Alapakguru: May 2019

Jadilah Guru Tangguh

Ala Pak Guru | 5/28/2019 07:25:00 pm |
Kalau baca atau menonton berita di media sosial rasanya saat ini penuh dengan masalah. Semua persoalan diunggah ke media. Mulai curhat pribadi sampai lembaga. Kalau semua diwujudkan dalam bentuk benda bisa saja dunia ini tidak muat. 

Paling menggelitik, ketika ada kebijakan baru selalu dianggap masalah. Padahal sejatinya kebijakan dibuat untuk menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah-masalah baru.

Ketika apa-apa dianggap masalah, cobalah bertanya pada diri sendiri. Apakah kenyamanan pribadi kita terganggu? Apakah tidak seperti biasanya? 

Mungkin saja diri kita mulai lemah. Semangat kita tidak seperti dulu lagi. Ketangguhan kita mulai menipis. Sehingga mudah sekali hal-hal di luar kebiasaan dan kenyamanan sebagai masalah. 

Mungkin juga, benar adanya banyak masalah? Kalau memang iya, jadilah tangguh. Supaya tidak menjadi bagian masalah atau menambah masalah.

Cara mengatasi permasalahan tersebut, antara lain adalah:
Pertama, menyelesaiakan persoalan-persoalan yang ada. 
Kedua, menjadikan diri kita kuat dan tangguh.

Kalau cara pertama belum mampu, atasi berbagai permasalahan dengan cara yang kedua. Caranya dengan menjadi orang yang berilmu pengetahuan. Maka bacalah buku- buku pengetahuan. Perbanyaklah mengaji pada guru ngaji atau kyai yang benar keilmuannya. 

Ketika kita memiliki pengetahuan, maka kita akan tangguh dan dapat mengatasi berbagai persoalan dan sebaliknya bukan penyumbang persoalan. Tidak mudah marah dan termakan berita hoaks atau pun framing yang ada.


Selasa Sore, menunggu berbukašŸ˜€
28 Mei 2019
Moh. Zamzuri

Menunggu Kiprah Guru dengan Gairah Baru

Ala Pak Guru | 5/26/2019 07:07:00 am |
Banyak orang dapat bertahan dengan semangat dan motivasi yang tinggi dengan tugas-tugas yang sama meski terbilang lama. Tetapi, tidak sedikit yang mulai kendur dengan tugas-tugas yang sama. Zona nyaman dan berbagai persoalan dapat menjadi musababnya.

Kabar yang sangat membahagiakan di tengah banyaknya kekosongan guru,  akhirnya ada pengangkatan guru baru. Pembagian SK penempatan CPNS telah usai dilakukan. Penyebaran darah baru telah dimulai pemerintah.

Semuanya terbilang muda, tidak lebih 35 tahun usianya. Tentu dengan semangat membara untuk mengabdi di tempat-tempat baru. Ibaratnya darah baru bagi lembaga yang di tempatinya. Idealis dan semangat tinggi serta belum terpapar posisi wenak (zona aman) dan segala permasalahan.

Sebagai guru yang tugas utamanya mendidik, mengajar, dan memfasilitasi siswa akan berkembang dengan baik ketika di awal tugasnya diberikan dorongan dan motivasi yang baik pula. Memberikan ruang dan waktu seluas-luasnya untuk menumbuh kembangkan kemampuan tugas utamanya. Sebaliknya, jika salah memberikan dorongan dan motivasi pada tugas utamanya hanya akan mematikan potensi yang ada. Misalnya dengan tugas tambahan yang ada di luar tugas utamanya.

Meskipun tidak semuanya akan kendur, tapi akan kehilangan momen dengan segarnya darah baru, jika hanya untuk mengerjakan tugas tambahan. Bukan mengoptimumkan tugas utamanya yang dapat mendorong perbaikan mutu lembaga.

Disadari atau pun tidak, tugas tambahan bagi sebagian guru lebih menguras tenaga dan pikiran. Sehingga dapat menyebabkan terbengkelainya tugas utamanya. 

Berdasarkan ulasan di atas, maka guru baru lebih baik difokuskan pada pembelajaran sebagai tugas utamanya. Sehingga dapat mengejar ketertinggalan atau melompati lembaga lainnya.

