Alapakguru: Parenting
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Afkar, Sukro, dan Problem Solving

Ala Pak Guru | 12/21/2019 08:20:00 pm |
Ilustrasi alapakguru
Malam pertama biasanya mengesankan, begitulah kata sebagian orang. Aku pun setuju dengan pendapat tersebut.

Menggunakan waktu pertamanya dengan orang teristimewa. Mungkin juga mengesankan untukku dan anakku.

Sepulang dari musala, lelaki kecilku telah menghampiriku dan memeluk manja. Meski tak kemana-mana, pikirannya aku ajak ke sana kemari.

"Ayo bermain problem solving, Nak!" Tawarku.

"Problem solving itu menyelesaikan masalah tanpa masalah, Pak?" Balik bertanya.

"Iya, boleh juga," Sahutku.

"Nanti setiap jawaban benar, bapak beri hadiah Rp100,00. Setelah mencapai Rp1.000,00, hadiahnya ribuan. Bagaimana...?"

"Nanti hadiahnya aku belikan kacang sukro, ya?"

"Boleh, asal dapat mencapai itu."

Pertanyaan pertama, "Pak Afkar memiliki tiga potong tempe dan enam potong tahu, berapa bagian masing-masing anaknya, jika anak Pak Afkar ada tiga?"

"Setiap anak mendapatkan satu potong tempe dan dua potong tahu," jawabnya.

"Kok bisa?" Tanyaku balik.

"Ya bisa, tempenya tiga, tahunya enam, anaknya tiga. Nah, supaya adil dibagi rata."

Pertanyaan kedua, "Afkar rajin minum susu. Setiap dua bulan tinggi badannya bertambah setengah centimeter. Jika tinggi badan Afkar sekarang 121 cm. Berapa tinggi badan Afkar setelah setahun minum susu?"

"Dua bulan setengah centimeter, empat bulan satu centimeter, setahun berarti tiga centimeter. Jadi tinggi badannya 124 cm."

"Yeeee, Rp200,00 di tangan. Semangat...kacang sukro Rp8.500,00."

Begitulah pertanyaan demi pertanyaan aku sampaikan. Makin besar hadiahnya semakin menantang untuk menyelesaian masalahnya. Hingga pada akhirnya Afkar mampu mengumpulkan nilai Rp8.500,00.

"Ini uangnya Rp10.000,00 boleh Afkar belikan kacang sukro."

"Bapak harganya ternyata Rp9.000. Ini kembaliannya Rp1.000,00. Berarti kurang Rp500,00. Siap diberi soal lagi."

Aku pun tersenyum, "Baiklah. Jika sekali kunyah Afkar menghabiskan empat butir kacang, berapa butir kacang yang Afkar habiskan jika mengunyah selama tujuh kali?"

"28, Pak," Jawabnya dengan cepat.

"Kerennn. Selamat makan sukro, ya."

Begitulah malam pertamaku mengisi liburan bersama orang teristimewa. Afkar dan kacang sukri, eh sukro.
Bagaimana denganmu?

Akang Azam, 21 Desember 2019

Anak Kecanduan Gawai (HP) Apalah Obatnya?

Ala Pak Guru | 9/11/2019 07:19:00 pm |
Ilustrasi alapakguru

Sahabat alapakguru  di mana pun berada, bagaimana kabarnya? Selalu semangat dalam mengemban tugas mulia, menjaga dan mendidik putra-putrinya dengan penuh kebaikan. Meski berbagai tantangan selalu datang tanpa diduga sebelumnya, tetaplah semangat penuh asah, asih, dan asuh.

Saat ini sepertinya aneh jika anak-anak tidak mengenal gawai atau lebih dikenal smart phone. Orang tua banyak yang memberikan hadiah ulang tahun atau perayaan lainnya dengan gawai kepada anak-anaknya. Selain ingin mengenalkan teknologi, orang tua tak ingin anak-anaknya tertinggal dengan anak seusia lainnya yang lebih dulu kenal gawai.

Beberapa kejadian, orang tua memberikan gawai kepada anak-anak agar diam, tidak menangis, dan tidak bermain ke sana ke mari. Video dan aneka permainan menjadi pilihan yang mengasyikkan bagi anak-anak. Aneka permainan memberikan tantangan yang tiada habisnya. Hingga menjadi candu bagi mereka.

