Alapakguru

Bintang di Hati

Ala Pak Guru | 5/07/2020 11:53:00 am | Be the first to comment!
Langkah kaki masih terus berjalan. Dua mata enggan berkedip tertuju pada awan hitam. Bulir-bulir bening mengalir perlahan di hidung yang mungil. Roman muka yang tak mampu bersembunyi dari kegelisahan. Sabar dan sabarlah hati. Sahabat itu bagai sepasang burung yang terbang di antara dahan-dahan. Kadang terbang mendekat pun tiba-tiba melampaui batas mata memandang.

Gadis kecil ini berawak semampai. Dagunya lancip. Hidungnya mungil. Rambutnya hitam bersinar.  Awal bulan Mei Sifa sudah 12 tahun menghirup segarnya alam perdesaan. Selama itu pula Sifa menetap di sisi selatan pegunungan kendeng.

Sifa sangat bersyukur memiliki teman sebaya yang sangat dekat.  Di mana ada Sifa di situ ada kembarannya. Dialah Talia. Meski bukan saudara, banyak kemiripan di antara keduanya. Teman-temanya menjuluki planet kembar.

Pagi itu Sifa tampak bengong saat membuka mata.  Beberapa kali matanya dipejamkan lalu dibuka lagi. Kemudian matanya dipejamkan lagi cukup lama. Jari telunjuknya diusap-usapkan di antara kedua alisnya yang mengkerut. Pikirnya masih gulana.

"Ehemmm, tadi malam ayah yang memindahkan kamu ke kamar sayang." Ayah menyapa dengan bibir simetris terbuka satu centi ke kanan dan satu centi ke kiri.

"Maaf, ya, Ayah. Tadi malam Sifa ketiduran." Jawab Sifa.

"Iya, ayo bereskan tempat tidurmu dan segera salat subuh!" Perintah ayah.

"Iya, Yah."

Sifa membereskan tempat tidurnya dan berjalan menuju musala rumahnya. Sifa salat berjamaah bersama ayah dan ibunya.

Salat subuh pun usai, Sifa menyempatkan diri untuk membaca buku cerita kesukaannya. Kemudian tiba-tiba gawainya berdering.

"Kringgg kringgg kring."

"Halo, Assalamulaikum."

"Waalaikumussalam."

"Ini Talia, kan?"

"Iya, oh ya kita jadi lari pagi, kan?"

"Jadi dong."

"Aku tunggu di depan rumah ya, Fa."

"Iya."

Sifa segera bersiap dan pamitan pada ayah ibu.
"Sifa berangkat dulu, ya, Ayah Ibu."

"Iya,  hati-hati, Sifa."

"Siap, Bu."

Sampailah Sifa di depan rumah Talia.

"Ayo berangkat!" Ajak Talia dengan semangat.

"Yuk." Jawab Sifa.

"Ayo dong lari yang kencang supaya cepat sampai tujuan." Ucap Talia sedikit ketus.

"Kelihatannya aku nggak kuat deh." Jawab Sifa yang napasnya ngos-ngosan.

"Ya sudah, kita istirahat dulu, yuk." Jawab Talia.

Mereka berdua duduk di pinggir sekolah yang gerbangnya masih tertutup rapat. Hari sudah menjelang pagi. Sinar Matahari sudah tampak kuning keemasan. Semburat kemerahan di cakrawala mulai memudar.

"Eh, kok sudah pagi, Fa."

"Iyaaa kok sudah pagi, ya. Cepat amat."

"Kita lanjutin perjalanan aja kalo gitu!" Ajak Talia.

"Iya deh." Jawab Sifa lemas.

Sambil berlari santai, Talia mengobrol dengan Sifa.

"Fa, besok kan pengambilan rapor pasti aku yang menjadi juara kelas." Ucap Talia dengan nada yang sombong.

Memang itulah sifat Talia. Dia memang pengertian tapi selalu asal bicara tanpa tau itu menyinggung perasaan orang lain atau tidak.

"Iya, pasti kamu kok yang jadi juara kelas mana mungkin aku." Jawab Sifa mengalah.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah masing-masing. Sifa menginjakan kakinya di rumah. Sebelum masuk rumah dia tak lupa untuk mencuci tangan.

"Bu!"

"Udah pulang, Nak?"

"Iya, Bu."

"Sifa tadi udah mandi, kan?"

"Udah dong, Bu. Sifa ke kamar dulu, ya?

"Iya sayang."

Tak seperti biasanya. Sifa memikirkan perkataan Talia teman sebayanya yang dianggapnya adalah saudara. Sifa takut apabila besok pada pembagian rapor dia yang menjadi juara kelas.