Bojonegoro, 26 Mei 2019
Moh. Zamzuri

Brengengeng

Ala Pak Guru | 5/25/2019 09:32:00 pm |

Brengengeng
Pucuk-pucuk kangen
Suara binggunah terdengar idhar
Mestinya bayangan
Tampaknya gambaran

Menjadi Warganet Saleh Nun Cerdas (Bagian 2)

Ala Pak Guru | 5/21/2019 03:38:00 pm |
Akhir-akhir ini, dunia maya seperti penuh dengan informasi sampah. Dinding FB, WAG hampir tiap saat berisi informasi yang belum tentu kebenarannya. Banyak sekali berita hoax dan propaganda yang viral. 

Ada sebuah ungkapan yang tidak asing di dunia jurnalis adalah, "Bad news is good news."

Berita buruk adalah berita yang bagus. Maksudnya adalah dengan adanya berita buruk membuat lebih banyak orang yang tertarik untuk membaca. Keuntungan bagi pembuat berita dapat meningkatkan rating dan pendapatan. Maka tidak heran jika banyak berita buruk yang tersebar di dunia maya. Selain ada yang gemar memroduksinya, ada pula yang gemar membaginya. Jadi, setali tiga uang. 

Tidak disadari informasi yang bersifat negatif lebih menarik dibandingkan dengan informasi yang bersifat positif. Berita buruk dan hal-hal yang membahayakan justru lebih cepat direspon. Hal ini, karena bagian otak manusia yang merespon negatif lebih sensitif dibandingkan dengan bagian otak yang merespon positif.  Demikian inilah yang disebut dengan bias negatif.

Menurut teori Triune Brain, Paul D McLean seorang pakar neuroscients mengatakan bahwa otak manusia berevolusi melalui tiga fase: fase awal yang disebut juga dengan otak reptil (lizard), fase kedua yaitu otak limbik (perasan dan emosi) dan fase ketiga yaitu neocortex (kecerdasan). Dengan kata lain, manusia memiliki tiga otak, yaitu otak reptil, limbik, dan neocortex.  

Otak reptil manusia akan aktif ketika berbahaya atau terancam. Bekerjanya menyerang atau bertahan. Sangat mirip dengan perilaku binatang. Pada saat otak reptil aktif otak neocortex tidak aktif. Oleh karena itulah, secara insting manusia lebih memperhatikan berita atau kabar buruk. 

Ciri-ciri lain otak reptil adalah: persaingan, a moral, tidak beretika, tak kenal tata krama, mementingkan diri sendiri terutama tubuh (somatic or survival), rakus atau serakah, selfish, tidak perduli dengan lingkungan, tidak mengenal benar salah, teritoriality, tidak mau bertanggung jawab, menyalahkan orang lain.  

Bisa dibayangkan kalau terlalu banyak berita negatif memenuhi dunia maya. Kondisi sosial akan menjadi kacau. Kehidupan sosial jauh dari kata tenteram. Bahkan akhir-akhir ini kehidupan berbangsa terganggu.    

Maka, berhati-hati, cermat, dan tidak grasah-grusuh dalam berinternet itu penting.

Pernahkah menemukan informasi yang membuat salah paham? Konten hasil jiplakan, berita palsu, hoax. Kemudian ikut menelan mentah-mentah konten itu, memercayai, bahkan menerapkannya. Ketika informasi diserap dengan kesalahpamahaman maka yang terjadi  adalah disinformasi. 

Disinformasi memang sengaja dibuat untuk memanipulasi seseorang secara rasional. Akibatnya banyak yang percaya begitu saja. Konten-konten yang salah itu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahkan bisa menimbulkan fitnah. Bukankan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? 

Zaman dahulu, fitnah sebarannya satu kampung. Zaman digital, fitnah bisa keliling dunia. Siapa pun bisa membagi dengan cara sekali klikParahnya, akan menjadi jejak digital. Korbannya sudah lupa dan memaafkan pun jika dicari di google akan ketemu lagi.  

Jika mendapatkan berita tentang aib seseorang, lalu ikut menyebarluaskan, maka akan mendapatkan keburukan juga. Jika beritanya salah jadi fitnah, sedangkan jika berita benar akan menjadi gibah. Serba salah dan tidak ada baiknya.

Selain fitnah dan gibah, berinternet dan bermedsos juga bisa menimbulkan konflik sosial. Adanya informasi yang salah kaprah, jika dijadikan bahan perdebatan bisa jadi konflik sosial. Salah satu contohnya konflik sosial di Ambon. 

