Alapakguru: July 2020

Peluangmu (Guru), Jangan Kau Abaikan!

Ala Pak Guru | 7/22/2020 04:20:00 pm | Be the first to comment!
Semalam dapat pesan masuk yang membuat saya domblong. Isinya permohonan solusi, trik, strategi melaksanakan pembelajaran dari rumah. 

Domblong dalam bahasa Jawa itu memandang terheran-heran dengan mulut terbuka. Saya pikir, si Pengirim pesan hilang akal. Sehingga dengan terpaksa menanyakan kepada saya. 

Antara si Penanya dan saya sebenarnya sebelas dua belas. Orang yang bertanya mengira saya "orang pintar". Sehingga apa pun ditanyakan kepada saya.  

Padalah, di Jawa orang pintar itu sudah mencapai tingkatan tertentu. Biasanya sudah pernah puasa mutih. Makannya hanya nasi dengan garam. Seperti cerita orang-orang yang kenal dengan bapak saya. Dulu, katanya bapak sering puasa mutih. Lho, berarti ada benarnya juga. Haaa.

Mungkin juga, si penanya percaya, saya punya solusi. Sekurang-kurangnya punya teman cerita yang dapat mengurangi beban pikirannya. Asalkan bertanya bukan untuk penggugur dosa semata. 

Pagebluk coronavirus disease 19 memang menjadi hambatan sekaligus tantangan para guru. Hampir semuanya gugup. Sebagian mengalami masalah yang hampir sama, bingung dengan trik, strategi, model belajar yang digunakan. Sementara yang lain merasa tertantang dan berinovasi  dalam pembelajaran.  

Sebenarnya, pemerintah telah memberikan petunjuk. Berdasarkan buku panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi coronavirus disease 19, sekolah yang berada di zona merah itu melaksanakan pembelajaran dari rumah (BDR). BDR bisa dengan sistem dalam jaringan (daring), luar jaringan (luring), atau kombinasi daring dan luring. 

Beberapa media pembelajaran daring yang dapat dimanfaatkan oleh para guru, siswa, dan orang tua, antara lain

Selain yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat juga sumber dan media pembelajaran yang dikelola oleh mitra penyedia teknologi pembelajaran yang dapat dilihat daftarnya pada laman: https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/

Ketika penanya membaca tulisan ini mungkin berpikir, "Brow, masalahnya bukan itu? Media dan sumber belajar sudah tersebar. Sebenarnya peserta didik saya itu sebagian tidak punya gawai. Sinyalnya kurang bagus. Kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan."

Sebenarnya si Penanya sudah punya modal. Modal awal mengajar itu profil peserta didik. Profil peserta didik dapat dijadikan acuan menentukan strategi, model, dan media pembelajaran yang akan digunakan.

"Lho, kok tahu kondisi ekonomi keluarga?" 

"Ya, tahu lah, brow. Kan, si Penanya sudah mengumpulkan data dengan berkomunikasi dengan orang tua."

"Itu, juga bagus." Komunikasi awal itu wajib hukumnya. Mau daring, mau luring, harus sama-sama tahu dan sepakat. 

Misalnya orang tua peserta didik sudah sepakat daring dan luring. Mulailah mengatur perencanaan meskipun terlambat sedikit. 

"Brow, sebenarnya masalahnya bingung mengatur waktunya?"

Itu, penanya sudah mengerti solusinya. Kan, si Penanya tahu masalahnya ada pada waktu. Biasanya satu pembelajaran pukul 07.00 s.d. 12.10 selama tatap muka. Sekarang bagaimana?

Waktu ya diatur tho!

Dalam kondisi serba baru seperti ini selain banyak tantangan juga peluang. Peluang bagi guru inovatif. Guru yang selalu mencari tahu setiap ada masalah pembelajaran. Guru yang mencoba cara baru dengan pengetahuan baru. Bukan begitu? 

Keterampilan Bertanya dalam Mengajar

Ala Pak Guru | 7/22/2020 12:53:00 pm | Be the first to comment!
Bertanya memang mudah, bahkan sangat mudah. Apalagi asal bertanya, siapa pun pasti mampu. Kalau hanya bertanya serampangan, semua guru juga mampu.
Mengapa saya berpendapat demikian? Karena "asal bertanya" atau "bertanya asal-asalan" tidak memerlukan keterampilan khusus. Selama ada keingintahuan, selama itu pula seorang guru mudah bertanya. 

Lain halnya jika seorang guru menganggit pertanyaan yang bergizi. Pertanyaan yang mendorong munculnya pikiran-pikiran orisinal peserta didik. Pertanyaan yang berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Itu bukan pekerjaan mudah. Seorang guru yang ingin bertanya dengan pertanyaan berorientasi keterampilan tingkat tinggi harus rajin mengasah diri. 

