Alapakguru

Strategi Mengelola Sumber Daya Pendidikan Dengan Efektif

Ala Pak Guru | 10/07/2018 08:39:00 pm |
Foto Ilustrasi Kepala Sekolah Memberi Brifing Pagi
Demikian juga di dalam lembaga pendidikan terdapat tipe-tipe kepribadian manusia yang dapat dikelompokkan menjadi empat, antara lain: 1) Konstruktif, cirinya berani mengemban tanggung jawab, dapat dipercaya, mampu memahami dan mengimpretasikan keinginan kepala sekolah, memiliki pemikiran yang kreatif, memiliki padangan luas, memiliki ambisi dan tanggap terhadap situasi; 2) Rutin, cirinya kurang inisiatif, menunggu petunjuk yang jelas, loyal dan sepenuh hati; 3) Impulsif, cirinya mudah berubah dan tidak memiliki imajinatif; dan 4) Subversifcirinya: sulit dikontrol, tidak memiliki prinsip yang kuat, cenderung mencari keuntungan pribadi, suka memprovokasi.
Berbicara tentang keberhasilan lembaga pendidikan tidak terlepas peran penting kepala sekolah. Salah satu peranan kepala sekolah adalah manajer. Seorang manajer diharuskan memiliki kemampuan mengelola  sumber daya yang ada di lembaganya. 

Di lembaga pendidikan terdapat berbagai sumber daya. Salah satunya adalah sumber daya manusia. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan mencapai tujuan lembaga pendidikan. 

Pendidik dan tenaga kependidikan bukan sekadar modal bagi lembaga pendidikan, tetapi aset yang sangat bernilai. Jika dikelola dengan baik dapat berkembang berlipat ganda memajukan lembaga pendidikan. Sehingga pendidik dan tenaga kependidikan perlu perhatian yang maksimal. 

Sudah jamak diketahui, lembaga pendidikan yang berkembang pesat, unggul dalam prestasi, dan menghasilkan lulusan yang terbaik memiliki pendidik dan tenaga kependidikan yang mumpuni. Pendidik dan tenaga kependidkannya memiliki kompetensi yang tinggi. Semua ini dapat terbentuk karena dikelola secara efektif oleh kepala sekolah.

Sebagai manajer kepala sekolah berupaya terus menerus menggali dan mengembangkan metode, pendekatan, dan teknik-teknik, serta strategi mengelola pendidik dan tenaga kependidikan. Namun, masih banyak kepala sekolah yang mengalami hambatan dan kendala dalam berkomunikasi. Sehingga tidak dapat mencapai tujuan yang diharapkan.    

Salah satu strategi mengelola pendidik dan tenaga kependidikan adalah mengenali kepribadiannya. Dengan mengenal kepribadiannya akan memudahkan dalam berkomunikasi dan menyamakan persepsi. Sehingga akan lebih efektif dalam mengelola dan mengembangkannya. 

Pada dasarnya setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lainnya. Berbagai penelitian tentang kepribadian manusia telah dilakukan oleh para ahli. Hippocrates dan Galenus mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi menjadi empat tipe kepribadian, yaitu: 1) Melancholis (melankolisi), yaitu orang-orang yang selalu bersikap murung, muram, pesimistis, dan selalu menaruh rasa curiga; 2) Sanguinicus (sanguinisi), yaitu orang-orang yang selalu menunjukkan wajah berseri-seri, periang, atau selalu gembira, dan bersikap optimis; 3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimistis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah; 4) Cholericus (kolerisi), yaitu orang penaik darah dan sukar mengendalikan diri, garang, dan agresif. 

Sementara itu, Carl Gustav Jung menyatakan pembagian tipe manusia menjadi dua, yaitu: 1) Introvert,  yakni orang-orang yang memiliki sifat kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami batinnya, suka menyendiri, bahkan sering takut pada orang lain; 2) Extrovert, yakni orang-orang yang mempunyai sifat-sifat terbuka, mudah bergaul, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali, mudah memengaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya. 

