Alapakguru: Cara Menulis Soal Uraian dan Menilainya dengan Adil

Cara Menulis Soal Uraian dan Menilainya dengan Adil

Ala Pak Guru | 3/21/2018 11:19:00 am |

Foto Alapakguru bersama siswa
Beberapa saat yang lalu saya menjadi salah satu narasumber dalam acara sosialisasi terkait Ujian Sekolah Berstandar Nasional di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Salah satu materi yang dinanti-nanti peserta adalah segala pernak pernik yang berkaitan dengan teknik penulisan soal uraian, cara mengoreksi, dan cara menilai soal uraian dengan baik.

Paling hangat diperbincangkan dalam acara tersebut adalah cara mengoreksi dan cara menilaiannya. Banyak pertanyaan yang muncul dari peserta. Paling ekstrem pertanyaannya adalah, “Apakah bisa adil cara menilai soal uraian untuk semua siswa? Bagaimana teknik mengoreksinya nanti? Karena sudah hangat dan rasa ingin tahunya tinggi saya sengaja mengendurkan dulu nafsu bertanyanya, dengan joke-joke  kecil. Setelah, mereda saya mulai menjelaskan dengan gaya saya tentunya.


Sekalipun sudah saya jelaskan dengan jelas dan sekaligus contoh-contohnya. Setelah pulang masih ada beberapa pemahaman antar peserta yang belum ngeh. Sehingga masih ada yang WA saya bertanya-tanya lagi. Lebih uniknya lagi pertanyaannya, “yang benar yang mana om?” sambil mengirimkan beberapa pilihan hasil menilainya.

Untuk itu dengan senang hati tulisan ini saya khususkan buat teman-teman guru yang kebetulan masih dilanda kebimbangan. Ada juga yang takut menyampaikan ke teman-teman di daerahnya. Sekaligus untuk menebus janji saya kepada teman yang selalu bertanya, “mana tulisan tentang soal uraian, Pak?”

Baiklah, bisa dimulai bacanya dengan santai. Kalaupun masih kurang jelas bisa diulang lagi sampai mantab hatinya.

Teknik Penulisan Soal Uraian

Soal uraian adalah soal yang jawabannya terurai, terstruktur, dan sesuai dengan gagasan peserta didik. Soal uraian menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang dipelajarinya dalam bentuk uraian tertulis.

Keunggulan
Dapat mengukur kompetensi peserta didik dalam menyajikan jawaban terurai secara bebas, mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pesert didik sendiri.

Keterbatasan
Jumlah materi atau pokok bahasan yang dapat ditanyakan terbatas, waktu untuk memeriksa jawaban cukup lama, penskoran relatif subjektif, dan tingkat reliabilitas relatif lebih rendah dibandingkan dengan soal bentuk pilihan ganda karena reliabilitas skor pada soal bentuk uraian sangat tergantung penskor tes.

Berdasarkan penskoran, soal bentuk uraian diklasifikasikan menjadi uraian objektif dan uraian non objektif.

Soal bentuk uraian objektif
Rumusan soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu sehingga penskoran dapat dilakukan secara objektif.

Soal bentuk uraian non objektif
Rumusan soal menuntut sehimpunan jawaban berupa pengertian/konsep menurut pendapat masing-masing peserta didik sehingga penskorannya sukar dilakukan secara objektif (penskoran dapat mengandung unsur subjektivitas).

Pada prinsipnya, perbedaan antara soal bentuk uraian objektif dan non objektif terletak pada kepastian penskoran. Pada soal uraian bentuk objektif, pedoman penskoran berisi kunci jawaban yang lebih pasti. Setiap kata kunci diuraikan secara jelas dan diberi skor 1. Pada soal uraian bentuk non objektif, pedoman penskoran berisi kriteria-kriteria dan setiap kriteria diskor dalam bentuk rentang skor.

Kaidah Penulisan Soal Uraian
Beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam penulisan soal bentuk uraian adalah sebagai berikut:

Materi
1.      Soal harus sesuai dengan indikator
2.      Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.
3.   Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran, misal soal Matematika harus menanyakan kompetensi Matematika, bukan kompetensi berbahasa atau yang lainnya.
4.      Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, atau tingkat kelas. Tingkat kompetensi yang diukur harus disesuaikan dengan tingkat peserta didik, misal kompetensi pada jenjang SMA tidak boleh ditanyakan pada jenjang SMP, walaupun materinya sama, atau sebaliknya soal untuk tingkat SMP tidak boleh ditanyakan ditingkat SD.

Konstruksi
1.   Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata-kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai, seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya siapa, di mana, kapan. Demikian juga kata-kata tanya yang hanya menuntut jawaban ya atau tidak.
2.      Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
3.      Buatlah pedoman penskoran segera setelah soal ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penskoran, besar skor bagi setiap komponen, atau rentang skor yang dapat diperoleh untuk setiap komponen, atau rentang skor yang dapat diperoleh untuk setiap kriteria dalam soal yang bersangkutan.
4.      Hal-hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar, grafik, peta atau yang sejenisnya harus disajikan dengan jelas, berfungsi, dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda dan juga harus bermakna.

Bahasa
1.    Rumusan butir soal menggunakan bahasa (kalimat dan kata-kata) yang sederhana dan komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta didik.
2.      Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan peserta didik atau kelompok tertentu.
3.      Rumusan soal tidak mengandung kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
4.      Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5.      Rumusan soal sudah mempertimbangkan segi bahasa dan budaya.
6.      Jangan mengunakan bahasa yang berlaku setempat.