Ketika telah asyik pada gawai, anak-anak seperti lupa dunianya yang penuh keceriaan, lari-lari, berteman, bermain dengan anak-anak seusianya. Anak-anak berubah menjadi pemurung jika tidak ada waktu bermain gawai. Agresif dengan teman dan orang tua. Lupa tanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah.

Sahabat alapakguru, tetaplah tenang bersikap dan bertindaklah dengan cermat. Lakukanlah langkah berikut dengan kepala dingin. 

Pertama, berikanlah pengertian bahaya menggunakan gawai secara terus menerus. Misalnya dapat merusak mata, wajah menjadi kusut, kurang istirahat, dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain karena kurang gerak.

Kedua, berikan contoh video anak yang kecanduan gawai, mintalah anak memberikan penilaian.

Ketiga, berikan vidio pembanding anak-anak yang menggunakan gawai seperlunya saja. Mintalah anak menilai kedua video tersebut.

Keempat, ajaklah anak berdiskusi kegiatan-kegiatan positif yang dapat dilakukan pada waktu senggang.

Kelima, ajaklah anak membuat kesepakatan bersama mengatur waktu bermain dan memanfaatkan waktu senggang dengan positif. 

Gawai tetap dapat digunakan selagi bijaksana dengan mengontrol waktu yang tepat, bermain, belajar, dan bersosialisasi. Sehingga anak-anak kelak tumbuh menjadi generasi Z yang bertanggung jawab dan cerdas.

Menjadi Orang Tua, Pengasuh, dan Sahabat Anak yang Baik dan Cool

Ala Pak Guru | 9/20/2018 07:39:00 pm |
Foto Ilustrasi Alapakguru dan Anak
Menjadi orang tua yang sempurna tentu dambaan setiap ayah dan bunda. Meski belum mencapai kesempurnaan, setiap orang tua dapat belajar untuk mencapai kesempurnaan. Keberhasilan dan kesalahan yang terjadi merupakan proses pengalaman menjadi orang tua. 

Diakui atau tidak memang sulit sekali menjadi orang tua yang sempurna. Persoalan demi persoalanlah yang semakin menambah kematangan berpikir dan bertindak. Termasuk dalam pengasuhan terhadap anak. 

R. Rachmy Diana (2006:129-130) mengungkapkan  sebuah pendekatan pengasuhan anak yang dapat dijadikan rujukan bagi orang tua. Pendekatan tersebut disingkat RPM3 (Responding, Preventing, Monitoring, Mentoring, dan Modeling). 



Responding (menanggapi anak secara tepat)

Ketika mengasuh anak sering kali orang tua dihadapkan pada pemberian respon.  Ketika memberikan respon orang tua dihadapkan pada dua keyakinan, 1) orang tua hendaknya yakin sedang memberikan respon bukan reaksi dan; 2) orang tua yakin responnya tepat. 

Perbedaan merespon dan mereaksi adalah merespon berusaha mengambil waktu sejenak memikirkan yang sedang terjadi sebelum berbicara atau bertindak.  Sedangkan mereaksi adalah mengungkapkan kata-kata, perasaan, atau tindakan yang pertama kali muncul dalam benak, cenderung tidak memikirkan hasil yang dikehendaki dari sebuah kejadian atau tindakan, bahkan tidak memilik cara terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan. 

Respon dianggap tepat jika sesuai dengan situasi yang terjadi (usia dan data informasi yang tersedia). Agar respon yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan, dapat dideteksi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: 1) Apakah tindakan orang tua sesuai dengan ucapannya? 2) Apakah emosi orang tua terlibat dalam mengambil keputusan? 3) Apakah orang tua tahu alasan-alasan yang mendasari perilaku anak?

Preventing (mencegah munculnya perilaku beresiko atau bermasalah)

Sebuah ungkapan mencegah lebih baik dari pada mengobati. Melakukan pencegahan sebelum anak melakukan tindakan yang beresiko atau bermasalah menjadi pilihan yang lebih baik. 

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pencegahan mencakup dua hal: 1) memetakan permasalahan-permasalahan, melalui a) pelibatan diri secara aktif dalam kehidupan anak-anak, cara berpikir, dan kebiasaan-kebiasaannya sehingga orang tua lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak; b) menentukan batasan-batasan yang realistis dan memperkuat batasan tersebut secara konsisten, hal ini dapat diupayakan dengan membuat kesepakatan bersama; c) ajari anak mengekspresikan emosi secara sehat melalui contoh-contoh nyata. 2) mengajarkan cara memecahkan masalah, melalui a) berikan pengetahuan bahwa anak tidak sendirian; b) berikan pengetahuan bahwa masalah-masalah tertentu tidak dapat diselesaikan sendirian; c) berikan pengetahuan agar meminta bantuan jika membutuhkan. 