Sedangkan Kretschmer mengemukakan pendapatnya bahwa adanya hubungan erat antara tipe bentuk tubuh dengan sifat dan wataknya. Ia membagi manusia menjadi dua golongan, yaitu: 1) Atletis dan astenis (schizothim), mempunyai sifat sulit bergaul, mempunyai kebiasaan tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi baru, sombong, egoistis dan ingin berkuasa, kadang-kadang optimis, kadang pesimis, selalu berpikir matang sebelum bertindak; 2)  Piknis (siklithim), mempunyai sifat mudah bergaul, suka humor, mudah berubah, mudah menyesuikan diri dengan situasi baru, mudah memaafkan orang lain, tetapi kurang setia, dan tidak konsisten. 

Dari berbagai pendapat di atas dapat simpulkan bahwa ada berbagai tipe kepribadian  manusia. 


Dengan mengenali tipe pendidik dan tenaga kependidikan, kepala sekolah tentu membutuhkan strategi mengelolanya agar dapat mencapai tujuan secara efektif. Berikut ini strategi yang dapat dipergunakan oleh kepala sekolah: 1) Konstruktif, berilah target-target yang ingin dicapai untuk dikembangkan karena tipe ini memiliki potensi untuk berkembang; 2) Rutin, berilah arahan dan prosedur yang jelas, berikan tenggat waktu terhadap tugas-tugasnya; 3) Impulsif, berikan perhatian dan teladan yang baik, lakukan pendekatan personal, dan berikan petunjuk yang lengkap sertai target; 4) Subversif, berikan tugas dengan penekanan pada target-target yang jelas, jika perlu berikan reward dan punishment.  

(Alapakguru)

Menjadi Orang Tua, Pengasuh, dan Sahabat Anak yang Baik dan Cool

Ala Pak Guru | 9/20/2018 07:39:00 pm |
Foto Ilustrasi Alapakguru dan Anak
Menjadi orang tua yang sempurna tentu dambaan setiap ayah dan bunda. Meski belum mencapai kesempurnaan, setiap orang tua dapat belajar untuk mencapai kesempurnaan. Keberhasilan dan kesalahan yang terjadi merupakan proses pengalaman menjadi orang tua. 

Diakui atau tidak memang sulit sekali menjadi orang tua yang sempurna. Persoalan demi persoalanlah yang semakin menambah kematangan berpikir dan bertindak. Termasuk dalam pengasuhan terhadap anak. 

R. Rachmy Diana (2006:129-130) mengungkapkan  sebuah pendekatan pengasuhan anak yang dapat dijadikan rujukan bagi orang tua. Pendekatan tersebut disingkat RPM3 (Responding, Preventing, Monitoring, Mentoring, dan Modeling). 



Responding (menanggapi anak secara tepat)

Ketika mengasuh anak sering kali orang tua dihadapkan pada pemberian respon.  Ketika memberikan respon orang tua dihadapkan pada dua keyakinan, 1) orang tua hendaknya yakin sedang memberikan respon bukan reaksi dan; 2) orang tua yakin responnya tepat. 

Perbedaan merespon dan mereaksi adalah merespon berusaha mengambil waktu sejenak memikirkan yang sedang terjadi sebelum berbicara atau bertindak.  Sedangkan mereaksi adalah mengungkapkan kata-kata, perasaan, atau tindakan yang pertama kali muncul dalam benak, cenderung tidak memikirkan hasil yang dikehendaki dari sebuah kejadian atau tindakan, bahkan tidak memilik cara terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan. 

Respon dianggap tepat jika sesuai dengan situasi yang terjadi (usia dan data informasi yang tersedia). Agar respon yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan, dapat dideteksi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: 1) Apakah tindakan orang tua sesuai dengan ucapannya? 2) Apakah emosi orang tua terlibat dalam mengambil keputusan? 3) Apakah orang tua tahu alasan-alasan yang mendasari perilaku anak?

