Alapakguru: May 2020

Songkok Hitam Kyai

Ala Pak Guru | 5/17/2020 10:33:00 am | Be the first to comment!

Suara ayam jantan berkokok berulang-ulang seperti membangunkan orang-orang yang terlelap tidurnya. Kang Mamang pun tak mau kalah  dengan mikrofonnya yang nyaring membangunkan orang-orang untuk sahur.

"Sahuuur! Sahuuur! Sahuuur!"

"Bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik sahurrrrr!"

Disusul dentuman bedug Lek Mul. Meskipun jarang-jarang suaranya mengengang telinga seluruh isi kampung. Mataku masih enggan terbuka. Kedua tanganku kompak menutup kedua telinga. Aku menarik selimut tebalku untuk tidur lagi. 

Mulutku meracau sebal. Aku jengkel sekali tapi apalah daya aku gagal tidur lagi. Akhirnya aku  terbangun juga.

Aku terbangun dari tidur dengan muka lusuh dan menjerit seperti ketakutan. Lalu aku bengong memandangi sekelilingku.

"Ais, kenapa, Nak?" Ayah mendatangi kamarku yang tak terkunci.

"Ais kaget, Yah. Ais pikir suara sahur itu. Ais lupa mau ngomong apa he he."

"Ya, sudah cuci wajahmu dan segera ke meja makan. Bunda sudah menunggumu dari tadi."

Aku pun menuruti perintah ayah.

"Bun"

"Ais, kamu mau sayur apa?"

"Sayur kangkung sama brokoli saja, Bun."

"Ini makan yang banyak supaya kuat puasanya. Jangan lupa baca doa!"

"Iya, Bun."

Beberapa menit kemudian sepiring nasi beserta sayur kangkung dan brokoli habis tak bersisa.

"Alhamdulillah kenyang."

"Susunya belum diminum?" Tanya bunda.

"Siap! Ais habiskan, Bun."

Setelah makan sahur aku, bunda, dan ayah membaca niat puasa bersama-sama.

"Kamu sudah gosok gigi?" Tanya ayah.

"Sudah."

Kemudian aku siap-siap salat subuh ke musala.

"Ais berangkat ke mushola dulu ya Bun, Yah."

"Ya, hati-hati!"

Aku menuju musala bersama Yunita tetanggaku. Hanya sebentar  kami berdua telah sampai di musala. Meskipun musala Al Amin itu kecil tapi suasananya menenangkan hati.

"Ayo buruan wudu, Yun, keburu salat!"

"Iya, iya."

Sesudah salat aku dan Yuni ikut berzikir. Mulutku komat-kamit membaca lafaz zikir. Aku memandangi songkok-songkok yang dipakai para jamaah laki-laki. Tiba-tiba pandanganku berhenti di sebelah tempat imam. Aku melihat ada songkok berwarna hitam di etalase kecil. Songkok itu tampaknya sudah bertahun-tahun di etalase tetapi tampak lebih bersih daripada songkok bapak-bapak lainya.

"Eh, Yun!"

"Ada apa?"

"Ada yang mau aku bicarakan."

"Nanti saja."

"Oke, baiklah."

Usai  berdoa, aku dan Yuni pulang dulu.

"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan, Ais?"

"Eh tidak jadi." Aku tak jadi membicarakan hal itu pada temanku.

"O, ya sudah."

Tak lama kemudian sampailah aku di rumah dan segera memanggil bunda, "Bun."

"Iya, Ais."

"Ayah mana?"

"Ayah sudah berangkat kerja. Ayah kan sekarang piket."

"Oh, begitu ya, Bun."

Aku sebelum masuk kamar menarik tangan bunda.

"Bun, Ais pinjam laptop, boleh?"

"Iya, ambil di kamar Bunda, ya!"

"Terima kasih, Bun."

Sebenarnya aku pinjam laptop bunda bukan untuk mengerjakan tugas tapi untuk mencari tahu tentang songkok di musala Al Amin.

Saat ini, aku masih ragu dan takut untuk menanyakan soal songkok tersebut pada ayah.
Aku memutuskan untuk mencari tahu di internet. 

