Alapakguru: December 2019

Penjaja Makanan pun Digerus Zaman

Ala Pak Guru | 12/30/2019 07:54:00 am | Be the first to comment!
Penjaja makanan keliling sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu. Hal ini dapat diketahui di relief Candi Borobudur terdapat orang yang membawa pikulan seperti orang membawa makanan yang dijual keliling saat ini. Hal ini dipertegas dengan sumber sejarah pada abad ke 14 era Majapahit bahwa ada profesi penjual makanan dan minuman keliling yang berasal dari penduduk jawa.

Penjaja makanan keliling juga telah berkembang pada masa Hindia Belanda. Penjaja minuman cendol dawet dengan cara dipikul. Demikian juga dengan penjual sate. Biasanya mereka keliling ke permukiman urban atau pun juga di perkampungan jawa.

Seiring perkembangan zaman. Model menjajakan makanan mengalami perkembangan. Ada yang didorong pakai gerobak, seperti es cendol dawet, nasi goreng, bakso. Ada pula yang ditarik pakai sepeda.

Untuk memberikan ciri khusus, cara pengolahan dan penyajianya pun dibuat bermacam-macam. Ada yang menggunakan wajan, kompor, arang dan segala keunikannya.

Cara memberitahu pelanggannya juga dibuat unik. Ada yang menyeru, "te sate, prak ketoprak." Ada pula dengan bantuan alat yang menimbulkan suara khusus, misalnya suara, "tok tok, ting ting, dog dog," dan masih banyak lagi.

Kalau diamati penjual makanan keliling tidak hanya berkembang di Pulau Jawa saja. Seluruh nusantara juga memiliki keunikan dan aneka makanan sekaligus keunikan cara menjajakan. Indah sekali keunikan dalam memanjakan lidah kita.

Kini zaman berubah cepat, semua butuh cepat, mudah, dan banyak pilihan. Semua tersedia dan terhubung dengan gawai. Mau milih minuman dan makanan yang diinginkan tinggal klik. Tanpa menunggu lama pesanan sudah siap dinikmati.

Akankah keunikan aneka model menjajakan makanan ini tergerus habis oleh kemajuan teknologi. Lalu anak cucu kita hanya mendengar cerita saja. "Ting ting," bakso sudah datang. Eh cuma cerita saja

Penjaja makanan sebenarnya hanya contoh kecil semata. Dunia kini berkembang cepat. Masa depan masih sulit diprediksi. Bagaimana bapak dan ibu guru menyiapkan peserta didiknya siap menghadapi tantangan zaman?

Tujuan pembelajaran harus berubah. Tidak hanya pada level pengetahuan saja. Cobalah sampai tahap analisis, evaluasi, dan mencipta. Lalu biasakan dan kembangkan terus.

Kang Azam, nglamun sarapan disik

Sumber:
Kompas, Minggu 29 Desember 2019 hal 17

Hadiah Baru Mas Menteri

Ala Pak Guru | 12/29/2019 09:56:00 pm | Be the first to comment!
Mas Nadiem telah resmi dilantik menjadi menteri oleh Pak Jokowi. Publik banyak yang kaget pun tidak sedikit yang bertanya-tanya. Selain bukan dari tokoh pendidikan juga bukan praktisi pendidikan. Oleh karena itu, Mas Menteri dengan segala kerendahan hati  menyatakan akan belajar terlebih dahulu untuk menentukan arah kebijakan.

Sebagai menteri termuda tentu akan membawa gairah baru. Khususnya di dunia pendidikan yang sudah lama dipimpin oleh tokoh-tokoh senior. Maka banyak yang berharap kehadirnya dapat membuat lompatan besar di dunia pendidikan yang selama ini menjadi sorotan.

Ada empat hal yang menjadi arah kebijakan baru Mas Menteri. Pertama menghapus USBN pada tahun 2020 dengan mengantinya asesmen tingkat sekolah. Kedua menghapus UN pada tahun 2021 dengan mengganti assesmen kompetensi minimal yang akan dilaksanakan bagi peserta didik kelas 4, 8, dan 11. Ketiga menyederhanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dari 13 komponen menjadi 3 komponen inti saja. Keempat memperbaiki PPDB Zonasi dengan lebih fleksibel dan menambah prosentase jalur prestasi.