Preventing (mencegah munculnya perilaku beresiko atau bermasalah)

Sebuah ungkapan mencegah lebih baik dari pada mengobati. Melakukan pencegahan sebelum anak melakukan tindakan yang beresiko atau bermasalah menjadi pilihan yang lebih baik. 

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pencegahan mencakup dua hal: 1) memetakan permasalahan-permasalahan, melalui a) pelibatan diri secara aktif dalam kehidupan anak-anak, cara berpikir, dan kebiasaan-kebiasaannya sehingga orang tua lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak; b) menentukan batasan-batasan yang realistis dan memperkuat batasan tersebut secara konsisten, hal ini dapat diupayakan dengan membuat kesepakatan bersama; c) ajari anak mengekspresikan emosi secara sehat melalui contoh-contoh nyata. 2) mengajarkan cara memecahkan masalah, melalui a) berikan pengetahuan bahwa anak tidak sendirian; b) berikan pengetahuan bahwa masalah-masalah tertentu tidak dapat diselesaikan sendirian; c) berikan pengetahuan agar meminta bantuan jika membutuhkan. 

Monitoring (mengawasi interaksi anak dengan lingkungan sosialnya)

Orang tua yang baik hendaknya jadi pengawas yang baik pula. Seorang pengawas yang baik harus memiliki kemampuan menggabungkan bertanya dan memberi perhatian dengan membuat keputusan, menentukan batasan, dan mendorong anak mengambil keputusan positif secara mandiri. 

Selain itu, cara yang dapat dilakukan untuk menjadi pengawas yang baik adalah: 1) mengembangkan komunikasi dua arah secara jujur dan terbuka sejak dini; 2) menyampaikan kepada anak-anak tentang hal-hal yang berharga sertai alasannya; 3) mengetahui bahan tontonan, bacaan, mainan, dan yang didengarkan anak; 4) mengenali orang-orang atau teman-teman yang sering bersama anak; 5) memberikan arahan tanpa harus menjadi kaku.

Mentoring (mendukung dan menumbuhkan perilaku-perilaku yang dikehendaki) 

Anak-anak memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Sehingga mereka membutuhkan mentor kehidupannya. Orang tua adalah mentor terbaik bagi anak. Sebagai seorang mentor berarti memberi dukungan, bimbingan, persahabatan, dan penghargaan pada anak. 

Selain itu seorang mentor membantu anak-anak mencapai potensinya dengan cara mengembangkan kelebihan-kelebihannya, berikan pujian setiap keberhasilannya, mendengarkan setiap keluh kesahnya, dan menjadi teman baginya. 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua sebagai mentor adalah: 1) jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki; 2) hargai pendapat dan pemikiran anak tanpa perlu menghakimi; 3) dukung minat dan kelebihan anak-anak tanpa memaksa; 4) kenalkan anak-anak pada sesuatu yang orang tua sangat suka melakukannya. 

Modelling (menjadi contoh dan teladan yang baik)

Sebuah kata mutiara contoh selalu lebih mujarab daripada perintah. Anak-anak belajar lebih banyak dari contoh ucapan-ucapan dan tindakan yang dilakukan orang tua. Hal ini dikarenakan anak adalah peniru ulung. 

Sebagai orang tua jadilah model pertama yang ditiru anak-anak. Untuk itu tunjukkan contoh perilaku yang orang tua kehendaki pada anak. Selanjutnya yang perlu diketahui memberikan keteladanan butuh konsisntensi antara ucapan dan tindakan serta dilakukan secara istikamah.  