Aku mengetik nama Musala Al Amin di mesin pencari dan berulang-ulang mencari tahu tentang songkok di kotak kaca itu. Tiba-tiba, bunda mengetok dan membuka pintu kamarku. Aku pun buru-buru menarik selimut agar bunda mengira aku telah tidur. Setelah bunda keluar dari kamarku aku melanjutkan pencarianku.

Sudah dua jam kuhabiskan untuk menyelidiki tetapi hasilnya nol besar. Rasa penasaran masih memenuhi tanyaku. Aku ingin tahu. Aku merasa ada yang aneh dengan songkok itu. Songkok itu pasti bertuah.

Suara air berkecipak terdengar di telingaku. Angin dingin mendesis membuat bulu kuduk di punggung leherku berdiri.  Kuberanikan membuka sedikit gorden jendela kamar. Aku tak melihat apa-apa.

Hari sudah menjelang siang dengan hiruk pikuknya. Siang pun berjalan gontai dengan segala lelahnya. Senja akhirnya datang menawarkan warna indahan. Burung-burung bul-bul telah kembali ke sarangnya. Sampailah giliran ayah yang pulang dari tempatnya bekerja.

Setelah bedug magrib, ayah mengajakku untuk berbuka bersama di teras belakang rumah. Aku menyantap penganan bersama ayah dengan lahap.

Kini telunjuk ayah mulai mengarahkan mataku ke bintang gemintang. Aku memandanginya tampak seperti lentera dari kejauhan. Ayah memapahku di pangkuannya.  Aku bermanja meletakan kepalaku dan segala rasa lelahku di pangkuan ayah.

"Yah, Ais mau tanya." Bola mata Ais tampak beradu pandang dengan ayah.

"Tanya apa?" Ayah memandangi Ais dengan penuh tanya.

"Yah, kenapa songkok berwarana hitam itu selalu diletakan di dalam kotak kaca musala?" Bola mataku yang hitam berhenti beradu pandang dengan mata ayah.

"Memangnya milik siapa?" Aku tak sabar ingin segera mendengar ayahnya cerita panjang.

"Sepertinya ada yang aneh, Yah." Mulutku memberondong rasa penasaran kepada ayah.

Kemudian ayah mulai bercerita. Aku mendengarkan   sambil menatap bibir ayah yang mulai terbuka. Tatapan ayah tiba-tiba menjauh ke atas langit. 

"Dulu di musala itu didatangi seorang kyai. Kyai itu sangat alim dan sangat sabar. Kemudian beliau menjadi imam di musala itu, mengajari anak-anak mengaji, berceramah, dan membantu orang-orang bekerja. Orang-orang yang semula banyak yang meninggalkan salat sedikit demi sedikit ikut salat jamaah di musala. Orang-orang sangat menyegani kyai tersebut. Sampai suatu hari kyai ini tengah salat malam lama sekali. Namun anehnya keesokan harinya kyai tersebut menghilang. Kabar tersebut menggemparkan warga. Mereka mencari keberadaan kyai namun hasilnya mengecewakan. Mereka tidak menemukan kyai. Saat kembali ke musala ditemukanlah songkok yang selalu kyai pakai dan secarik kertas bertuliskan, "Aqimis sholah."

Cerita ayah membuatku tak sabaran. Ayah membuatku spontan bertanya.

"Terusss, Yah?"

Dalam kondisi bingung dan panik, orang-orang akhirnya memusyawarahkan pesan tersebut. Salah seorang tetua masyarakat mengusulkan untuk mengabadikan songkok kyai tersebut. Semuanya mengiyakan tanda setuju.

Sejak saat itu, untuk mengobati rasa kehilangan masyarakat menyimpan songkok kyai dan meletakkan di samping imam. Masyarakat pun semakin senang ke musala untuk salat jamaah.

"Jadi begitu ya, Yah?" Tanyaku dengan perasan lega.

"Sekarang ayah mau tanya sama kamu, hal baik apa yang bisa kamu petik dari cerita songkok kyai tersebut?"

