pada akhirnya akan menjadi budaya dan karakter peserta didik.

Standar Kompetensi Kelulusan dan Kompetensi Dasar
Hal yang jarang disampaikan ke peserta didik adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kompetensi Dasar (KD). Sebagian orang mungkin beranggapan SKL dan KD adalah milik guru. Peserta didik tidak berhak tahu. Padalah hal demikian tidak sepenuhnya benar. 

Cobalah bapak/ibu lihat rapor peserta didik. Di rapor dilaporkan KD-KD yang terbaik dan kurang dari peserta didik. 

Kalau dianalogkan rapor itu tujuan akhir sebuah perjalanan. Maka tidak elok kiranya peserta didik diberitahu akhir perjalanan sementara sejak awal tidak diinformasikan tujuan yang akan dicapai.  

Jika demikian memberitahukan SKL dan KD bagi peserta didik sebelum pembelajaran dimulai menjadi keharusan. Selain menjadi arah yang dituju dalam jangka panjang (rapor), peserta didik akan lebih mudah memahi proses pembelajaran. 

Nah, bapak/ibu guru masih banyak hal kecil yang kadang terlewatkan begitu saja. Cobalah gali lagi hal kecil yang memberi manfaat bagi keberlangsungan proses pembelajaran. Semoga sukses.

Kamu Fixed atau Growth Mindset?

Ala Pak Guru | 7/03/2020 10:18:00 pm | Be the first to comment!
Nyata sudah, pandemi covid-19 yang masih meningkat ini tidak hanya mencabik-cabik kesehatan masyarakat dan menggerus ekonomi berbagai pihak. Dunia pendidikan pun ikut keteteran. Keluh kesah para orang tua pun disampaikan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Misalnya tugas-tugas yang harus diselesaikan peserta didik terlalu membebani peserta didik dan orang tua. 

Berbagai persoalan yang bermunculan tidak hanya dari peserta didik. Para orang tua dan pendidik juga mengalami berbagai masalah. Keluh kesah orang tua dengan banyaknya tugas dan tingginya biaya paket data internet. Persoalan-persoalan lain seperti pekerjaan siswa dikerjakan orang tua. Orang tua kesulitan mendampingi anak belajar. Pendidik kesulitan mengontrol hasil belajar siswa.

Kini, pandemi covid-19  sudah lebih dari tiga bulan di Indonesia. Belum ada ahli yang benar-benar bisa memastikan akhir dari pendemi ini. Padahal sebentar lagi dunia pendidikan memasuki tahun ajaran baru. Kenormalan baru menjadi keniscayaan. Pendidikan harus terus berjalan. Belajar tidak boleh berhenti atau pun menunggu pandemi covid-19 ini berakhir. Oleh karena itu, semua pihak harus siap berinovasi. 

Setiap inovasi memiliki tantangan tersendiri. Setiap tantangan akan memiliki respon. Setiap individu memiliki langkah yang diambil untuk menghadapi tantangan yang terjadi. Maka dapat dipastikan muncul beragam respon. Banyaknya respon ini dipengaruhi oleh pola pikir masing-masing individu. 

Carrol S. Dweck dalam (Mindset:2006) menjelaskan bahwa pola pikir seseorang itu ada fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset adalah pola pikir seseorang yang meyakini bahwa apa yang dianutnya adalah yang paling benar. Ia cenderung menghindari tantangan-tantangan dan fokus berlebihan pada sesuatu yang sudah diketahuinya saja. Sedangkan growth mindset adalah pola pikir seseorang yang percaya bahwa kecerdasan dapat dikembangan. Ia akan punya keinginan untuk memperbaiki diri. Jika diberikan tantangan, ia akan coba melaluinya dengan penuh keyakinan.

Menghadapi covid-19 ini seperti menghadap cermin besar. Setiap respon yang ditampilkan individu mengindikasikan pola pikirnya. 

Berpijak pada pembelajaran sebelumnya yang masih banyak mengalami kendala. Akankah dalam diri kita ada upaya perbaikan untuk tahun ajaran baru? 

Berikut tanda-tanda fixed mindset:
(1) tidak perduli dengan masalah pembelajaran;
(2) tidak ada upaya mencari tahu menyelesaikan masalah;
(3) merasa nyaman dengan proses pembelajaran meski hasilnya kurang memuaskan; 
(4) cenderung menyalahkan peserta didik jika hasilnya kurang memuaskan.

Sedangkan tanda-tanda growth mindset antara lain: 
(1) gelisah dengan masalah pembelajaran yang dialaminya;
(2) senang dengan keberhasilan orang lain dan mencoba meniru atau pun memodifikasi;
(3) mencoba cara baru dengan pengetahuan yang baru;
(4) terbuka menerima saran dan kritik dari orang lain.

Ilmu pengetahuan selalu memberi hal baru. Setiap masalah merupakan tantangan yang harus diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. 

Mengambil bagian dari solusi setiap tantangan adalah karakter guru. Mau?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...