Alapakguru: March 2018

Jamaah Yang Tercecer

Ala Pak Guru | 3/30/2018 07:29:00 am |

Foto Alapakguru bersama siswa
Ketika kakiku melangkah memasuki musala sekolah aku lihat semua kepala bersujud tertumpu pada sajadah. Aku perhatikan secara bersamaan teman-temanku mulai berdiri melanjutkan rakaat yang kedua salat dhuha. Semua tampak rapi bersama-sama.
“Ya Tuhan, kenapa aku terlambat tadi?”
Ku mulai rakaat pertama salat dhuhaku. Ku angkat kedua tangan mengucapkan takbir.
“Allahu akbar”

Tidak Ada Lagi "This Folder is Empty"

Ala Pak Guru | 3/28/2018 10:45:00 am |
Foto Alapakguru Lagi Bengong
Sebuah Keinginan, Kesadaran, dan Pembudayaan

Keinginan untuk memiliki buku membuat diriku dilanda cemas, takut, dan seperti hilang arah. Kecemasan itu makin menjadi ketika ide untuk menuangkan karya itu tak ada, sedangkan waktu terus berjalan. Setelah susah payah mencari ide, tiba-tiba muncul ide untuk menulis namun muncul rasa takut jika tulisanku tak bermutu. Perasaan cemas dan takut ternyata membuat diriku seperti kehilangan arah. Padalah keinginan segera untuk memiliki buku semakin mempengaruhi diriku. Seolah diriku ini seorang ayah yang belum memiliki keturunan yang telah mencoba segala daya dan usaha, namun belum jua Tuhan memberi.

Ramadan Terakhir

Ala Pak Guru | 3/24/2018 11:25:00 am |
Rabu, 11 Maret 1994
Siang itu kulihat senyum ceria teman-temanku. Betapa senangnya mereka begitu pula denganku. Wajah kusut dan kelelahan beberapa hari mengikuti seabrek kegiatan di madrasah terasa hilang bergantikan keceriaan.  Lega rasanya kegiatan Pondok Ramadan di madrasah telah berakhir.
Kini mataku tertuju pada sepeda tua yang aku parkir di samping sekolahku. Tak peduli terik matahari membakar kulit, ku kayuh sepeda menuju rumahku. Aku mulai menyusuri jalanan makadam yang banyak debunya dan lubangnya tak terhitung banyaknya. Sesekali aku berhenti di bawah pohon asem londo. Pohon ini batangnya cukup besar dan kokoh, daunnya rimbun dan buahnya kecil-kecil. Sudah kesekian kali  aku harus berteduh di bawah pohon ini untuk menurunkan dehidrasi tubuhku. Bagiku ini cara mudah agar ludahku tak cepat kering. Meski begitu mulut ini tetap terasa pahit dan tetap saja kering seperti tidak ada ludah lagi yang tersisa di mulutku.

Aku Masih Merindu

Ala Pak Guru | 3/22/2018 08:26:00 am |
Foto http://coretandalamnurani.blogspot.co.id/
Aku masih merindu menunggu datangnya
Sua atau mencipta senja bersama
Melukis indahnya cumullus yang merona
Di bawah cakrawala

Aku masih merindu duduk berdua
Di bawah jendela kaca menyapa senja
Bercanda dan cerita tentang dia
Dia yang telah menjadi cahaya

Aku masih merindu
Meski jelaga menggelung sukma
Bayangan itu tak pernah sirna
Waktu pun beranjak lalu

Aku masih merindu
Bidadari kecil mencari cahaya ke kolong langit jiwa
Rona itu terlihat dari jendela
Lalu berkata rindu juga padanya yang telah menjadi cahaya di sana

Cara Menulis Soal Uraian dan Menilainya dengan Adil

Ala Pak Guru | 3/21/2018 11:19:00 am |

Foto Alapakguru bersama siswa
Beberapa saat yang lalu saya menjadi salah satu narasumber dalam acara sosialisasi terkait Ujian Sekolah Berstandar Nasional di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Salah satu materi yang dinanti-nanti peserta adalah segala pernak pernik yang berkaitan dengan teknik penulisan soal uraian, cara mengoreksi, dan cara menilai soal uraian dengan baik.

Paling hangat diperbincangkan dalam acara tersebut adalah cara mengoreksi dan cara menilaiannya. Banyak pertanyaan yang muncul dari peserta. Paling ekstrem pertanyaannya adalah, “Apakah bisa adil cara menilai soal uraian untuk semua siswa? Bagaimana teknik mengoreksinya nanti? Karena sudah hangat dan rasa ingin tahunya tinggi saya sengaja mengendurkan dulu nafsu bertanyanya, dengan joke-joke  kecil. Setelah, mereda saya mulai menjelaskan dengan gaya saya tentunya.

Ada Gerih Garing di Days Hotel

Ala Pak Guru | 3/13/2018 09:30:00 pm |
Foto Alapakguru
“Days Hotel and Suites Jakarta, tulisan itu terpampang di papan nama depan hotel. Hotel bertingkat ini nampak menjulang dan paling tinggi di antara bangunan lain di sekitarnya. Pak Parman kita telah sampai hotel,” teriakku sambil menepuk bahu untuk membangunkan Pak Parman yang tertidur di Grab yang kami tumpangi berdua. “Ini uangnya, Pak,” Pak Parman memberikan seratus lima puluh ribu rupiah kepada sopir Grab. Sambil kelakar aku menimpali sopir, “Pak, tiket atau kuitansinya bisa dipecah jadi dua?” “Maaf, Pak alat cetaknya lagi bermasalah,” jawabnya singkat sambil menunjukkan alat cetak. Kami berdua pun tersenyum kecut.

Di atas Awan Cumullus Bersama GA 311

Ala Pak Guru | 3/04/2018 11:17:00 am |

Tuhan tak mengada-ada ketika menggerakkan kaki makhluk-Nya melangkah. Apa yang dilakukan makhluk-Nya telah menjadi perencaanan yang matang. Semua rahasia itu telah dituliskan di buku diri setiap penciptaan-Nya.

“Pak berangkat jam berapa?” Tanyaku pada Pak Suparman, salah satu guru SD yang tinggal di kota soto Lamongan.
“Aku ikut saja, Pak. Bagaimana baiknya saja.” Jawab Pak Suparman dengan nada pasrah.
“Baik, Pak. Kalau begitu aku lihat-lihat jadwal penerbangan dulu,” sembari menelusuri informasi di dunia maya. Aku juga minta bantuan saudaraku yang tinggal di Sidoarjo untuk membelikan tiket pesawat yang pas dengan jadwalku. Aku harus memperhitungkan lamanya perjalananku ke Juanda dan Soekarno-Hata ke Days Hotel and Suite.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...