Kecakapan bertanya tidak diukur lamanya seseorang menjadi guru. Boleh dikatakan, kecapakan bertanya dalam proses pembelajaran tidak datang dengan sendirinya lantaran harus melewati proses yang pelik. Kecakapan bertanya sebelas dua belas dengan keandalan seseorang menggesek biola yang harus ajek di asah. Sekali berhenti, apalagi dalam waktu lama, bisa jadi lidah kelu otak pun beku. 

Sekait dengan hal tersebut, berikut saya tuturkan resep sederhana menyusun pertanyaan. Saya punya harapan besar tulisan ini memberi manfaat bagi guru. Beberapa resep pertanyaan yang digunakan dalam pembelajaran.

1. Pertanyaan Inferensial 

Pertanyaan inferensial itu pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera setelah diberikan stimulus. Seringkali guru memberikan setimulus berupa foto, gambar, teks bacaan, berita, pantun, puisi, dan lainnya untuk dicermati. Kemudian guru memberikan pertanyaan. Tujuannya mengungkap pemahaman peserta didik setelah melakukan pengamatan atau membaca informasi. 

Contoh penerapan pertanyaan inferensial:
(1) Apakah yang kamu temukan dari gambar tersebut?
(2) Apakah yang kamu ketahui dari gambar tadi?
(3) Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa di gambar tersebut?
(4) Bagaimana sikapmu terhadap peristiwa di gambar tersebut?

2. Pertanyaan Interpretasi

Pertanyaan interpretasi merupakan pertanyaan yang diberikan apabila informasi yang ada dalam bacaan tidak lengkap atau tidak ada. Peserta didik harus memberi makna. Tujuannya peserta didik dapat memberi makna suatu konsekuensi dari gejala yang ada. 
Contoh penerapan pertanyaan interpretasi:
(1) Mengapa kamu memiliki pendapat seperti itu?
(2) Apa penyebab kegagalan dari upaya untuk mengatasi pembalakan liar?
(3) Apa yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di Kabupaten Sentani?
Pertanyaan interpretasi mencakup pula:
(1) Mendorong proses berpikir, contohnya, Apa yang kamu ketahui tentang covid-19? Apa penyebabnya? Bagaimana cara mengatasinya?
(2) Struktur dan mengarahkan pada pembelajaran, contohnya, Ada beberapa bentuk korupsi, yaitu terpaksa, tamak, dan dirancang secara berjamaah. Bentuk mana yang paling berbahaya?
(3) Membangkitkan sikap emosi, contohnya,  Bagaimana sikapmu jika kamu mengalami perundungan karena kelurgamu miskin?
(4) Mendalami masalah, contohnya, Apa kesimpulanmu setelah melihat berita tumpukan sampah di pantai? Bagaimana karakter pengunjung pariwisata di daerah tersebut?
(5) Interpretasi akibat yang terjadi, contohnya setelah membaca cerita bersambung, Apa kira-kira yang akan terjadi pada tokoh tersebut?

3. Pertanyaan Transfer

Pertanyaan transfer merupakan pertanyaan yang berupaya memperluas wawasan peserta didik. Pertanyaan transfer itu mengarahkan peserta didik menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya untuk situasi yang baru. 

Misalnya membedakan satu teori dengan teori lain:
(1) Apakah pernyerbukan silang dan bastar memiliki perbedaan?
(2) Dapatkan kamu menjelaskan lebih detail lagi?

Aplikasi ilmu pada kasus lain, misalnya:
(1) Apa  yang harus dilakukan supaya tidak terulang kembali banjir bandang pada musim hujan berikutnya? 

4. Pertanyaan Hipotetik

Pertanyaan hipotetik dikenal juga sebagai pertanyaan tentang hipotesis, generalisasi, dan kesimpulan. Pertanyaan hipotesis memiliki arah untuk mendorong peserta didik melakukan prediksi atau peramalan dari sesuatu permasalahan yang dihadapi dan/atau mengambil kesimpulan untuk generalisasi. Hipotesis dan kesimpulan ini merupakan hasil pemahaman permasalahan ditambah data atau informasi yang telah dimiliki dan/atau data yang sengaja telah diperoleh untuk mengkaji permasalahan tersebut lebih jauh. 
Sebagai contoh beberapa pertanyan hipotetik berikut ini:
(1) Apa yang terjadi manakala cuaca panas dingin berubah cepat silih berganti?
(2) Apa yang terjadi jika selembar kertas ini saya jatuhkan dan bagaimana juga jika kertas ini saya remas terlebih dahulu baru saya jatuhkan?
(3) Bagaimana seandainya pekerjaan di bidang pertanian tidak lagi diminati. Adakah yang perlu dilakukan agar kebutuhan pangan tercukupi?
(4) Bagaimanakah kalau suporter yang melakukan kekerasan kesebelasannya dibekukan atau dilarang bertanding?
Pertanyaan hipotetik mencakup pula:
(1) Pertanyaan sebab akibat, contohnya, Apa yang akan terjadi jika minyak bumi habis?
(2) Pertanyaan reflektif, mempertanyakan kebenaran, contohnya, Bagaimana Saudara tahu kalau yang disajikan di tayangan infonet itu benar? 
Sekira pertanyaan itu pisau bedah. Gunakan sesuai dengan tujuan yang ingin diungkap. Rajinlah mengasah dan mengasahnya. 
 

