Alapakguru

Sahabat Lama itu Mbok Sri

Ala Pak Guru | 1/12/2020 10:11:00 am | Be the first to comment!

Biasanya kalau pagi hari tidak repot, kusempatkan menyapu di depan rumah. Selain enak dilihat juga menyehatkan. Kebiasaan ini memang sudah telanjur dari kecil, kalau sibuk jadinya tak dapat menyapu sendiri. Untung depan rumah tetap bersih disapu saudaraku.

Pasaran legi di kampungku selalu memberi nuansa berbeda. Ramai pengunjung dan pedagang sampai meluber ke jalan-jalan. Sayang ramainya pasar tumpah ini tak seramai masa kecilku. Dulu pedagang sampai di dekat telon yang sekarang jadi terminal. Pedagangnya dari mana-mana. Pembelinya dari kampung-kampung sebelah.

Kali ini ingatanku kembali ke masa kecil ketika Mbok Sri dari kejauhan tampak berhenti berkali-kali. Jalannya terhuyung-huyung tak tegak lagi. Selain faktor usia tentu beban yang digendong dan dijinjing terlalu berat untuk perempuan seusianya. Di gendongan Mbok Sri penuh dengan lontong sedangkan dijinjingannya sayur dan lauk yang hendak dijual.

Sambil menyelesaikan menyapu jalan depan rumah, aku menanti kedatangannya. Namun, rasa penasaran dan sabarku menghentikan untuk menyapu. Aku segera melangkah mendekati Mbok Sri.

"Mboook." Sapaku dengan tersenyum.

"Le, ki omahem tho?" Mbok Sri balik tanya.

"Wes suwe ra ketemu?" Mbok Sri menambahi tanya.

"Nggih." Aku pun balas dengan senyum.

"Ngeneki lho nek ra nduwe bocah." Mbok Sri mulai mengeluhkan beban yang harus dikerjakan sendirian.

"Le, gawanku ki sabrangno!" Mbok Sri memintaku mengantarkan sayur dan lauknya ke pasar.

"Panggene sebelah pundi?" Tanyaku pada Mbok Sri.

"Sebelahe bakul plembungan." Jelas Mbok Sri padaku.

"Nggih Mbok." Jawabku.

Bagiku lontong buatan Mbok Sri istimewa. Dulu waktu kangen lontong buatan ibu. Aku sampai mendatangi rumah Mbok Sri untuk merasakan masakan ibu. Beda memang tapi ada rasa yang sama.

Mbok Sri adalah sahabat ibu. Setidaknya profesinya sama. Penjual lontong di pasar kampung. Tugasnya mengobati rasa lapar dan rindu.

Ibuku selalu memberi rindu, Tuhan meminjamkan permintaan Mbok Sri mengantar sayur. Persis kebiasaanku dulu pada ibu. ♡♡♡♡

Penjaja Makanan pun Digerus Zaman

Ala Pak Guru | 12/30/2019 07:54:00 am | Be the first to comment!
Penjaja makanan keliling sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu. Hal ini dapat diketahui di relief Candi Borobudur terdapat orang yang membawa pikulan seperti orang membawa makanan yang dijual keliling saat ini. Hal ini dipertegas dengan sumber sejarah pada abad ke 14 era Majapahit bahwa ada profesi penjual makanan dan minuman keliling yang berasal dari penduduk jawa.

Penjaja makanan keliling juga telah berkembang pada masa Hindia Belanda. Penjaja minuman cendol dawet dengan cara dipikul. Demikian juga dengan penjual sate. Biasanya mereka keliling ke permukiman urban atau pun juga di perkampungan jawa.

Seiring perkembangan zaman. Model menjajakan makanan mengalami perkembangan. Ada yang didorong pakai gerobak, seperti es cendol dawet, nasi goreng, bakso. Ada pula yang ditarik pakai sepeda.

Untuk memberikan ciri khusus, cara pengolahan dan penyajianya pun dibuat bermacam-macam. Ada yang menggunakan wajan, kompor, arang dan segala keunikannya.

Cara memberitahu pelanggannya juga dibuat unik. Ada yang menyeru, "te sate, prak ketoprak." Ada pula dengan bantuan alat yang menimbulkan suara khusus, misalnya suara, "tok tok, ting ting, dog dog," dan masih banyak lagi.

Kalau diamati penjual makanan keliling tidak hanya berkembang di Pulau Jawa saja. Seluruh nusantara juga memiliki keunikan dan aneka makanan sekaligus keunikan cara menjajakan. Indah sekali keunikan dalam memanjakan lidah kita.

Kini zaman berubah cepat, semua butuh cepat, mudah, dan banyak pilihan. Semua tersedia dan terhubung dengan gawai. Mau milih minuman dan makanan yang diinginkan tinggal klik. Tanpa menunggu lama pesanan sudah siap dinikmati.

Akankah keunikan aneka model menjajakan makanan ini tergerus habis oleh kemajuan teknologi. Lalu anak cucu kita hanya mendengar cerita saja. "Ting ting," bakso sudah datang. Eh cuma cerita saja

Penjaja makanan sebenarnya hanya contoh kecil semata. Dunia kini berkembang cepat. Masa depan masih sulit diprediksi. Bagaimana bapak dan ibu guru menyiapkan peserta didiknya siap menghadapi tantangan zaman?

Tujuan pembelajaran harus berubah. Tidak hanya pada level pengetahuan saja. Cobalah sampai tahap analisis, evaluasi, dan mencipta. Lalu biasakan dan kembangkan terus.

Kang Azam, nglamun sarapan disik

Sumber:
Kompas, Minggu 29 Desember 2019 hal 17
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...