Monitoring (mengawasi interaksi anak dengan lingkungan sosialnya)

Orang tua yang baik hendaknya jadi pengawas yang baik pula. Seorang pengawas yang baik harus memiliki kemampuan menggabungkan bertanya dan memberi perhatian dengan membuat keputusan, menentukan batasan, dan mendorong anak mengambil keputusan positif secara mandiri. 

Selain itu, cara yang dapat dilakukan untuk menjadi pengawas yang baik adalah: 1) mengembangkan komunikasi dua arah secara jujur dan terbuka sejak dini; 2) menyampaikan kepada anak-anak tentang hal-hal yang berharga sertai alasannya; 3) mengetahui bahan tontonan, bacaan, mainan, dan yang didengarkan anak; 4) mengenali orang-orang atau teman-teman yang sering bersama anak; 5) memberikan arahan tanpa harus menjadi kaku.

Mentoring (mendukung dan menumbuhkan perilaku-perilaku yang dikehendaki) 

Anak-anak memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Sehingga mereka membutuhkan mentor kehidupannya. Orang tua adalah mentor terbaik bagi anak. Sebagai seorang mentor berarti memberi dukungan, bimbingan, persahabatan, dan penghargaan pada anak. 

Selain itu seorang mentor membantu anak-anak mencapai potensinya dengan cara mengembangkan kelebihan-kelebihannya, berikan pujian setiap keberhasilannya, mendengarkan setiap keluh kesahnya, dan menjadi teman baginya. 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua sebagai mentor adalah: 1) jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki; 2) hargai pendapat dan pemikiran anak tanpa perlu menghakimi; 3) dukung minat dan kelebihan anak-anak tanpa memaksa; 4) kenalkan anak-anak pada sesuatu yang orang tua sangat suka melakukannya. 

Modelling (menjadi contoh dan teladan yang baik)

Sebuah kata mutiara contoh selalu lebih mujarab daripada perintah. Anak-anak belajar lebih banyak dari contoh ucapan-ucapan dan tindakan yang dilakukan orang tua. Hal ini dikarenakan anak adalah peniru ulung. 

Sebagai orang tua jadilah model pertama yang ditiru anak-anak. Untuk itu tunjukkan contoh perilaku yang orang tua kehendaki pada anak. Selanjutnya yang perlu diketahui memberikan keteladanan butuh konsisntensi antara ucapan dan tindakan serta dilakukan secara istikamah.  

Sebagaimana telah diungkapkan di atas untuk mencapai kesempurnaan amatlah sulit. Demikian juga pendekatan ini hanyalah salah satu cara untuk mengasuh anak tentu masih belum sempurna. Usaha yang dilakukan terus menerus akan membuahkan hasil yang lebih dari yang dikira. Tetaplah menjadi orang tua yang cool eh bertangan dingin dalam mengasuh anak-anak yang baik.

Salam Alapakguru

Sumber bacaan: Rachmi Diana, R. 2006. Setiap Anak Cerdas! Setiap Anak Kreatif. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, Vol 3: Semarang

Setelah Terima Rapor Anak

Ala Pak Guru | 6/08/2018 11:44:00 am | Be the first to comment!
Foto Akmal dan Afkar
Dear, Ayah Bunda

Sudah terima rapor si ganteng dan si cantik, kan? Iya nih, besuk tanggal 9 Juni 2018 merupakan tanggal akhir pembelajaran tahun ajaran 2017/2018. Sebagian ada yang sudah diterimakan tanggal 8 Juni 2018 sebagian lagi mungkin besuk sudah siap diterimakan kepada ayah dan bunda. 

Meskipun ayah bunda tidak ikut belajar, pastinya ikut merasakan dag dig dug juga. Iya dong, kan ayah bundanya. Semua orang tua pasti  merasakan apa yang dirasakan anaknya. 

Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Ala Pak Guru | 6/06/2018 03:19:00 pm | Be the first to comment!
Kegiatan membaca perlu ditanamkan sejak anak mulai masuk kelas I sekolah dasar. Selain di sekolah, kegiatan membaca dapat dibiasakan di rumah. Sehingga para orang tua dapat mendampingi kegiatan membaca anak dengan riang gembira.

Anak-anak yang terbiasa membaca bersama orang tua kelak akan memiliki kegemaran membaca. Kegemaran membaca tersebut sangat membantu meningkatkan keterampilan membacanya. 

Sebagai orang tua tentu senang dan bangga jika anaknya sudah terampil membaca. Anak dapat melafalkan dengan benar, tinggi rendahnya tekanan suara baik, terlebih dapat menjawab atau menjelaskan isi bacaan meskipun sederhana. Sebaliknya jika anaknya belum juga dapat membaca menimbulkan kecemasan kepada orang tua. Kondisi seperti ini terkadang dapat menyebabkan orang tua tidak dapat mengendalikan diri. Jika hal itu berlarut-larut dampaknya anak semakin tertekan. 

Bingung Milih Sekolah?

Ala Pak Guru | 5/29/2018 08:18:00 am | 2 Comments so far
Foto Ayo Sekolah Afkar
Meski tahun ajaran baru belum dimulai, tapi pendaftaran sudah berlangsung di bulan ini. Banyak orang tua sibuk memilihkan sekolah untuk putra-putrinya tercinta. Sekolah favorit menjadi pilihan para orang tua. Wajar sajak kalau banyak sekolah favorit yang sudah tidak lagi menerima peserta didik baru. 

Siapa sih yang tidak ingin anaknya diterima di sekolah favorit? Tentu banyak alasan para orang tua berkeinginan anaknya sekolah di sekolah favorit. Tidak sedikit yang beralasan demi gengsi. Ada juga yang memilih sekolah karena bangunannya bagus dan fasilitasnya lengkap. 

Dahsyatnya Ucapan dan Kata-Kata Apalagi Doa

Ala Pak Guru | 1/21/2018 01:54:00 pm |
Gambar Dila & Zam
Suatu hari, Ustadz Mustaqim kedatangan tamu yang tampak bersedih. Tamu tersebut mengatakan bahwa ibunya menjerit-jerit histeris lalu pingsan karena anggota keluarganya tertimpa musibah. Kemudian Ustadz Mustaqim lekas memberikan air putih yang telah dibacakan doa. Tamu tersebut mengucapkan terima kasih dan bergegas pulang untuk memberikan minuman tersebut kepada ibunya. Tak lama kemudian ibunya tersadar dan perlahan-lahan mulai membaik.

Peristiwa seperti itu sudah jamak di Desa Temayang. Ketika seseorang mengalami permasalahan atau pun musibah akan diberi minum air putih yang sudah diberikan doa-doa dari orang-orang yang dianggap alim. Apakah air yang diberikan doa oleh orang-orang alim tersebut berbeda dengan air lainnya? Bagaimana air yang diberikan doa-doa mempengaruhi kesadaran seseorang?

Bangga Jadi Orang Tua Jaman Now

Ala Pak Guru | 1/01/2018 12:17:00 pm | Be the first to comment!
Libur panjang tinggal beberapa jam dan akan segera berlalu. Para orang tua tentu banyak menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Sebagian besar para orang tua pastinya menikmati musim liburan ke tempat-tempat hiburan. Mungkin sebagian lagi lebih menikmati kebersamaan dengan keluarganya di rumah.
“Ok, tidak masalah, yang penting liburannya menyenangkan dan memberikan manfaat untuk semuanya.”
Biasanya setelah masuk sekolah, banyak guru yang memberikan tugas untuk anak didiknya untuk membuat tulisan dalam bentuk cerita. Kegiatan selama liburan menjadi tema yang paling umum digunakan oleh guru-guru. Bukan tanpa alasan jika guru-guru memberikan tugas untuk menulis. Selain untuk mengasah keterampilan menulis anak-anak, tugas menulis juga merupakan bagian dari gerakan literasi sekolah.
Menjadi orang tua sangatlah menyenangkan, terlebih menjadi bagian dari orang tua yang mampu memberikan bimbingan belajar kepada anak-anaknya sendiri. Salah satu cara yang dapat bapak/ibu lakukan adalah mengajaknya menulis yang menyenangkan.
“Bagaimana caranya? Sabar dulu bapak/ibu!”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...