Kecil-Kecil Besar Manfaatnya

Ala Pak Guru | 7/12/2020 11:34:00 pm | Be the first to comment!
Tanggal 13 Juli besok mengawali tahun ajaran baru 2020/2021. Tentu  sudah banyak persiapan yang akan diberikan pada peserta didiknya. Terlebih pada hari pertama masuk sekolah. Kata-kata motivasi yang mengubah dunia. Permainan-permainan seru yang pasti menyenangkan peserta didik. Kesepakatan-kesepakatan yang luar biasa untuk pembelajaran sudah barang tentu dipersiapkan.

Meski belum dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka langsung. Bukan berarti membuyarkan segala persiapan bapak/ibu yang sudah tertata. Bapak/ibu dapat memberikan informasi, petunjuk, arahan, atau bahkan MPLS secara daring. 

Ada banyak hal yang dapat dilakukan pada hari pertama masuk sekolah. Namun kadang hal sederhana dilupakan. Padalah hal yang sederhana memiliki nilai yang tak kalah penting dan besar manfaatnya. 

Sapaan
Cobalah dengan memberikan sapaan yang mengesankan. Bisa dengan kata-kata motivasi. Panggilan yang membuat peserta didik bangga. Gambar atau karakter tokoh idola. Terlebih dilengkapi dengan emoji. Apalagi diberi kartu ucapan oke banget.

Sebagian orang mungkin menganggap sapaan itu tidak penting. Namun, sapaan bagi peserta didik itu memilik arti dan makna tersendiri. Peserta didik yang disapa bapak/ibu guru merasa dihargai, disanjung. Manfaat yang utama dapat memotivasi peserta didik. 

Profil Peserta Didik
Bapak/ibu hal yang penting sebelum memberikan materi pelajaran adalah mengetahui profil peserta didik. Misalnya identitas, tanggal lahir, jenis kelamin, hobi, cita-cita, berat badan, tinggi badan, pelajaran yang disukai, pelajaran yang kurang disukai, kebiasaan belajar yang mudah diterima, memiliki HP sendiri atau belum, identitas orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan orang tua, serta alamat. 
 
Manfaat mengetahui profil peserta didik adalah dapat digunakan untuk menentukan model, strategi, media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru dapat mengelompokkan siswa dengan memperhatikan profil siswa. Guru juga dapat menyusun produk pembelajaran atau proyek yang akan dilakukan dengan memperhatikan profil peserta didik. 

Menyusun Jadwal Harian 
Diakui atau pun tidak "Belajar Dari Rumah" untuk semester lalu menjadi catatan yang banyak kekurangannya. Bapak/ibu guru dapat mengevaluasi dan mengambil pelajaran dari yang sudah terjadi. Kemudian dijadikan bahan perbaikan pada semester ini. 

Kebiasan yang kentara adalah berkurangnya atau hilangnya karakter disiplin dan tanggung jawab peserta didik.  Jadwal yang longgar, kesibukan orang tua, ditambah minimnya interaksi secara langsung dengan bapak/ibu guru menjadi penyebabnya. 

Oleh karena itu, dengan adanya BDR pada semester ini maka mulailah dengan mengajak menyusun jadwal harian peserta didik. Jadwal harian bisa dimulai sejak bangun tidur, beribadah, kegiatan belajar, olahraga, bermain, dan kegiatan lain yang menunjang, hingga peserta didik tidur. 

Manfaat dari kegiatan terjadwal tentu membiasakan peserta didik untuk disiplin dan bertanggung jawab. Jika hal ini menjadi kebiasaan tentu pada akhirnya akan menjadi budaya dan karakter peserta didik.

Standar Kompetensi Kelulusan dan Kompetensi Dasar
Hal yang jarang disampaikan ke peserta didik adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kompetensi Dasar (KD). Sebagian orang mungkin beranggapan SKL dan KD adalah milik guru. Peserta didik tidak berhak tahu. Padalah hal demikian tidak sepenuhnya benar. 