"Ehmmm, kita harus senantiasa mendirikan salat, Yah."

"Ayah, Ais, yuk masuk! Bunda sudah buatkan teh dengan roti kelapa yang nikmat" ucap bunda.

Malam harinya aku bermimpi. Aku berada di tempat yang penuh dengan cahaya. Semua laki-laki memakai songkok hitam sedangkan yang perempuan berkerudung. Semuanya tampak wajahnya tersenyum dan bersinar. 

Kemudian seorang kakek tua mendatangiku. Kakek itu berjenggot putih, membawa tasbih di tangan kanannya dan memakai jubah putih.  Kakek tua itu mendekapku dan berkata, "Jadikan salat dan sabar sebagai penolongmu!"

Aku terbangun dan terdiam sejenak. Aku bersyukur menemukan pesan yang baik dari rasa penasaran pada songkok hitam di Musala Al Amin itu.

Karya : Jacinda Nala Lexandra
Editor : Azam

Bintang di Hati

Ala Pak Guru | 5/07/2020 11:53:00 am | Be the first to comment!
Langkah kaki masih terus berjalan. Dua mata enggan berkedip tertuju pada awan hitam. Bulir-bulir bening mengalir perlahan di hidung yang mungil. Roman muka yang tak mampu bersembunyi dari kegelisahan. Sabar dan sabarlah hati. Sahabat itu bagai sepasang burung yang terbang di antara dahan-dahan. Kadang terbang mendekat pun tiba-tiba melampaui batas mata memandang.

Gadis kecil ini berawak semampai. Dagunya lancip. Hidungnya mungil. Rambutnya hitam bersinar.  Awal bulan Mei Sifa sudah 12 tahun menghirup segarnya alam perdesaan. Selama itu pula Sifa menetap di sisi selatan pegunungan kendeng.

Sifa sangat bersyukur memiliki teman sebaya yang sangat dekat.  Di mana ada Sifa di situ ada kembarannya. Dialah Talia. Meski bukan saudara, banyak kemiripan di antara keduanya. Teman-temanya menjuluki planet kembar.

Pagi itu Sifa tampak bengong saat membuka mata.  Beberapa kali matanya dipejamkan lalu dibuka lagi. Kemudian matanya dipejamkan lagi cukup lama. Jari telunjuknya diusap-usapkan di antara kedua alisnya yang mengkerut. Pikirnya masih gulana.

"Ehemmm, tadi malam ayah yang memindahkan kamu ke kamar sayang." Ayah menyapa dengan bibir simetris terbuka satu centi ke kanan dan satu centi ke kiri.

"Maaf, ya, Ayah. Tadi malam Sifa ketiduran." Jawab Sifa.

"Iya, ayo bereskan tempat tidurmu dan segera salat subuh!" Perintah ayah.

"Iya, Yah."

Sifa membereskan tempat tidurnya dan berjalan menuju musala rumahnya. Sifa salat berjamaah bersama ayah dan ibunya.

Salat subuh pun usai, Sifa menyempatkan diri untuk membaca buku cerita kesukaannya. Kemudian tiba-tiba gawainya berdering.

"Kringgg kringgg kring."

"Halo, Assalamulaikum."

"Waalaikumussalam."

"Ini Talia, kan?"

"Iya, oh ya kita jadi lari pagi, kan?"

"Jadi dong."

"Aku tunggu di depan rumah ya, Fa."

"Iya."

Sifa segera bersiap dan pamitan pada ayah ibu.
"Sifa berangkat dulu, ya, Ayah Ibu."

"Iya,  hati-hati, Sifa."

"Siap, Bu."

Sampailah Sifa di depan rumah Talia.

"Ayo berangkat!" Ajak Talia dengan semangat.

"Yuk." Jawab Sifa.

"Ayo dong lari yang kencang supaya cepat sampai tujuan." Ucap Talia sedikit ketus.

"Kelihatannya aku nggak kuat deh." Jawab Sifa yang napasnya ngos-ngosan.

"Ya sudah, kita istirahat dulu, yuk." Jawab Talia.

