Aku duduk bersila di samping Mas
Iwan, menikmati suasana yang penuh keakraban. Tak lama setelah imam masjid
selesai salat magrib berjamaah, jamaah mulai bergerak ke serambi untuk berdoa
tasyakuran malam nisfu syaban. Setelah selesai berdoa, kami pun membuka nampan
yang ada tepat di depan kami. Daun pisang yang membungkus penutup nampan aku
jadikan alas makan. Satu demi satu kupat kubuka. Sambal kelapa mulai kutaburkan
di atasnya, lalu kutambahkan sayur lodeh. Rasanya begitu khas, sederhana tapi tak
pernah hilang cita rasa dari dahulu kala.
“Wah, kupatnya mantap sekali,”
kataku sambil tersenyum.
Mas Iwan mengangguk, menyuap
kupat dengan lahap. “Iya, apalagi kalau pakai sambal kelapa. Rasanya jadi
lengkap. Kupat ini kan bukan cuma makanan, tapi juga pengingat kita untuk
mengaku lepat (salah).”
Seorang jamaah tua yang duduk di
sebelah kami ikut menimpali. Suaranya tenang, penuh makna. “Betul sekali. Kalau
lepet itu, simbol kematian. Supaya kita ingat, hidup ini tidak kekal. Malam
Nisfu Syaban memang waktunya mendoakan orang tua dan saudara-saudara kita yang
telah tiada.”
Aku menatap kupat di tanganku,
lalu berkata pelan, “Kupat dan lepet ini sederhana, tapi maknanya ternyata
dalam sekali. Kupat mengingatkan kita untuk jujur pada diri sendiri, sementara
lepet mengingatkan bahwa kita pasti akan kembali kepada Allah.”
Mas Iwan tersenyum, menambahkan,
“Dan sayur lodeh ini bikin suasana jadi lebih hangat. Rasanya seperti rumah,
seperti kebersamaan yang tak pernah hilang.”
Obrolan ringan itu membuat
suasana tasyakuran semakin akrab. Kupat, lepet, sambal kelapa, dan sayur lodeh
bukan sekadar hidangan, melainkan cerita kehidupan yang tersaji di serambi
Masjid Baiturrahman.
Di sela-sela obrolan, seorang
jamaah lain menambahkan filosofi yang melekat pada hidangan ini. “Ada pepatah
Jawa, mangga dipun silep ingkang rapet,” katanya. Artinya, mari kita kubur
rapat-rapat kesalahan dan dendam masa lalu. Filosofi silep ingkang rapet itu
hidup dalam lepet, yang diikat kencang sebagai simbol memaafkan dan menutup
rapat luka lama.
Kupat dan lepet juga menyimpan
simbol persaudaraan. Tekstur ketan yang lengket dan padat melambangkan ikatan
silaturahmi yang erat di antara keluarga dan tetangga. Janur yang membungkus
kupat pun bukan sekadar daun kelapa muda. Dalam bahasa Arab, ja’a nur berarti
“telah datang cahaya.” Janur menjadi lambang kesucian hati manusia setelah
berpuasa, cahaya yang menuntun menuju ampunan.
Dan lepet, dengan bentuk lonjong
yang diikat kencang, sering disimbolkan sebagai mayat. Ia mengingatkan manusia
akan kematian, bahwa hidup ini fana, dan pentingnya saling memaafkan sebelum
terlambat.
Malam itu, di bawah cahaya lampu
masjid dan lantunan doa, kami belajar dari makanan tradisi: tentang syukur,
tentang rendah hati, tentang persaudaraan, dan tentang kesadaran bahwa setiap
langkah hidup akan berakhir di hadapan Allah. Kupat dan lepet bukan sekadar
hidangan, melainkan filosofi yang hidup, diwariskan dari generasi ke generasi,
mengikat hati dalam cahaya kebersamaan.

0 Comments