Sifa merenunggg merenunggg dan terus merenung. Mata Sifa menatap kaca jendela dan membelai boneka pink di sebelahnya.
Pada keesokan harinya ibu mengajak Sifa, "Sifa, ayo berangkat sekolah!"

"Iya, Bu."

"Semangat dong sayang kan mau terima rapor. Siapa tau kamu yang menjadi juara kelas?" Ibunya menyemangati.

"Iya, Bu."

Sesampainya di sekolah. "Selamat pagi, Talia." Sapa Sifa pada Talia.

"Pagi" Jawab Talia sinis  tak seperti biasanya.
Hari ini semua orang tua harus datang ke sekolah untuk menerima rapor siswa. Para orang tua wali sudah masuk di ruangan kelas dan siswa disuruh menunggu di luar kelas.

"Tal, ke kantin, yuk!" Ajak Sifa.

"Males." Jawab Talia ketus.

"Aneh tak seperti biasanya." Ucap Sifa dalam hati.

Bukan ke kantin bersama Sifa melainkan Talia ke kantin bersama Puput teman barunya.

"Ta, emangnya kamu nggak takut?" Tanya Puput.

"Takut kenapa?"

"Siapa tau Sifa menjadi bintang kelas, terus muka kamu mau kamu taruh ke mana?"

"Nggak mungkinlah pasti yang jadi bintang kelas aku lagi. Tahun kemarin aku yang jadi bintang kelas, kan?"

"Iya deh moga-moga kamu."

"Gitu dong."

Beberapa jam kemudian, "Sifaaa, sini, Nak!"
"Loh, Bu emangnya udah selesai nerima rapornya?"

"Udah."

"Aku dapet juara berapa?" Tanya Sifa bergembira.

"Kamu jadi bintang kelas, Nak. Selamat, ya." Sambil mencium kening Sifa.

Sifa sangat senang bisa membanggakan kedua orang tuanya tapi Sifa pasti akan kehilangan sahabatnya. Di sisi lain Talia mendapat juara dua. Hal itu menyebabkan Talia iri dan enggan bersahabat dengan Sifa.

Sejak kejadian itu Talia menjaga jarak dengan Sifa. Setiap harinya Sifa merasa hampa karena tidak punya sahabat lagi. Dia hanya termenung di kamar sambil memikirkan Talia. Mata Sifa terus menatap langit yang gelap dan menitipkan satu tetes air mata untuk sahabatnya. Sifa tak habis pikir. Sabatnya kini menjauh darinya karena merebut prestasi.

Pada malam harinya, "Fa, ini ibu buatkan susu." Sambil mengetuk pintu kamar.

"Iya." Sifa membuka pintu.

"Kamu kenapa? Cerita dong sama ibu!"

"Sifa nggak papa kok, Bu."

"Sifa, saya ini ibu kamu, jadi saya tau kamu sedang bersedih atau tidak." ucap ibu menerangkan.

"Sifa kehilangan sosok teman yang Sifa anggap seperti saudara Sifa sendiri." Ucap Sifa sedih.

"Apa yang kamu maksud Talia?" tanya ibu.

"Emmm tap," belum selesai Sifa bicara ibu menyangkal.

"Ibu tau pasti Talia marah sama kamu gegara kamu jadi bintang kelas, kan? Ayo jujur sama ibu!"

"Iya, Bu" Jawab Sifa seakan tak berdaya lagi.
"Udah deh nggak usah dipikir mesti Talia marah sama kamu nggak akan lama." Ucap ibu menenangkan.

Kemudian ibu keluar dari kamar Sifa sambil mengucapkan, "Selamat malam."

Hari libur telah tiba. Sifa berpikir bahwa Talia sudah tak marah padanya meski hari-hari ini tak ada komunikasi sama sekali terhadap keduanya. Tapi yang dipikirkan Sifa salah. Talia masih tak mau berbicara pada Sifa.

Sudah hampir satu minggu libur, Talia masih saja berdiam diri di rumah. Padahal Sifa sudah mencoba meminta maaf lewat pesan WA.

"Huh, sudahlah. Mungkin Talia sudah bosan berteman denganku." Ucap Sifa dalam hati.
Dia pun mulai tidur di kasurnya yang empuk karena hari sudah malam.

"Assalamualaikum."

"Waalikumsalam." Jawab ibu.

Sifa yang masih tertidur di kamarnya pun bangun. Setelah ibu membuka pintu ternyata Talia ada di situ. Betapa girangnya Sifa. Sifa pikir Talia ingin meminta maaf padanya tetapi kali ini dugaan Sifa salah lagi. Talia hanya ingin mengantarkan uang arisan milik mamanya pada ibu Sifa.