Nah, jika pernah mengalami perdebatan di medsos sebaiknya stop karena tiada guna. 

Apabila menemukan berita buruk, tetaplah tenang. Berikan respon dengan kepala dingin dan logika yang bersih. Sehingga tak salah langkah dalam mengambil keputusan berikutnya. 

Jadilah warganet yang saleh nun cerdas. Caranya berikan perhatian pada hal-hal yang bersifat positif. Apresiasilah berita-berita positif agar pikiran ternutrisi dengan seimbang. Jika pun mendapati berita buruk cukuplah berhenti dan tak perlu disebarkan. 

Sumber Bacaan:

Nur Hakim, Irfan.2018. Akhlak Nge-Medsos: Panduan Menjadi Netijen Shaleh. Tangerang Selatan: Yayasan Islam Cinta Indonesia

https://sbm.binus.ac.id/2017/02/01/mau-pilih-mana-perilaku-otak-reptil-atau-neocortex-part-3/


Menjadi Warganet Saleh Nun Cerdas (Bagian 1)

Ala Pak Guru | 5/18/2019 04:55:00 pm |
Saat ini, semua menjadi lebih mudah dengan adanya internet. Apalagi dengan adanya smartphone (gawai) yang sangat mendukung internet. Ingin tahu informasi apapun tinggal tanya pada si Mbah Google. Tidak tahu jalan bisa tanya si Maps. Ingin berbuka puasa sesuai selera, si Ojol sudah siap. Ingin jalan-jalan ke manapun tinggal klik dengan jari-jari. Dunia seakan di genggaman tangan. Rasanya bau surga ada di sekeliling kita, ya? Surga dunia.

Namun, internet tidak hanya menghadirkan sisi enak-enak saja. Ada positif pun banyak negatifnya. Kalau pengguna tidak bijak dan cerdas akibatnya bisa celaka dan penjara menanti. 

Baru-baru ini diberitakan di berbagai media, seseorang yang melakukan ujaran kebencian yang diunggah di media sosial (medsos) mengantarkannya masuk penjara. Kalau sudah dipenjara, siapa yang tidak menyesal? Terpisah dengan orang-orang yang dicintai dan bahkan ada yang gagal menikah. Tentu tidak hanya itu saja, akibat buruk dari internet misalnya: banyaknya penipuan, saling olok, dan masih banyak lagi kasus lainnya. 

Kehadiran gawai hendaknya diikuti dengan perilaku yang cerdas dan bijak. Gawai meskipun mungil, tiap detiknya membawa berbagai informasi yang sangat deras. Informasi yang sangat banyak ini ibarat banjir. Selain membawa hal-hal yang baik tentu membawa jutaan lumpur dan sampah informasi yang buruk, seperti hoax  dan propaganda.

Apa sih hoax itu?

Hoax itu informasi yang kebenarannya dipelintir oleh pembuatnya. Tujuannya menipu pembaca untuk percaya dengan informasinya.  

Apa pula propaganda?

Propaganda adalah informasi yang bertujuan untuk menggiring opini. Menampilkan informasi yang dipotong-potong menjadi tidak utuh. Sehingga informasinya membentuk kesan yang berbeda dengan faktanya.

Seringkali kita menerima informasi yang masuk lewat medsos seperti WA grup atau FB yang mengharukan dan menyentuh. Kemudian bawa perasaan (baper), lalu ikutan menyebarkannya. Tanpa saring sebelum sharing terlebih dahulu. Apakah informasinya benar atau hoax? 

Nah, agar tak terjerumus dengan hal demikian cobalah analisis terlebih dahulu. Setidaknya ada empat narasi yang biasa dipakai dalam penyebaran berita hoax ini. 

Pertama 

Teori konspirasi, pada model ini diasumsikan bahwa pada setiap kejadian atau kejanggalan yang tidak mampu dijelaskan, terdapat kekuatan-kekuatan besar dan jahat yang mampu memanipulasi sebuah kejadian atau menjadi dalang sebuah peristiwa, namun asumsi ini tidak memiliki penjelasan yang sistematis dan bukti yang lengkap. 