Mereka berdua duduk di pinggir sekolah yang gerbangnya masih tertutup rapat. Hari sudah menjelang pagi. Sinar Matahari sudah tampak kuning keemasan. Semburat kemerahan di cakrawala mulai memudar.

"Eh, kok sudah pagi, Fa."

"Iyaaa kok sudah pagi, ya. Cepat amat."

"Kita lanjutin perjalanan aja kalo gitu!" Ajak Talia.

"Iya deh." Jawab Sifa lemas.

Sambil berlari santai, Talia mengobrol dengan Sifa.

"Fa, besok kan pengambilan rapor pasti aku yang menjadi juara kelas." Ucap Talia dengan nada yang sombong.

Memang itulah sifat Talia. Dia memang pengertian tapi selalu asal bicara tanpa tau itu menyinggung perasaan orang lain atau tidak.

"Iya, pasti kamu kok yang jadi juara kelas mana mungkin aku." Jawab Sifa mengalah.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah masing-masing. Sifa menginjakan kakinya di rumah. Sebelum masuk rumah dia tak lupa untuk mencuci tangan.

"Bu!"

"Udah pulang, Nak?"

"Iya, Bu."

"Sifa tadi udah mandi, kan?"

"Udah dong, Bu. Sifa ke kamar dulu, ya?

"Iya sayang."

Tak seperti biasanya. Sifa memikirkan perkataan Talia teman sebayanya yang dianggapnya adalah saudara. Sifa takut apabila besok pada pembagian rapor dia yang menjadi juara kelas.

Sifa merenunggg merenunggg dan terus merenung. Mata Sifa menatap kaca jendela dan membelai boneka pink di sebelahnya.
Pada keesokan harinya ibu mengajak Sifa, "Sifa, ayo berangkat sekolah!"

"Iya, Bu."

"Semangat dong sayang kan mau terima rapor. Siapa tau kamu yang menjadi juara kelas?" Ibunya menyemangati.

"Iya, Bu."

Sesampainya di sekolah. "Selamat pagi, Talia." Sapa Sifa pada Talia.

"Pagi" Jawab Talia sinis  tak seperti biasanya.
Hari ini semua orang tua harus datang ke sekolah untuk menerima rapor siswa. Para orang tua wali sudah masuk di ruangan kelas dan siswa disuruh menunggu di luar kelas.

"Tal, ke kantin, yuk!" Ajak Sifa.

"Males." Jawab Talia ketus.

"Aneh tak seperti biasanya." Ucap Sifa dalam hati.

Bukan ke kantin bersama Sifa melainkan Talia ke kantin bersama Puput teman barunya.

"Ta, emangnya kamu nggak takut?" Tanya Puput.

"Takut kenapa?"

"Siapa tau Sifa menjadi bintang kelas, terus muka kamu mau kamu taruh ke mana?"

"Nggak mungkinlah pasti yang jadi bintang kelas aku lagi. Tahun kemarin aku yang jadi bintang kelas, kan?"

"Iya deh moga-moga kamu."

"Gitu dong."

Beberapa jam kemudian, "Sifaaa, sini, Nak!"
"Loh, Bu emangnya udah selesai nerima rapornya?"

"Udah."

"Aku dapet juara berapa?" Tanya Sifa bergembira.

"Kamu jadi bintang kelas, Nak. Selamat, ya." Sambil mencium kening Sifa.

Sifa sangat senang bisa membanggakan kedua orang tuanya tapi Sifa pasti akan kehilangan sahabatnya. Di sisi lain Talia mendapat juara dua. Hal itu menyebabkan Talia iri dan enggan bersahabat dengan Sifa.

Sejak kejadian itu Talia menjaga jarak dengan Sifa. Setiap harinya Sifa merasa hampa karena tidak punya sahabat lagi. Dia hanya termenung di kamar sambil memikirkan Talia. Mata Sifa terus menatap langit yang gelap dan menitipkan satu tetes air mata untuk sahabatnya. Sifa tak habis pikir. Sabatnya kini menjauh darinya karena merebut prestasi.

Pada malam harinya, "Fa, ini ibu buatkan susu." Sambil mengetuk pintu kamar.