Sifa kembali ke kamar dengan pucat. Lalu dia kembali berbaring di atas kasurnya. Tak terasa Sifa terbangun suasana sudah sore.

"Buuu ibu."

"Iya, Fa."

"Bu, kok udah sore?"

"Iya tadi kamu ketiduran tapi ibu kasihan mau bangunin kamu takutnya kamu lagi capek."

"Oh, gitu."

"Mandi sana!"

"Iya, Bu."

Sehabis mandi Sifa ganti baju dan berdandan di depan cermin. Usai itu, dia menjemur handuknya. Gawainya terus berdering. Sifa tak menghiraukannya karena dia pikir itu bukan telepon dari Sahabatnya.Ternyata setelah ia membuka WA ada pesan dari Talia sahabatnya itu.

Pesan dari Talia, "Maafkan aku ya, Fa. Sikapku begitu egois padamu. Mungkin kamu sudah tak mau berteman lagi denganku. Sekali lagi maafkan aku, ya!"

Sifa langsung menelepon Talia.
Sifa, "Halo, aku Sifa aku nggak marah kok sama kamu, Ta. Malahan aku seneng kamu udah mau minta maaf. Kalo aku ada salah tolong maafin aku ya."

Talia, "Iya, kamu nggak salah kok aku yang salah di sini seharusnya aku tak marah bila kamu yang menjadi juara kelas."

Sifa, "Iya, ya udah jangan dibahas lagi kita masih sahabatkan?"

Talia, "Ya, iya dong."

Sifa, "Ya udah Asalamualaikum nanti kita ke taman yuk!"

Talia "Iya deh, daaa."

Waktu terus berjalan, mereka kembali seperti biasanya tanpa ada ganjalan apa pun. Sahabat kadang seperti bintang di siang hari, tak terlihat tapi selalu ada. Tak perlu persaingan di antara keduanya. Persahabatan hanya perlu saling mengerti dan memahami.

Karya : Jacinda Nala Lexandra
Editor : Azam

Pertolongan Tak Terduga

Ala Pak Guru | 4/29/2020 01:34:00 pm | Be the first to comment!
dokpri
"Alangkah rumitnya jalan ini tanpa petunjuk-Mu
Sepi, sunyi, jemu tanpa-Mu
Wahai zat mahasuci: luruskan jalanku dengan petunjuk-Mu
Temani aku dalam kefanaanku."

Di sebuah kota besar, hiduplah seorang pemuda kaya raya. Pemuda itu bernama Zabir. Zabir berusia 25 tahun dan dia sudah memiliki perusahaan sendiri.

Zabir orang yang dermawan. Dia sering bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Zabir selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Menurut Zabir semua yang dia miliki saat ini karena Allah.

Zabir memiliki perusahaan sepatu. Dia membuka cabang hampir di seluruh daerah Jawa. Zabir selalu memperlakukan pekerjanya dengan baik. Pekerja Zabir tidak pernah melakukan kesalahan. Sehingga, Zabir sangat merasa santai dengan pekerjaannya.

Suatu hari, saat Zabir berada di ruangannya terdengar suara ketokan pintu.

"Tokkk tokk tok. Pak Zabir." Ucap salah seorang pegawainya.

"Iya silakan masuk." Zabir menyilakan dengan ramah.

"Pak, saya ingin menyampaikan berkas ini kepada bapak." Ujar pegawai Zabir dengan wajah gemetar.

"Iya sudah sini, tidak usah gugup gitu!" Kata Zabir dengan santai.

Zabir segera membaca isi berkas tersebut.
"Apa usaha kita bangkrut." Teriak Zabir dengan mata melotot dan wajah memerah.

"Iya, Pak. Maaf." Kata pegawainya dengan menundukkan kepala.

"Kamu itu tidak bisa diandalkan. Bagaimana ini. bisa terjadi. Kamu saya pecat sekarang juga." Ucap Zabir sambil membanting berkas itu.
Usahanya bangkrut dan Zabir memiliki banyak hutang di bank.

Suatu hari ada tamu mendatangi rumah Zabir.
"Pak, bayar hutang Anda sekarang juga!" Kata seorang petugas bank.

"Iya, Pak. Beri saya waktu tiga hari lagi. Saya mohon." Kata Zabir dengan memelas.

"Tidak bisa anda sudah menunda tiga bulan. Sebagai gantinya, rumah Anda saya sita. Jadi silakan kemasi barang-barang dan tinggalkan rumah sekarang juga." Kata seorang petugas bank dengan nada tinggi.