Narasi konspirasi memanfaatkan model logika tautologi. Narasinya menghubung- hubungkan satu penanda ke penanda lainnya tanpa memperhatikan korelasi kedua penanda. Selain itu, menggunakan argumen ad baculum, yaitu memanfaatkan ketakutan publik. 

Pada umumnya teori konspirasi menyangkut ketakutan publik dan penggerusan nilai-nilai publik tertentu. Misalnya: konspirasi zionis, freemason, illuminati, komunis internasional dan lain-lain.

Kedua

Mitos urban, pada model ini informasi yang ditampilkan serba hiperbolis yang memancing emosi. Emosi yang ditimbulkan bisa marah, benci, sedih, bahagia, terharu dan lainnya. Informasinya diramu sedemikian rupa. Misalnya baik menjadi terlalu baik, buruk menjadi terlalu buruk, terlalu menakjubkan atau bahkan tragis. 

Informasi seperti ini biasanya memanfaatkan mitologi urban, religi, atau tradisi yang seakan-akan muncul secara nyata di tengah masyarakat. 

Misalnya mengangkat mitos tentang anak durhaka yang dikutuk jadi ikan pari. Sehingga dapat menimbulkan rasa takut pada pembacanya. 

Ketiga

Model kontroversi, pada model ini biasanya sering digunakan untuk menarik perhatikan pembaca atau pemirsa. Informasinya dipotong sebagian atau dipelesetkan. Selain itu, pada model ini mengajak pembaca atau pemirsa untuk menautkan informasi yang satu dengan lainnya. Meskipun informasinya belum tentu ada hubungannya. 

Model kontroversi biasanya mengangkat isu besar yang dikaitkan dengan isu-isu kecil. Jika diperiksa secara teliti tidak ada kaitannya satu sama lainnya. 

Pada umumnya model ini dipakai untuk kampanye politik. Tujuannya untuk menjatuhkan lawan politiknya.  

Keempat    

Sumber tidak jelas, informasi yang ada ketika diperiksa tidak jelas sumbernya. Biasanya berasal situs-situs yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.  Misalnya website abal-abal, blog gratisan yang tidak mencantumkan nama penulis dan tanggalnya yang jelas. 

Nah, setelah memahami keempat narasi di atas, jadilah warganet yang saleh nun cerdas. Setidaknya melakukan saring terlebih dahulu sebelum sharing ke yang lainnya. 

Sumber bacaan:

Nur Hakim, Irfan.2018. Akhlak Nge-Medsos: Panduan Menjadi Netijen Shaleh. Tangerang Selatan: Yayasan Islam Cinta Indonesia

Hujan Rindu

Ala Pak Guru | 5/12/2019 06:17:00 am |
Ilustrasi dari http://www.islam.co

Rasanya tak mungkin sepagi ini menanyakan kabarmu

Hari masih terlalu pagi

Meski rindu tak mau peduli

Aku pejamkan mata untuk melepaskan

Namun merdu suara menembus telinga berrukuk-rukuk

Surah Arrahman yang terdengar berulang-ulang

Menggenangkan kembali akan kenangan pada hujan pagi

Ketika ibu menembus hujan berjalan ke pasar pinggiran

Ayah yang menyiapkan perapian untuk menunda nyanyian di rongga perut

Untuk menabur benih kesalehanmu

Kini keduanya tumbuh dalam budi dharmamu

Akarnya melesap jauh ke rongga dadamu

Dan, aku melukis keindahanmu dalam senyuman

Akang Azam Mei 2019

Tanggung Jawab Ala Gandhi

Ala Pak Guru | 5/09/2019 11:38:00 pm |
Suasana pagi hari di Sekolah Taman Budi Pekerti tampak berbeda. Kicau burung cendet bersahut-sahutan. Semilir angin sepoi-sepoi menambah sejuknya udara pagi. Warna warni bunga bougenville yang ada di taman sekolah membuat mata betah berlama-lama. Di sebelah kanan kiri taman terdapat flamboyan yang bermekaran. Di tengah-tengah taman terdapat kolam kecil dengan air yang jernih. Beberapa ikan emas dan cupang tampak kesana kemari, sesekali mulutnya keluar ke permukaan untuk bernapas. Di sudut kolam ada air terjun bergemericik. Di bawahnya terdapat sepasang patung meliwis putih tampak anggun seperti sedang menari.