Apa pun yang menjadi kebijakan sudah biasa  menjadi pro dan kontra. Namun, bagi guru kebijakan Mas Menteri tersebut menjadi hadiah terbesar, khususnya dengan menyederhanakan RPP.


Setelah beredarnya Surat Edaran Mendikbud nomor 14 tahun 2019. Bukan guru namanya jika tidak bertanya, "Bagaimana bentuknya RPP sederhana yang digambarkan Mas Menteri cukup satu halaman saja?"

Esensi RPP adalah sebagai panduan mengajar yang berorientasi pada keberhasilan belajar peserta didik. Maka guru punya banyak pilihan berinovasi merancang dan melaksanakan pembelajaran yang dikehendaki dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Maka tepat sekali jika RPP dibuat cukup satu halaman. Jadi untuk mengajar esok hari guru dapat dengan mudah merancangnya tanpa banyak waktu.

Guru dapat merancang pembelajaran berorientasi Higher Order Thinking Skill (Hots). Ada banyak model-model pembelajaran yang dapat dipilih guru dengan mengikuti sintak-sintaknya.  Guru juga dapat merancang pembelajaran abad 21 yang ditandai dengan 4C, yaitu communication, collaborative, critical thingking and problem solving, dan creativity and inovation.

Keinginan Pino si Ulat Pohon

Ala Pak Guru | 12/25/2019 04:29:00 pm |
Suatu hari, di sebuah hutan hiduplah seekor ulat pohon bernama Pino. Ia hidup sendiri tanpa ada keluarga yang mendampinginya. Berbeda dengan makhluk lain yang ada di hutan itu yang ditemani dengan keluarganya.
Pino merasa tak bahagia. Tubuhnya berwarna hijau kekuningan. Ia membenci tubuhnya yang besar dan juga lamban. Ia sering berbicara sendiri.
"Kupu-kupu itu.”
“Semut-semut itu.”
“Seandainya aku bisa terbang dan berlari seperti mereka."
Pino pun mencoba sekuat tenaga untuk bisa terbang. Tapi apa daya, yang dilakukanya tidak pernah membuahkan hasil. Kemudian ia terus merangkak dan memakan dedaunan dengan rakusnya.
“Semut-semut itu jahat tidak mau membantu.”
Salah seekor semut  yang berbaris terakhir bernama Rima. Ia berkata, "Hai ulat berapa banyak daun yang kau makan? Beristirahatlah dan simpan daun itu untuk kita.
Pino menjawab, "Hah makan apa? Aku merasa sangat lapar sepanjang waktu."
"Makanlah ulat kecil, semua ini hanya proses untuk tumbuh dewasa," sahut nenek semut.
"Berapa banyak lagi daun yang ia butuhkan untuk tumbuh dewasa nenek?" Tanya Rima.
"Cukup banyak, ia akan tumbuh dengan cara yang berbeda, bahkan tidak kau kenali."
"Ayo makanlah ulat bulu agar dirimu sehat!"
"Terima kasih, Nek, tapi aku tidak terlalu suka dengan diriku."
"Jangan kau hina ibu alam dengan mengatakan seperti itu! Ibu alam telah mengatur mahluknya dengan berbagai jenis yang istimewa."
"Iya nenek semut."
“Eettss….tunggu dulu kau masih dapat melakukan banyak hal!"
Pino terus merangkak dan makan sampai musim panas memberi jalan ke musim gugur. Pepohonan menumpahkan daunnya yang berwarna merah, oranye, dan kuning membuat dunia tampak kemerahan.
Saat dedaunan jatuh, sekumpulan jangkrik kecil, kumbang, dan lebah terbang bersama dedaunan mengejar daun sampai ke tanah. Pino ingin mengejar dedaunan seperti mereka tetapi ia terlalu berat. Pino hanya akan jatuh menggelinding dengan bunyi yang keras dan menyakitkan.
Pino berterik namun menahan suara, "Oh, seandainya aku bisa terbang seperti mereka mengejar dedaunan yang indah ini."
Musim gugur segera berlalu memberi jalan untuk musim dingin. Hari semakin pendek dan malam menjadi sangat dingin. Setiap hari Pino merasakan kantuk yang luar biasa. Ia tidak tidak pernah merasakan hal yang sama seperti sebelumnya.