Sebagaimana telah diungkapkan di atas untuk mencapai kesempurnaan amatlah sulit. Demikian juga pendekatan ini hanyalah salah satu cara untuk mengasuh anak tentu masih belum sempurna. Usaha yang dilakukan terus menerus akan membuahkan hasil yang lebih dari yang dikira. Tetaplah menjadi orang tua yang cool eh bertangan dingin dalam mengasuh anak-anak yang baik.

Salam Alapakguru

Sumber bacaan: Rachmi Diana, R. 2006. Setiap Anak Cerdas! Setiap Anak Kreatif. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, Vol 3: Semarang

Membudayakan Sikap Selalu SIAP Pada Guru

Ala Pak Guru | 9/20/2018 11:34:00 am |
Foto Ilustrasi Pak Eko dan Guru-Guru
Suatu siang seorang kepala sekolah bertanya kepada ibu guru yang sedang istirahat di ruang guru.

Kepala Sekolah   : Bu minta tolong NIP Kepala Bidang Sekolah Dasar
Bu Guru              : Maaf, pak. Saya tidak tahu NIP-nya.
Kepala Sekolah   : Kalau nama Kasubag TU UPT Pendidikan tahu?
Bu Guru              : Emm...Maaf pak. Saya juga tidak tahu. 
Kepala Sekolah   : Bu, kok tidak tahu semuanya. Ketika ditanya jawabnya selalu tidak tahu. 
                             Apakah ibu tidak pernah mencatatnya?
Bu Guru              : Mencatat, pak. Tapi lupa menyimpannya.
Bu Guru              : Maaf pak. Sekarang boleh bertanya?
Kepala Sekolah   : Silakan bu.
Bu Guru              : Bapak kenal Pak Khamim, M.Pd.
Kepala Sekolah   : Tidak tahu.
Bu Guru              : Kalau Ibu Sujamiah, S.Pd.
Kepala Sekolah   : Saya juga tidak tahu. Memangnya siapa mereka?
Bu Guru              : Ya itulah pak. Kita pasti punya teman dan kenalan sendiri-sendiri. 

Kepala Sekolah dan Bu Guru : Haaa...haa......    


Seorang kepala sekolah tentu menginginkan guru dan karyawan yang dapat menjelaskan informasi yang ditanyakan terkait tugas-tugas yang diberikan. Sebagai seorang pimpinan tentu berharap mendapatkan jawaban dengan cepat seputar tugas-tugas yang diberikan. 

Untuk itu perlu menumbuhkan pola pikir sebagai guru profesional yang selalu memiliki kemampuan selalu siap ketika dimintai informasi yang berkaitan dengan tugas-tugasnya. Berikut ini tiga kebiasaanya yang dapat dilakukan oleh guru:

1. Selalu membuat catatan penting yang berkaitan dengan tugas yang diberikan 
  • Catatlah materi-materi penting setiap rapat dan keputusan rapat
  • Catatlah tugas-tugas yang diberikan kepala sekolah. Misalnya tanggal diberikan tugas, isi tugas, kapan tugas harus selesai
  • Catatlah informasi yang diterima dari pihak luar yang berkaitan dengan sekolah
  • Simpan dan arsipkan dengan baik

2. Berusaha mengetahui kebutuhan kepala sekolah
  • Pelajari informasi yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan seputar pendidikan
  • Sampaikan informasi yang diterima kepada kepala sekolah untuk didiskusikan
  • Mengingatkan kalender pendidikan kepada kepala sekolah apabila mendekati jadwal pelaksanaan kegiatan

3. Kemanapun guru ditugaskan agar membawa buku catatan
  • Ingatkan kepada guru bahwa manusia itu mudah lupa, untuk itu mintalah untuk selalu membawa buku catatan dan segera mencatatnya informasi dan data-data yang diterima
  • Agar lebih mudah dan ringkas jika guru memanfaatkan dan memiliki note pada perangkat gawai masing-masing. 

Sampaikanlah kepada guru-guru agar memiliki sistem arsip yang baik agar mudah memberikan informasi ketika minta. 

(Alapakguru)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...