Tahun ajaran baru, Sekolah Taman Budi Pekerti tampaknya ingin memberi nuansa yang berbeda. Dinding sekolah bercat hijau pupus tampak segar dipandang. Sudut-sudut kelas terdapat taman baca yang nyaman, lengkap dengan buku bacaan sesuai kelas. Meski bangunan lama, tampaknya gedung Sekolah Taman Budi Pekerti lebih bagus daripada gedung-gedung baru. 

Gandhi baru saja memasuki tempat kerja baru setelah sebelumnya dari sekolah lamanya. Ia baru saja menerima surat tugas untuk pindah ke Sekolah Taman Budi Pekerti. Rupanya Bapak Budi Kepala Sekolah Taman Budi Pekerti telah menunggunya di ruangan bersama guru-guru dan staf sekolah. 

"Silakan Pak Gandhi!" Pak Budi menyodorkan tangannya untuk memberi salam dan mempersilakan duduk. Semua guru dan staf berdiri mengikuti Pak Budi mengucapkan salam. Gandhi dengan tersenyum dan membungkukkan badan menjabat tangan Pak Budi dan guru-guru yang dari tadi menunggunya. 

"Baiklah, bapak/ibu guru dan staf Sekolah Taman Budi Pekerti hari ini kita kedatangan guru yang istimewa, cerdas, dan tentunya bijaksana. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bapak/ibu guru Sekolah Taman Budi Pekerti yang sudah lama mengabdi, kita sudah lama bersama-sama membangun sekolah yang mengedepankan akhlak dan budi pekerti. Purna sudah sekolah ini kedatangan guru yang istimewa. Untuk itu, marilah kita sambut kehadirannya dengan tangan terbuka dan senyum ceria," Pak Budi mengawali sambutannya. 

***
Pak Budi mengajak Pak Gandhi keliling sekolah dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Ketika memasuki ruang kelas 6 Pak Budi memperkenalkan kepada anak-anak. 

"Anak-anak, mulai hari ini kalian akan diajar oleh Pak Guru baru. Beliau baru saja ditugaskan di sekolah kita. Namanya Pak Gandhi. Akan lebih baik Pak Gandhi memperkenalkan diri pada anak-anak. Untuk itu, saya mohon pamit. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."

Tak lama kemudian, Andi siswa kelas 6 yang ngakunya paling keren di sekolah berpantun.

"Ada Kanguru berjalan melompat
Dari Australia ke Indonesia
Pak Guru jalannya lambat
Apa bisa mengajar kita

Geerrrr.....seluruh kelas sontak ramai. 

Gunung Semeru hampir meletus
Awan panas meluncur landai
Pak Guru kenapa merutus
Karena kita sudah pandai

Yes....yes....kita memang cerdas. Betulkan teman-teman?" 
"Yes....iya, dong." Kompak satu kelas menyahut pertanyaan Andi.

Pak Gandhi dengan tenang memberi salam. Lalu memuji anak-anak yang sangat kreatif dan sangat percaya diri. Pak Gandhi melanjutkan dengan memperkenalkan diri. Namun, belum selesai memperkenalkan diri anak-anak kelas 6 tampak sudah saling lempar kertas sesama temannya. Tak mempedulikan apa yang disampaikan oleh Pak Gandhi. 

Pak Gandhi lalu duduk sebentar dan mengambil kertas dibuat menyerupai bola. Kemudian berdiri di depan kelas dan memegangnya dengan jari jempol dan telunjuk. Sambil memandang mata anak-anak dengan tenang. Setelah beberapa saat mata anak-anak satu kelas tertuju pada bola dari kertas yang ada di tangan Pak Gandhi. 

"Anak-anak di bola kertas ini telah tertulis nama kalian, harapan kalian, kesenangan kalian, dan hal terhebat yang akan terjadi dalam hidup kalian. Kalian tahu, bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia ini telah ditulis garis kehidupannya sejak zaman azali. Namun, demikian ada yang bisa berubah jika manusia itu berusaha mencapainya dengan sunguh-sungguh. Oleh karena itu, perhatikanlah bola ini dan tangkap ketika saya lempar. Siapa pun yang menerima, sebutkan nama, lalu ungkapkan harapan, kesenangan, dan hal terhebat yang ingin kalian raih."

"Are you ready?" Pak Gandhi mencoba menyakinkan.

"Ready..." Satu kelas menjawab dengan kompak.  

