Kupat dan Lepet Cerita Malam Nisfu Syaban


Malam Nisfu Syaban di Masjid Baiturrahman benar-benar terasa hangat. Lampu-lampu masjid berpendar lembut, cahayanya menerobos lubang-lubang jendela kayu yang terukir indah. Doa-doa bergema, mengisi ruang dengan ketenangan. Dari serambi, aroma kupat dan lepet perlahan menyebar, berpadu dengan wangi santan sayur lodeh yang baru saja diangkat dari tungku. Nampan-nampan besar tersusun rapi, penuh dengan kupat dan lepet, ditemani sambal kelapa yang gurih dan sayur lodeh yang mengepul harum, seakan mengundang siapa saja untuk segera menyantapnya.

Aku duduk bersila di samping Mas Iwan, menikmati suasana yang penuh keakraban. Tak lama setelah imam masjid selesai salat magrib berjamaah, jamaah mulai bergerak ke serambi untuk berdoa tasyakuran malam nisfu syaban. Setelah selesai berdoa, kami pun membuka nampan yang ada tepat di depan kami. Daun pisang yang membungkus penutup nampan aku jadikan alas makan. Satu demi satu kupat kubuka. Sambal kelapa mulai kutaburkan di atasnya, lalu kutambahkan sayur lodeh. Rasanya begitu khas, sederhana tapi tak pernah hilang cita rasa dari dahulu kala.

“Wah, kupatnya mantap sekali,” kataku sambil tersenyum.

Mas Iwan mengangguk, menyuap kupat dengan lahap. “Iya, apalagi kalau pakai sambal kelapa. Rasanya jadi lengkap. Kupat ini kan bukan cuma makanan, tapi juga pengingat kita untuk mengaku lepat (salah).”

Seorang jamaah tua yang duduk di sebelah kami ikut menimpali. Suaranya tenang, penuh makna. “Betul sekali. Kalau lepet itu, simbol kematian. Supaya kita ingat, hidup ini tidak kekal. Malam Nisfu Syaban memang waktunya mendoakan orang tua dan saudara-saudara kita yang telah tiada.”

Aku menatap kupat di tanganku, lalu berkata pelan, “Kupat dan lepet ini sederhana, tapi maknanya ternyata dalam sekali. Kupat mengingatkan kita untuk jujur pada diri sendiri, sementara lepet mengingatkan bahwa kita pasti akan kembali kepada Allah.”

Mas Iwan tersenyum, menambahkan, “Dan sayur lodeh ini bikin suasana jadi lebih hangat. Rasanya seperti rumah, seperti kebersamaan yang tak pernah hilang.”

Obrolan ringan itu membuat suasana tasyakuran semakin akrab. Kupat, lepet, sambal kelapa, dan sayur lodeh bukan sekadar hidangan, melainkan cerita kehidupan yang tersaji di serambi Masjid Baiturrahman.

Di sela-sela obrolan, seorang jamaah lain menambahkan filosofi yang melekat pada hidangan ini. “Ada pepatah Jawa, mangga dipun silep ingkang rapet,” katanya. Artinya, mari kita kubur rapat-rapat kesalahan dan dendam masa lalu. Filosofi silep ingkang rapet itu hidup dalam lepet, yang diikat kencang sebagai simbol memaafkan dan menutup rapat luka lama.

Kupat dan lepet juga menyimpan simbol persaudaraan. Tekstur ketan yang lengket dan padat melambangkan ikatan silaturahmi yang erat di antara keluarga dan tetangga. Janur yang membungkus kupat pun bukan sekadar daun kelapa muda. Dalam bahasa Arab, ja’a nur berarti “telah datang cahaya.” Janur menjadi lambang kesucian hati manusia setelah berpuasa, cahaya yang menuntun menuju ampunan.

Dan lepet, dengan bentuk lonjong yang diikat kencang, sering disimbolkan sebagai mayat. Ia mengingatkan manusia akan kematian, bahwa hidup ini fana, dan pentingnya saling memaafkan sebelum terlambat.

Malam itu, di bawah cahaya lampu masjid dan lantunan doa, kami belajar dari makanan tradisi: tentang syukur, tentang rendah hati, tentang persaudaraan, dan tentang kesadaran bahwa setiap langkah hidup akan berakhir di hadapan Allah. Kupat dan lepet bukan sekadar hidangan, melainkan filosofi yang hidup, diwariskan dari generasi ke generasi, mengikat hati dalam cahaya kebersamaan.

Reaksi:

Post a Comment

0 Comments