Zabir meninggalkan rumah dengan penuh kekecewaan. Zabir hanya memiliki sedikit uang untuk menyewa rumah kontrakan. Zabir mau tidak mau harus bekerja keras lagi. Zabir akhirnya bekerja sebagai pedagang kurma.

Akibat kemiskinannya, Zabir sekarang menjadi orang yang sesat. Zabir sering meninggalkan ibadahnya. Dia tidak bersedekah meski memiliki rezeki lebih. Bahkan, Zabir pernah mencuri harta orang lain. Zabir selalu mengeluh dan tidak pernah bersyukur.

"Pak silakan dibeli. Bu silakan dibeli. Kurmanya murah." Ucap Zabir sambil menawarkan kurmanya.

"Hahhh, tidak ada yang beli hari ini. Sudah lelah, haus, tidak punya uang lagi. Aku tidak akan memohon pada Allah lagi. Tidak ada gunannya juga. Dari dulu aku sudah memohon, sampai sekarang tidak ada hasilnya juga. Sungguh tidak adil Allah." Keluhnya sambil membawa kurma-kurma tersebut pulang.

Pada esok hari, Zabir kembali berjualan. Sayang sampai siang hari dagangannya tidak ada yang membeli. Tidak berapa lama terdengar suara gemuruh dari ujung jalan. Ternyata itu segerombolan preman jalanan. Preman itu menghampiri Zabir.

"Heh, mana uangmu?" Kata seorang preman dengan wajah bengis.

"Saya tidak punya uang." Ujar Zabir.
Preman itu segera memukuli Zabir dan mengikatnya di salah satu pohon di tengah hutan.

Suatu hari, ada seorang laki-laki tua dengan jenggot separuh putih sedang menggelar tikar di bawah pohon pule. Namanya Dono. Kakek Dono sedang beristirahat di tepi hutan dengan berbekal sepotong roti gandum. Roti itu dibungkus daun pisang kering dan diletakkan di atas tikar, agak jauh dari tempatnya merebahkan tubuhnya.

Saat Kakek Dono akan duduk, tiba-tiba datang dua ekor burung secepat kilat menyambar gulungan daun pisang berisi roti. Karena dia tidak kuat menahan lapar, Kakek Dono mengejar dua burung itu. Burung itu membawa kakek Dono ke tengah hutan. Akhirnya kedua burung itu berhenti di sebuah pohon besar. Kakek Dono terkejut di bawah pohon itu terdapat seorang pemuda yang diikat tubuhnya.

"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" Tanya Kakek Dono pada pemuda itu.

"Aku adalah pedagang kurma. Saat itu, ada preman dan aku tidak memiliki uang. Aku dipukul dan diikat di sini. Beberapa jam setelahnya, aku sadarkan diri dan terkejut karena berada di tengah hutan. Aku beruasaha melepaskan ikatan tali ini tetapi tidak bisa." Jawab Zabir sambil menahan rasa sakit.

Setelah mendengar pengakuan Zabair, Kakek Dono segera membuka tali yang mengikat sekujur tubuh Zabir.

"Terima kasih ya, Kek. Kalau tidak ada kakek pasti aku sudah mati kelaparan." Ucap Zabir.

"Tidak usah berterima kasih pada kakek, berterima kasihlah kepada Allah.

Zabir segera meninggalkan hutan dan membawa kakek Dono pulang ke rumah. Di rumah Zabir, Kakek Dono selalu berdo'a kepada Allah. Kakek Dono juga bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

Melihat Kakek Dono, Zubair kagum. Meski Kakek Dono miskin, dia tetap membagikan rezekinya kepada orang lain. Zabir berkata, "Kek aku boleh ikut bersedekah?"

"Tentu saja boleh. Allah selalu melihat perilaku hambanya. Kamu boleh bersedekah meski sedikit. Karena hal yang kamu anggap sedikit, dianggap berharga oleh orang lain." Ucap kakek sambil menepuk pundak Zabir.

Berkat kakek Dono, Zabir bisa mendekatkan diri kepada Allah. Zabir menjadi orang yang baik hati. Sekarang Zabir melakukan perintah Allah meski hartanya tidak berlimpah seperti dulu.

Allah selalu memaafkan kesalahan hambanya. Jika kita rajin beribadah, keberuntungan selalu memihak kita. Memohon ampunlah kepada Allah jika kita melakukan kesalahan. Jalan terbaik adalah berdo'a dan memohon ampun kepada Allah.

*Karya: Shinta Kurnia Rahayu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...