"Satu...dua...tiga." Pak Gandhi menghitung lalu melempar bola kertas. Pak Gandhi sengaja melempar bola kertasnya yang pertama mendekati Andi. Dan, Andi benar-benar yang menerima bola kertas pertama. Andi lalu dengan percaya diri memperkenalkan diri, mengungkapkan harapan, kesenangan, dan hal terhebat yang ingin diraihnya. 

"Nama saya Andi. Lengkapnya Andi Wicaksono. Saya berharap memiliki guru yang tidak hanya hebat, tapi bisa menjadi sahabat, tidak suka marah-marah, suka merintah. Saya bercita-cita menjadi hakim karena saya ingin memberi keadilan pada sesama manusia."

Satu kelas memberikan tepuk tangan. Dan, Andi pun mengembalikan bola kepada Pak Gandhi. Pak Gandhi lalu menunjukkan kedua jempolnya kepada Andi sambil berkata, "Yes! Kamu pasti bisa meraihnya, Andi." Selanjutnya Pak Gandhi melempar hingga satu kelas menerima dan mengungkapkan harapannya. 

Sebelum menutup pelajaran pada hari pertama, Pak Gandhi menyampaikan kepada anak-anak agar besoknya membawa sebutir telur ayam dari rumah. Kemudian menutup pelajaran dengan salam.

***
Setelah anak-anak berdoa, Pak Gandhi memberi salam dan menanyakan kabar anak-anak. Senyumnya yang ramah, membuat anak-anak senang dengan Pak Gandhi guru barunya. Salman, ketua kelas menceritakan sebenarnya tahun pelajaran dulu anak-anak diajar guru yang hebat, namun entah kenapa gurunya mengundurkan diri. Lalu pindah ke kota mencari pekerjaan lain yang lebih mencukupi keluarganya. 

"Baiklah anak-anak," Pak Gandhi memulai membuka pelajaran. Siska memotong pembicaraan, "Maaf, Pak. Kemarin kita disuruh membawa sebutir telur. Semua sudah membawanya, Pak. Untuk apa sih, Pak?"

Pak Gandhi pun tersenyum. "Silakan telurnya dikeluarkan, ya!" Perintah, Pak Gandhi. Siapkan spidol hitamnya. Lalu telurnya kalian beri tanda tangan. Kemudian bergiliran bawa ke sini, akan saya tanda tangani juga."

Setelah semua telur ditanda tangani, Pak Gandhi mengatakan, "Jagalah telur itu, seminggu saja. Di dalam telur itu telah tertulis harapan kalian."

***

Seminggu kemudian, Pak Gandhi menanyakan kabar anak-anak dan telur-telur yang telah tertulis harapan anak-anak. Pak Gandhi, meminta anak-anak menuliskan cerita selama seminggu menjaga telur-telur itu. Setelah selesai, nanti kalian ceritakan di depan kelas secara bergiliran. 

Pak Gandhi mengambil selembar cerita yang ditulis anak-anak. Bismillah, mari baca bismillah bersama-sama. Pak Gandhi minta bantuan Andi untuk membacanya di depan kelas. 

Andi pun mulai bercerita sejak pertama menjaga telur itu, hingga hari-hari berikutnya dengan susah payah menjaganya agar tidak pecah. Suatu ketika, Andi bercerita kalau telurnya hampir dibuat dadar oleh ibunya. Untung saja Andi segera mengetahuinya. Sebelum tidur, ia melihatnya. Bangun tidur pertama kali yang dilihat juga telurnya. Bahkan Andi menceritakan pernah bermimpi sampai menangis telurnya jatuh, sampai terbangun sesenggukan. Untunglah setelah sadar ternyata hanya mimpi. Tanpa sadar saat bercerita matanya berkaca-kaca. 

"Baiklah anak-anakku yang bapak sayangi. Kalian semuanya anak-anak yang hebat. Luar biasa, dari kegiatan menjaga telur ini kalian telah belajar tanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kelak apa yang kalian cita-citakan akan dapat kalian raih, dengan catatan  kalian bertanggung jawab dengan yang kalian cita-citakan. Kalian harus menjaganya dengan semangat belajar dan belajar tanpa kenal lelah." Pesan Pak Gandhi pada anak-anak kelas 6. 


Akang Azam 09 Mei 2019
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...