Kemudian Pino menemukan dahan yang kuat untuk beristirahat. Ia mulai menenun selimut di sekeliling tubuhnya. Akhirnya dengan uapan yang sangat kencang Pino tertidur dan terjatuh di dalam selimut hangatnya.
Musim dingin kini telah datang. Kemudian datanglah Rima. Rima melihat Pino tertidur di dalam selimutnya.
"Hah apa ini?"
Nenek semut menyahut, "Jangan ganggu ia, Rima!"
"Tentu nenek." Jawab Rima.
Kemudian Putri musim dingin datang. Putri tersebut memandangi Pino yang tertidur di dalam selimut hangatnya.
“Hai, teman kecil. Tidur…tidur…tidurlah! Saatnya ibu alam memberi keajaiban untukmu.”
Musim dingin hanya bertahan sampai tiga bulan. Setelah seluruh dunia beristirahat, malaikat-malaikat kecil dari alam membangunkan setiap kuncup dedaunan dan bunga-bunga yang tertidur. Sinar matahari yang hangat membungkus bunga-bunga es dengar kehangatan.
Pino pun terbangun. Kini, musim dingin telah perg berganti musim semi. Ia merasa kepanasan di dalam selimutnya. Ia ingin segera keluar.
Kemudian Rima dan neneknya datang.
"Nenek kelihatanya Pino akan keluar."
"Iya, ia akan keluar." 
Pino terus berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari selimutnya.
"Nenek, ia tidak bisa keluar. Ayo kita bantu!"
"Tidak… tidak. Biarlah ia bekerja keras. Bekerja keras baik untuknya"
"Mengapa tidak boleh dibantu, Nek?"
"Kamu akan mengetahui alasan ya setelah beberapa menit."
Akhirnya retakan mulai terjadi di selimutnya. Pino perlahan mulai muncul keluar.
"Nenek apa itu?
“Di mana ulat lamban itu”
“Aapakah itu Pino?"
"Iya, itu adalah Pino si ulat lamban. Ia membutuhkan proses untuk menjadi sempurna. Indah kan ia sekarang?"
"Iya, Nek. Ia menjadi semakin indah sekarang."
Kini ulat bulu tersebut sudah bisa terbang menjadi kupu-kupu yang indah.
"Hore...hore...hore aku sudah bisa terbang seperti lebah... hore... hore," teriaknya kegirangan.
"Apakah ini benar-benar aku nenek?"
"Iya itu benar dirimu."
Pino sangat senang dan gembira karena sudah bisa terbang seperti yang lainya.  
Nenek semut pun akhirnya berpesan pada Rima.
 “Semua yang ada di dunia ini membutuhkan proses berjuang, seperti ulat tersebut. Ia tidak boleh dibantu untuk keluar dari kepompongnya. Karena jika ia di bantu, ia akan menjadi ulat yang tidak bisa apa-apa dan tidak akan tumbuh dengan sempurna. Maka latihlah dalam hidupmu sikap sabar dan mandiri karena itu penting untuk kehidupan yang lebih baik lagi.”

Dongeng ditulis Jacinda Nala L.
Editor Akang Azam

Afkar, Sukro, dan Problem Solving

Ala Pak Guru | 12/21/2019 08:20:00 pm |
Ilustrasi alapakguru
Malam pertama biasanya mengesankan, begitulah kata sebagian orang. Aku pun setuju dengan pendapat tersebut.

Menggunakan waktu pertamanya dengan orang teristimewa. Mungkin juga mengesankan untukku dan anakku.

Sepulang dari musala, lelaki kecilku telah menghampiriku dan memeluk manja. Meski tak kemana-mana, pikirannya aku ajak ke sana kemari.

"Ayo bermain problem solving, Nak!" Tawarku.

"Problem solving itu menyelesaikan masalah tanpa masalah, Pak?" Balik bertanya.

"Iya, boleh juga," Sahutku.

"Nanti setiap jawaban benar, bapak beri hadiah Rp100,00. Setelah mencapai Rp1.000,00, hadiahnya ribuan. Bagaimana...?"

"Nanti hadiahnya aku belikan kacang sukro, ya?"

"Boleh, asal dapat mencapai itu."

Pertanyaan pertama, "Pak Afkar memiliki tiga potong tempe dan enam potong tahu, berapa bagian masing-masing anaknya, jika anak Pak Afkar ada tiga?"