Cobalah bapak/ibu lihat rapor peserta didik. Di rapor dilaporkan KD-KD yang terbaik dan kurang dari peserta didik. 

Kalau dianalogkan rapor itu tujuan akhir sebuah perjalanan. Maka tidak elok kiranya peserta didik diberitahu akhir perjalanan sementara sejak awal tidak diinformasikan tujuan yang akan dicapai.  

Jika demikian memberitahukan SKL dan KD bagi peserta didik sebelum pembelajaran dimulai menjadi keharusan. Selain menjadi arah yang dituju dalam jangka panjang (rapor), peserta didik akan lebih mudah memahi proses pembelajaran. 

Nah, bapak/ibu guru masih banyak hal kecil yang kadang terlewatkan begitu saja. Cobalah gali lagi hal kecil yang memberi manfaat bagi keberlangsungan proses pembelajaran. Semoga sukses.

Kamu Fixed atau Growth Mindset?

Ala Pak Guru | 7/03/2020 10:18:00 pm | Be the first to comment!
Nyata sudah, pandemi covid-19 yang masih meningkat ini tidak hanya mencabik-cabik kesehatan masyarakat dan menggerus ekonomi berbagai pihak. Dunia pendidikan pun ikut keteteran. Keluh kesah para orang tua pun disampaikan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Misalnya tugas-tugas yang harus diselesaikan peserta didik terlalu membebani peserta didik dan orang tua. 

Berbagai persoalan yang bermunculan tidak hanya dari peserta didik. Para orang tua dan pendidik juga mengalami berbagai masalah. Keluh kesah orang tua dengan banyaknya tugas dan tingginya biaya paket data internet. Persoalan-persoalan lain seperti pekerjaan siswa dikerjakan orang tua. Orang tua kesulitan mendampingi anak belajar. Pendidik kesulitan mengontrol hasil belajar siswa.

Kini, pandemi covid-19  sudah lebih dari tiga bulan di Indonesia. Belum ada ahli yang benar-benar bisa memastikan akhir dari pendemi ini. Padahal sebentar lagi dunia pendidikan memasuki tahun ajaran baru. Kenormalan baru menjadi keniscayaan. Pendidikan harus terus berjalan. Belajar tidak boleh berhenti atau pun menunggu pandemi covid-19 ini berakhir. Oleh karena itu, semua pihak harus siap berinovasi. 

Setiap inovasi memiliki tantangan tersendiri. Setiap tantangan akan memiliki respon. Setiap individu memiliki langkah yang diambil untuk menghadapi tantangan yang terjadi. Maka dapat dipastikan muncul beragam respon. Banyaknya respon ini dipengaruhi oleh pola pikir masing-masing individu. 

Carrol S. Dweck dalam (Mindset:2006) menjelaskan bahwa pola pikir seseorang itu ada fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset adalah pola pikir seseorang yang meyakini bahwa apa yang dianutnya adalah yang paling benar. Ia cenderung menghindari tantangan-tantangan dan fokus berlebihan pada sesuatu yang sudah diketahuinya saja. Sedangkan growth mindset adalah pola pikir seseorang yang percaya bahwa kecerdasan dapat dikembangan. Ia akan punya keinginan untuk memperbaiki diri. Jika diberikan tantangan, ia akan coba melaluinya dengan penuh keyakinan.

Menghadapi covid-19 ini seperti menghadap cermin besar. Setiap respon yang ditampilkan individu mengindikasikan pola pikirnya. 

Berpijak pada pembelajaran sebelumnya yang masih banyak mengalami kendala. Akankah dalam diri kita ada upaya perbaikan untuk tahun ajaran baru? 

Berikut tanda-tanda fixed mindset:
(1) tidak perduli dengan masalah pembelajaran;
(2) tidak ada upaya mencari tahu menyelesaikan masalah;
(3) merasa nyaman dengan proses pembelajaran meski hasilnya kurang memuaskan; 
(4) cenderung menyalahkan peserta didik jika hasilnya kurang memuaskan.

Sedangkan tanda-tanda growth mindset antara lain: 
(1) gelisah dengan masalah pembelajaran yang dialaminya;
(2) senang dengan keberhasilan orang lain dan mencoba meniru atau pun memodifikasi;
(3) mencoba cara baru dengan pengetahuan yang baru;
(4) terbuka menerima saran dan kritik dari orang lain.

Ilmu pengetahuan selalu memberi hal baru. Setiap masalah merupakan tantangan yang harus diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. 

Mengambil bagian dari solusi setiap tantangan adalah karakter guru. Mau?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...