Alapakguru: Menjadi Warganet Saleh Nun Cerdas (Bagian 1)

Menjadi Warganet Saleh Nun Cerdas (Bagian 1)

Ala Pak Guru | 5/18/2019 04:55:00 pm |
Saat ini, semua menjadi lebih mudah dengan adanya internet. Apalagi dengan adanya smartphone (gawai) yang sangat mendukung internet. Ingin tahu informasi apapun tinggal tanya pada si Mbah Google. Tidak tahu jalan bisa tanya si Maps. Ingin berbuka puasa sesuai selera, si Ojol sudah siap. Ingin jalan-jalan ke manapun tinggal klik dengan jari-jari. Dunia seakan di genggaman tangan. Rasanya bau surga ada di sekeliling kita, ya? Surga dunia.

Namun, internet tidak hanya menghadirkan sisi enak-enak saja. Ada positif pun banyak negatifnya. Kalau pengguna tidak bijak dan cerdas akibatnya bisa celaka dan penjara menanti. 

Baru-baru ini diberitakan di berbagai media, seseorang yang melakukan ujaran kebencian yang diunggah di media sosial (medsos) mengantarkannya masuk penjara. Kalau sudah dipenjara, siapa yang tidak menyesal? Terpisah dengan orang-orang yang dicintai dan bahkan ada yang gagal menikah. Tentu tidak hanya itu saja, akibat buruk dari internet misalnya: banyaknya penipuan, saling olok, dan masih banyak lagi kasus lainnya. 

Kehadiran gawai hendaknya diikuti dengan perilaku yang cerdas dan bijak. Gawai meskipun mungil, tiap detiknya membawa berbagai informasi yang sangat deras. Informasi yang sangat banyak ini ibarat banjir. Selain membawa hal-hal yang baik tentu membawa jutaan lumpur dan sampah informasi yang buruk, seperti hoax  dan propaganda.

Apa sih hoax itu?

Hoax itu informasi yang kebenarannya dipelintir oleh pembuatnya. Tujuannya menipu pembaca untuk percaya dengan informasinya.  

Apa pula propaganda?

Propaganda adalah informasi yang bertujuan untuk menggiring opini. Menampilkan informasi yang dipotong-potong menjadi tidak utuh. Sehingga informasinya membentuk kesan yang berbeda dengan faktanya.

Seringkali kita menerima informasi yang masuk lewat medsos seperti WA grup atau FB yang mengharukan dan menyentuh. Kemudian bawa perasaan (baper), lalu ikutan menyebarkannya. Tanpa saring sebelum sharing terlebih dahulu. Apakah informasinya benar atau hoax? 

Nah, agar tak terjerumus dengan hal demikian cobalah analisis terlebih dahulu. Setidaknya ada empat narasi yang biasa dipakai dalam penyebaran berita hoax ini. 

Pertama 

Teori konspirasi, pada model ini diasumsikan bahwa pada setiap kejadian atau kejanggalan yang tidak mampu dijelaskan, terdapat kekuatan-kekuatan besar dan jahat yang mampu memanipulasi sebuah kejadian atau menjadi dalang sebuah peristiwa, namun asumsi ini tidak memiliki penjelasan yang sistematis dan bukti yang lengkap. 

Narasi konspirasi memanfaatkan model logika tautologi. Narasinya menghubung- hubungkan satu penanda ke penanda lainnya tanpa memperhatikan korelasi kedua penanda. Selain itu, menggunakan argumen ad baculum, yaitu memanfaatkan ketakutan publik. 

Pada umumnya teori konspirasi menyangkut ketakutan publik dan penggerusan nilai-nilai publik tertentu. Misalnya: konspirasi zionis, freemason, illuminati, komunis internasional dan lain-lain.

Kedua

Mitos urban, pada model ini informasi yang ditampilkan serba hiperbolis yang memancing emosi. Emosi yang ditimbulkan bisa marah, benci, sedih, bahagia, terharu dan lainnya. Informasinya diramu sedemikian rupa. Misalnya baik menjadi terlalu baik, buruk menjadi terlalu buruk, terlalu menakjubkan atau bahkan tragis. 

Informasi seperti ini biasanya memanfaatkan mitologi urban, religi, atau tradisi yang seakan-akan muncul secara nyata di tengah masyarakat. 

Misalnya mengangkat mitos tentang anak durhaka yang dikutuk jadi ikan pari. Sehingga dapat menimbulkan rasa takut pada pembacanya. 

Ketiga

Model kontroversi, pada model ini biasanya sering digunakan untuk menarik perhatikan pembaca atau pemirsa. Informasinya dipotong sebagian atau dipelesetkan. Selain itu, pada model ini mengajak pembaca atau pemirsa untuk menautkan informasi yang satu dengan lainnya. Meskipun informasinya belum tentu ada hubungannya. 

Model kontroversi biasanya mengangkat isu besar yang dikaitkan dengan isu-isu kecil. Jika diperiksa secara teliti tidak ada kaitannya satu sama lainnya. 

Pada umumnya model ini dipakai untuk kampanye politik. Tujuannya untuk menjatuhkan lawan politiknya.  

Keempat    

Sumber tidak jelas, informasi yang ada ketika diperiksa tidak jelas sumbernya. Biasanya berasal situs-situs yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.  Misalnya website abal-abal, blog gratisan yang tidak mencantumkan nama penulis dan tanggalnya yang jelas. 

Nah, setelah memahami keempat narasi di atas, jadilah warganet yang saleh nun cerdas. Setidaknya melakukan saring terlebih dahulu sebelum sharing ke yang lainnya. 

Sumber bacaan:

Nur Hakim, Irfan.2018. Akhlak Nge-Medsos: Panduan Menjadi Netijen Shaleh. Tangerang Selatan: Yayasan Islam Cinta Indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...