"Setiap anak mendapatkan satu potong tempe dan dua potong tahu," jawabnya.

"Kok bisa?" Tanyaku balik.

"Ya bisa, tempenya tiga, tahunya enam, anaknya tiga. Nah, supaya adil dibagi rata."

Pertanyaan kedua, "Afkar rajin minum susu. Setiap dua bulan tinggi badannya bertambah setengah centimeter. Jika tinggi badan Afkar sekarang 121 cm. Berapa tinggi badan Afkar setelah setahun minum susu?"

"Dua bulan setengah centimeter, empat bulan satu centimeter, setahun berarti tiga centimeter. Jadi tinggi badannya 124 cm."

"Yeeee, Rp200,00 di tangan. Semangat...kacang sukro Rp8.500,00."

Begitulah pertanyaan demi pertanyaan aku sampaikan. Makin besar hadiahnya semakin menantang untuk menyelesaian masalahnya. Hingga pada akhirnya Afkar mampu mengumpulkan nilai Rp8.500,00.

"Ini uangnya Rp10.000,00 boleh Afkar belikan kacang sukro."

"Bapak harganya ternyata Rp9.000. Ini kembaliannya Rp1.000,00. Berarti kurang Rp500,00. Siap diberi soal lagi."

Aku pun tersenyum, "Baiklah. Jika sekali kunyah Afkar menghabiskan empat butir kacang, berapa butir kacang yang Afkar habiskan jika mengunyah selama tujuh kali?"

"28, Pak," Jawabnya dengan cepat.

"Kerennn. Selamat makan sukro, ya."

Begitulah malam pertamaku mengisi liburan bersama orang teristimewa. Afkar dan kacang sukri, eh sukro.
Bagaimana denganmu?

Akang Azam, 21 Desember 2019

Memerdekakan Guru dari Beban Administrasi Bernama RPP

Ala Pak Guru | 12/14/2019 09:51:00 pm |
Ilustrasi Akang Azam
Mas Nadiem telah mengirimkan surat edaran nomor 14 tahun 2019 tentang penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Surat tersebut menandaskan pernyataan sebelumnya pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) sebagaimana diberitakan (Tempo, 25/11/2019), bahwa pentingnya guru merdeka dan pengerak. Hal ini karena banyaknya masukan bahwa guru terlalu dibebani dengan banyaknya administrasi.

Faktanya, guru memang sangat dibebani dengan administrasi. RPP sebagaimana dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang standar proses yang muatannya gemuk sampai dengan 13 komponen.  Maka di dalam surat edaran tertanggal 10 Desember 2019 tersebut disederhanakan menjadi tiga komponen inti yang harus ada, yaitu tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan penilaian pembelajaran. Sedangkan komponen lainnya sifatnya pelengkap. 

Beberapa pernyataan yang sempat viral di media sosial, Mas Nadiem menyebutkan bahwa RPP dapat disederhanakan hingga cukup satu halaman. Jika dibandingkan dengan RPP yang selama ini dibuat guru tentu benar-benar sederhana dan dapat menjawab keluh kesah beban administrasi guru. 

Tentu banyak yang sepakat dengan kebijakan Mas Nadiem, bahwa banyaknya komponen yang ada dalam RPP sebelumnya tidak menyentuh langsung dengan esensi pembelajaran. Bahkan cenderung pengulangan administratif. Misalnya Komponen KI, KD, materi ajar, Metode, Sumber Belajar. Karena komponen-komponen tersebut telah ada pada silabus, dan buku ajar. 

Kini, guru merdeka dapat secara bebas  memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP secara mandiri untuk sebesar-besarnya keberhasilan belajar murid. Namun tetap memperhatikan prinsip penyusunan RPP, yaitu efesien, efektif, dan berorientasi murid. 

Berikut contoh RPP dengan tiga komponen inti yang saya buat di sini https://is.gd/ycsjos. Namun demikian, saya belum bisa menyederhanakan hingga satu halaman. Tidak masalah juga kan? 

Jika Anda guru penggerak, cobalah mengudar RPP dengan komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.  Selamat berinovasi para penggerak. 

Bojonegoro, 14 Desember 2019
Salam alapakguru, 
#Guru Merdeka
#Guru Penggerak
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...