Penyusunan Pedoman Penskoran
Pedoman penskoran merupakan panduan atau petunjuk yang menjelaskan tentang batasan atau kata-kata kunci atau konsep untuk melakukan penskoran terhadap soal-soal bentuk uraian objektif dan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang diharapkan atau kriteria-kriteria jawaban yang digunakan untuk melakukan penskoran terhadap soal-soal uraian non objektif. Pedoman penskoran untuk setiap butir soal uraian harus disusun segera setelah penulisan soal.

Kaidah penulisan pedoman penskoran
Uraian Objektif
1.      Tuliskan semua kemungkinan jawaban benar atau kata kunci jawaban dengan jelas untuk setiap nomor soal.
2.      Setiap kata kunci diberi skor 1 (satu)
3.      Apabila suatu pertanyaan mempunyai beberapa subpertanyaan, rincilah kata kunci dari jawaban soal tersebut menjadi beberapa kata kunci subjawaban. Kata-kata kunci ini dibuatkan skornya masing-masing 1.
4.      Jumlah skor dari semua kata kunci yang telah ditetapkan pada soal. Jumlah skor ini disebut skor maksimum dari satu soal.

Uraian Non Objektif
1.      Tuliskan garis-garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan pedoman atau dasar dalam memberi skor. Kriteria jawaban disusun sedemikian rupa sehingga pendapat/pandangan pribadi peserta didik yang berbeda dapat diskor menurut mutu uraian jawabannya.
2.      Tetapkan rentang skor untuk tiap garis besar jawaban. Besar rentang skor terendah 0 (nol), sedangkan rentang skor tertinggi ditentukan berdasarkan keadaan jawaban yang dituntut oleh soal itu sendiri. Semakin kompleks jawaban, rentang skor semakin besar. Untuk memudahkan penskoran, setiap rentang skor diberi rincian berdasarkan kualitas jawaban, misalnya untuk rentang skor 0-3: jawaban tidak baik 0, agak baik 1, baik 2, sangat baik 3. Kriteria kualitas jawaban (baik tidaknya jawaban) ditetapkan oleh penulis soal.
3.      Jumlah skor tertinggi dari tiap-tiap rentang skor yang telah ditetapkan. Jumlah skor dari beberapa kriteria ini disebut skor maksimum dari satu soal.

Prosedur Peskoran
1.     Pemberian skor pada jawaban uraian sebaiknya dilakukan per nomor soal yang sama untuk semua jawaban peserta didik agar konsistensi penskor terjaga dan skor yang dihasilkan adil untuk semua peserta didik.
2.   Untuk uraian objektif: periksalah jawaban peserta didik dengan mencocokkan jawaban dengan pedoman penskoran. Setiap jawaban peserta didik yang sesuai dengan kunci dinyatkan benar “benar” dan diberi skor 1, sedangkan jawaban peserta didi yang tidak sesuai dengan kunci dianggap “salah” dan diberi skor 0. Tidak dibenarkan memberi skor selain 0 atau 1. Apabila ada jawaban peserta didik yang kurang sempurna, kuran memuaskan, atau kurang lengkap, pemeriksaan harus dapat menilai seberapa jauh hail itu terjadi. Dengan demikian dapat diputuskan akan diberi skor 0 atau 1 untuk jawaban tersebut.
3.   Untuk uraian non objektif: periksalah jawaban peserta didik dengan mencocokkan jawaban dengan pedoman penskoran. Pemberian skor disesuaikan antara kualitas jawaban peserta didik dan kriteria jawaban. Di dalam pedoman penskoran sudah ditetapkan skor yang diberikan untuk setiap tingkatan kualitas jawaban.
4.  Baik soal uraian objektif maupun soan non objektif, bila tiap butir soal sudah selesai diskor, hitunglah jumlah skor perolehan peserta didik pada setiap nomor soal.
5.    Apabila dalam satu tes terdapat lebih dari satu nomor soal uraian, setiap nomor soal uraian diberi bobot. Pemberian bobot dilakukan dengan membandingkan semua soal yang ada dilihat dari kedalaman materi, kerumitan/kompleksitas jawaban, dan tingkat kognitif yang diukur. Skala yang digunakan dalam satu tes adalah 10 atau 100 sehingga jumlah bobot dari semua soal adalah 10 atau 100. Pemberian bobot pada setiap soal uraian dilakukan pada saat merakit tes.
6.      Kemudian lakukan perhitungan nilai dengan menggunakan rumus:
 Nilai tiap soal : skor perolehan peserta didik : skor maksimum tiap butir soal x bobot
7.      Jumlahkan semua nilai untuk tiap nomor soal yang diperoleh peserta didik dalam perangkat tes. Jumlah ini disebut nilai akhir dari satu perangkat tes uraian yang disajikan.
Contoh:
Nomor
Bobot
Skor Maksimum
Skor Perolehan
Nilai Perolehan
1
20
4
3
3/4 x 20 = 15
2
10
2
2
2/2 x 10 = 10
3
20
6
5
5/6 x 20 = 16,7
4
30
4
3
3/4 x 30 = 22,5
5
20
3
3
3/3 x 20 = 20
Nilai soal uraian
84,2

Misalnya penjelasan ini dirasa masih kurang memuaskan, bisa dilanjutkan di meja makan sambil ngejus atau ngeteh, asyik kan?

Sumber:
Panduan Penyusunan Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional diterbitkan Pusat Penilaian Pendidikan tahun 2018.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...