"Iya." Sifa membuka pintu.

"Kamu kenapa? Cerita dong sama ibu!"

"Sifa nggak papa kok, Bu."

"Sifa, saya ini ibu kamu, jadi saya tau kamu sedang bersedih atau tidak." ucap ibu menerangkan.

"Sifa kehilangan sosok teman yang Sifa anggap seperti saudara Sifa sendiri." Ucap Sifa sedih.

"Apa yang kamu maksud Talia?" tanya ibu.

"Emmm tap," belum selesai Sifa bicara ibu menyangkal.

"Ibu tau pasti Talia marah sama kamu gegara kamu jadi bintang kelas, kan? Ayo jujur sama ibu!"

"Iya, Bu" Jawab Sifa seakan tak berdaya lagi.
"Udah deh nggak usah dipikir mesti Talia marah sama kamu nggak akan lama." Ucap ibu menenangkan.

Kemudian ibu keluar dari kamar Sifa sambil mengucapkan, "Selamat malam."

Hari libur telah tiba. Sifa berpikir bahwa Talia sudah tak marah padanya meski hari-hari ini tak ada komunikasi sama sekali terhadap keduanya. Tapi yang dipikirkan Sifa salah. Talia masih tak mau berbicara pada Sifa.

Sudah hampir satu minggu libur, Talia masih saja berdiam diri di rumah. Padahal Sifa sudah mencoba meminta maaf lewat pesan WA.

"Huh, sudahlah. Mungkin Talia sudah bosan berteman denganku." Ucap Sifa dalam hati.
Dia pun mulai tidur di kasurnya yang empuk karena hari sudah malam.

"Assalamualaikum."

"Waalikumsalam." Jawab ibu.

Sifa yang masih tertidur di kamarnya pun bangun. Setelah ibu membuka pintu ternyata Talia ada di situ. Betapa girangnya Sifa. Sifa pikir Talia ingin meminta maaf padanya tetapi kali ini dugaan Sifa salah lagi. Talia hanya ingin mengantarkan uang arisan milik mamanya pada ibu Sifa.

Sifa kembali ke kamar dengan pucat. Lalu dia kembali berbaring di atas kasurnya. Tak terasa Sifa terbangun suasana sudah sore.

"Buuu ibu."

"Iya, Fa."

"Bu, kok udah sore?"

"Iya tadi kamu ketiduran tapi ibu kasihan mau bangunin kamu takutnya kamu lagi capek."

"Oh, gitu."

"Mandi sana!"

"Iya, Bu."

Sehabis mandi Sifa ganti baju dan berdandan di depan cermin. Usai itu, dia menjemur handuknya. Gawainya terus berdering. Sifa tak menghiraukannya karena dia pikir itu bukan telepon dari Sahabatnya.Ternyata setelah ia membuka WA ada pesan dari Talia sahabatnya itu.

Pesan dari Talia, "Maafkan aku ya, Fa. Sikapku begitu egois padamu. Mungkin kamu sudah tak mau berteman lagi denganku. Sekali lagi maafkan aku, ya!"

Sifa langsung menelepon Talia.
Sifa, "Halo, aku Sifa aku nggak marah kok sama kamu, Ta. Malahan aku seneng kamu udah mau minta maaf. Kalo aku ada salah tolong maafin aku ya."

Talia, "Iya, kamu nggak salah kok aku yang salah di sini seharusnya aku tak marah bila kamu yang menjadi juara kelas."

Sifa, "Iya, ya udah jangan dibahas lagi kita masih sahabatkan?"

Talia, "Ya, iya dong."

Sifa, "Ya udah Asalamualaikum nanti kita ke taman yuk!"

Talia "Iya deh, daaa."

Waktu terus berjalan, mereka kembali seperti biasanya tanpa ada ganjalan apa pun. Sahabat kadang seperti bintang di siang hari, tak terlihat tapi selalu ada. Tak perlu persaingan di antara keduanya. Persahabatan hanya perlu saling mengerti dan memahami.

Karya : Jacinda Nala Lexandra
Editor : Azam
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...