Alapakguru: Menjadi Orang Tua, Pengasuh, dan Sahabat Anak yang Baik dan Cool

Menjadi Orang Tua, Pengasuh, dan Sahabat Anak yang Baik dan Cool

Ala Pak Guru | 9/20/2018 07:39:00 pm |
Foto Ilustrasi Alapakguru dan Anak
Menjadi orang tua yang sempurna tentu dambaan setiap ayah dan bunda. Meski belum mencapai kesempurnaan, setiap orang tua dapat belajar untuk mencapai kesempurnaan. Keberhasilan dan kesalahan yang terjadi merupakan proses pengalaman menjadi orang tua. 

Diakui atau tidak memang sulit sekali menjadi orang tua yang sempurna. Persoalan demi persoalanlah yang semakin menambah kematangan berpikir dan bertindak. Termasuk dalam pengasuhan terhadap anak. 

R. Rachmy Diana (2006:129-130) mengungkapkan  sebuah pendekatan pengasuhan anak yang dapat dijadikan rujukan bagi orang tua. Pendekatan tersebut disingkat RPM3 (Responding, Preventing, Monitoring, Mentoring, dan Modeling). 



Responding (menanggapi anak secara tepat)

Ketika mengasuh anak sering kali orang tua dihadapkan pada pemberian respon.  Ketika memberikan respon orang tua dihadapkan pada dua keyakinan, 1) orang tua hendaknya yakin sedang memberikan respon bukan reaksi dan; 2) orang tua yakin responnya tepat. 

Perbedaan merespon dan mereaksi adalah merespon berusaha mengambil waktu sejenak memikirkan yang sedang terjadi sebelum berbicara atau bertindak.  Sedangkan mereaksi adalah mengungkapkan kata-kata, perasaan, atau tindakan yang pertama kali muncul dalam benak, cenderung tidak memikirkan hasil yang dikehendaki dari sebuah kejadian atau tindakan, bahkan tidak memilik cara terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan. 

Respon dianggap tepat jika sesuai dengan situasi yang terjadi (usia dan data informasi yang tersedia). Agar respon yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan, dapat dideteksi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: 1) Apakah tindakan orang tua sesuai dengan ucapannya? 2) Apakah emosi orang tua terlibat dalam mengambil keputusan? 3) Apakah orang tua tahu alasan-alasan yang mendasari perilaku anak?

Preventing (mencegah munculnya perilaku beresiko atau bermasalah)

Sebuah ungkapan mencegah lebih baik dari pada mengobati. Melakukan pencegahan sebelum anak melakukan tindakan yang beresiko atau bermasalah menjadi pilihan yang lebih baik. 

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pencegahan mencakup dua hal: 1) memetakan permasalahan-permasalahan, melalui a) pelibatan diri secara aktif dalam kehidupan anak-anak, cara berpikir, dan kebiasaan-kebiasaannya sehingga orang tua lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak; b) menentukan batasan-batasan yang realistis dan memperkuat batasan tersebut secara konsisten, hal ini dapat diupayakan dengan membuat kesepakatan bersama; c) ajari anak mengekspresikan emosi secara sehat melalui contoh-contoh nyata. 2) mengajarkan cara memecahkan masalah, melalui a) berikan pengetahuan bahwa anak tidak sendirian; b) berikan pengetahuan bahwa masalah-masalah tertentu tidak dapat diselesaikan sendirian; c) berikan pengetahuan agar meminta bantuan jika membutuhkan. 

Monitoring (mengawasi interaksi anak dengan lingkungan sosialnya)

Orang tua yang baik hendaknya jadi pengawas yang baik pula. Seorang pengawas yang baik harus memiliki kemampuan menggabungkan bertanya dan memberi perhatian dengan membuat keputusan, menentukan batasan, dan mendorong anak mengambil keputusan positif secara mandiri. 

Selain itu, cara yang dapat dilakukan untuk menjadi pengawas yang baik adalah: 1) mengembangkan komunikasi dua arah secara jujur dan terbuka sejak dini; 2) menyampaikan kepada anak-anak tentang hal-hal yang berharga sertai alasannya; 3) mengetahui bahan tontonan, bacaan, mainan, dan yang didengarkan anak; 4) mengenali orang-orang atau teman-teman yang sering bersama anak; 5) memberikan arahan tanpa harus menjadi kaku.

Mentoring (mendukung dan menumbuhkan perilaku-perilaku yang dikehendaki) 

Anak-anak memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Sehingga mereka membutuhkan mentor kehidupannya. Orang tua adalah mentor terbaik bagi anak. Sebagai seorang mentor berarti memberi dukungan, bimbingan, persahabatan, dan penghargaan pada anak. 

Selain itu seorang mentor membantu anak-anak mencapai potensinya dengan cara mengembangkan kelebihan-kelebihannya, berikan pujian setiap keberhasilannya, mendengarkan setiap keluh kesahnya, dan menjadi teman baginya. 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua sebagai mentor adalah: 1) jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki; 2) hargai pendapat dan pemikiran anak tanpa perlu menghakimi; 3) dukung minat dan kelebihan anak-anak tanpa memaksa; 4) kenalkan anak-anak pada sesuatu yang orang tua sangat suka melakukannya. 

Modelling (menjadi contoh dan teladan yang baik)

Sebuah kata mutiara contoh selalu lebih mujarab daripada perintah. Anak-anak belajar lebih banyak dari contoh ucapan-ucapan dan tindakan yang dilakukan orang tua. Hal ini dikarenakan anak adalah peniru ulung. 

Sebagai orang tua jadilah model pertama yang ditiru anak-anak. Untuk itu tunjukkan contoh perilaku yang orang tua kehendaki pada anak. Selanjutnya yang perlu diketahui memberikan keteladanan butuh konsisntensi antara ucapan dan tindakan serta dilakukan secara istikamah.  

Sebagaimana telah diungkapkan di atas untuk mencapai kesempurnaan amatlah sulit. Demikian juga pendekatan ini hanyalah salah satu cara untuk mengasuh anak tentu masih belum sempurna. Usaha yang dilakukan terus menerus akan membuahkan hasil yang lebih dari yang dikira. Tetaplah menjadi orang tua yang cool eh bertangan dingin dalam mengasuh anak-anak yang baik.

Salam Alapakguru

Sumber bacaan: Rachmi Diana, R. 2006. Setiap Anak Cerdas! Setiap Anak Kreatif. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, Vol 3: Semarang
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...